Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 7 September 2016   00:33 WIB
Wajah Keriput, Nenekku

Tepat pukul 06.00 dini hari, nenek dengan sigap memerhatikanku yang berdiri berkacak pinggang di depan cermin. Aku hanya berdiri mematung dengan ekspresi wajah yang cemberut. Bau minyak kemiri di rambutku terasa sangat menyengat di hidungku. Tak bisa kutolak aksi nenekku.  Aku harus ke sekolah. Meski hatiku bercokol karena bau minyak kemiri itu,  aku memilih diam. Titah sang nenek tak bisa kuabaikan.

***

Panggil aku Delia.  Sebuah nama yang disematkan padaku sejak lahir. Tentu saja itu bukan nama pemberian Ayah Ibuku. Delia begitu nama sapaanku adalah nama pemberian dari nenekku. Aku memilki enam saudara termasuk diriku. Tiga saudara perempuan dan tiga saudara laki-laki. Cukup hebat bukan, kami berpasang-pasangan. Takdir memilihku menjadi anak bungsu. Karena dilahirkan dari keluarga sederhana, nenek memutuskan mengasuhku sejak kecil.

Orangtuaku tentu tidak keberatan. Jarak rumah nenek dan orangtuaku hanya terpisah satu  desa. Cukup mengendarai angkot umum kurang lebih lima belas menit untuk sampai ke rumah nenek. Itulah mengapa, aku lebih dekat dengan nenekku.

Namanya Aminah. cukup keren bukan? nama ini sangat bersejarah dalam Islam . Seperti nama ibu nabi Muhammad. Jika nenek menyebutkan semua nama-nama saudara dan kerabat dekatnya, hampir semuanya terdengar familiar dengan nama-nama orang dahulu. Ada juga saudara nenekku yang bernama Ibrahim,Ahmad,Siti, dan lain-lain.  Sangat berbeda saat aku pertama kali masuk sekolah di SD Pratiwi. Mereka yang sebaya denganku memiliki nama-nama unik. Bahkan ada satu siswa di kelasku bernama Adriano Cassanova. Mengucapkannya saja aku terbata-bata. Apalagi saat kuberitahukan nenek. Ia seperti mengucapkan mantra-mantra saat aku memintanya menyebut nama teman-temanku.

Kata nenek suatu hari,  kakek meninggal setelah enam tahun pernikahan mereka. Nenek pada saat itu sudah memiliki tiga anak yang masih kecil. Yang paling tua baru berusia dua tahun. Dialah mamaku. Saat kakek masih hidup, kebutuhan nenek masih bisa tercukupi. Saat itu masih sekitar tahun 70-an. Desa yang ditinggali cukup jauh dari kota. Penghasilan utama bagi warga saat itu adalah bertani. Tapi, suami nenek adalah seorang pedagang yang dagangannya selalu laku setiap hari. Sangat cukup penghasilannya untuk memenuhi kehidupan sehari-hari bahkan terbilang memiliki penghasilan di atas rata-rata.

Di masa muda, nenek mengabdikan hidupnya sebagai ibu rumah tangga setelah menikah. Tak ada tuntutan yang mengharuskan suaminya bekerja keras, Baginya, asal kebutuhan sehari-hari tercukupi dan bisa melihat anak-anaknya dalam keadaan sehat. Meski memiliki tiga anak, dua di antaranya laki-laki, nenekku yang masih muda kala itu sangat telaten. Itu terbukti bagaimana ia bisa merawat anak-anaknya tanpa bantuan dari orang lain. Terlebih lagi saat nenekku yang muda kala itu sedang mengandung.

Aku hanya diam terpaku mendengar cerita nenek di serambi rumah yang sangat menyukai nostalgia. Dan akulah satu-satunya pendengar nenek jika ingin bernostalgia, mengenang masa-masa mudanya. Aku yang masih SD saat itu terkadang menyergitkan dahi saat mendengar ceritanya. Ada yang bisa kucerna dan ada yang tidak. Namun, semuanya terekam rapi dalam memori ingatanku. Yang belakangan kutahu apa arti semua cerita nenek padaku saat aku beranjak dewasa.

Kebahagiaan nenek memiliki suami yang katanya romantis, terenggut begitu saja. Kabar bahwa kakek meninggal ditimpali pohon besar membuat sekujur tubuh nenek kaku seketika. Padahal ia sedang mengandung. Nenek hanya bisa menangis sejadi-jadinya di serambi rumah saat tetangga memberitahukan perihal kematian kakek.

Kata nenek, kejadian itu cepat berlalu secepat kilat. Baru kemarin rasanya ia mengecap manisnya berumah tangga, memiliki anak-anak yang lucu, belajar menjadi isteri yang bisa mengayomi suami serta memiliki harapan besar untuk kehidupan nak-anaknya kelak. Namun, secepat kilat peristiwa itu menyayat-nyayat perasaan nenek. Karena menikah muda, dan ditinggal suami yang terasa begitu cepat, mengharuskan nenek untuk tetap bertahan. Sumber harapannya memang telah pergi untuk selamanya, namun saat diambang putus asa, suara tangis anak-anaknya memecah kesunyian. Nenek bangkit kembali. Ia masih memiliki harapan baru. Harapan anak-anaknya.

Menyandang status sebagai janda dan memiliki tiga anak yang saat itu sedang mengandung tidak mudah bagi nenek. Ia berfikir keras bagaimana cara menghidupi anak-anaknya kelak. Sementara, harta peninggalan kakek tak cukup dipakai selama dua tahun. Belum lagi gosip-gosip yang harus ditanggung nenek karena status sosialnya sebagai janda. Semua itu, harus nenek pikul sendiri. Ia tidak mau merepotkan keluarganya apalagi mertuanya. Beruntunglah nenek memiliki sepupu yang saat itu dianggapnya sebagai adik. Hanya beda lima tahun dari nenek. Ia dengan senang hati membantu mengasuh anak-anak nenek jika ingin berdagang di pasar.

Begitulah pekerjaan nenek setelah ditinggal suaminya. Ia mengikuti jejak kakek yang selama ini menghidupi kebutuhan rumah tangganya dengan berdagang. Bedanya, nenek tidak bisa bertani. Dalam situasi seperti itu, insting nenek sebagai perempuan dalam mengelolah uang akhirnya muncul secara tiba-tiba. Awalnya memang berat, kata nenek. Tapi, demi anak-anaknya nenek tak pernah mengeluh. Ia harus kuat menghadapi itu semua. Meski tak seberapa.

Sampai sekarang pun, nenek masih suka rutin ke pasar untuk berdagang. Walau tak selincah dulu. Kata nenek, selagi ia masih kuat berjalan.  Nenek tak pernah lagi menikah setelah kematian kakek. Ada yang pernah melamarnya bahkan sampai tiga kali. Tapi nenek menolak secara baik-baik.

"nenek tidak berfikir untuk menikah lagi nak setelah kematian kakekmu. Bagi nenek menikah itu sekali. Jatuh cinta pun hanya sekali. Bagi nenek, kebahagiaan itu sudah cukup dengan melihat anak-anak nenek, termasuk ibumu. Dan tak ada yang bisa seperti kakekmu itu."

Bulir-bulir air mata nenek perlahan jatuh, menuruni wajahnya yang sudah mengeriput. Dan aku hanya bisa memandangnya. Ingin kuhapus bulir-bulir air mata itu. Sayangnya, aku hanya diam separuh mengerti apa yang diceritakan oleh nenek.

Begitulah setiap sore di serambi rumah. Nenek tak pernah berhenti bercerita. Kalau bukan mengenang kisah masa lalunya, nenek akan menasehatiku dengan kisah-kisah orang terdahulu, terkadang diselingi kisah para nabi.

Saat masih SD nenek tak pernah berhenti mengantarku ke sekolah. Jika bertepatan saat ia harus ke pasar berdagang, terpaksa aku bangun pagi dan tiba di sekolah pagi-pagi sekali. Bisa dibilang aku sangat manja dulu. Bukan hanya manja, tapi sejujurnya aku tak pernah bisa mandiri ke sekolah sendiri karena takut. Takut melewati rumah tetangga-tetangga yang memelihara anjing dan angsa yang pernah mengejarku.

Pernah aku membual tentang buaya saat nenek mengantarku ke sekolah.  Aku memberikan nenek teka-teki. Jika diberi pilihan untuk menembak induk buaya yang sedang mengandung, manakah yang akan duluan ditembak, induk buaya ataukah anak buaya yang masih dalam perutnya. Nenek hanya tertawa mendengar teka-tekiku. Gores-gores keriput di wajahnya sangat terlihat jelas saat nenek tertawa, maka akan kelihatan gigi-giginya yang sudah lepas satu per satu.

***

Sekelebat ingatanku melayang pada sepuluh tahun lalu.  Masa kanak-kanak yang dipenuhi gelak tawa renyah seorang perempuan tua yang sudah keriput. Masih di serambi rumah yang sama. Aku duduk di kursi yang sama. Bedanya, kursi ini sudah sangat tua. Kalau saja berat badanku di atas rata-rata, maka otomatis kursi ini akan patah. Aku menoleh ke samping.  Ku pandangi kursi kosong itu. Tempat dimana nenek sering duduk menceritakan masa mudanya dulu.

Ah cepat sekali waktu berlalu.  Bukan hanya nenek yang merasakan kehilangan kakek di masa mudanya, aku juga mengalami hal yang sama. Kehilangan. Kehilangan kasih seorang nenek di masa remajaku.

Kali ini, bukan bulir-bulir air mata nenek yang menjadi penutup cerita di sore hari. Kali ini, entah mengapa bulir-bulir air mataku jatuh mengenang nenek yang telah pergi. Bulir-bulir air mata yang menyentuh pipiku, jauh lebih deras dari bulir-bulir air mata nenek dahulu.

"Nek, maafkan aku. Aku tak setegar dirimu."

 

note: terima kasih sudah membacanya. maaf aku masih penulis pemula. saran dan kritik dari kakak-kakak akan sangat bermanfaat. selamat membaca :)

(07 SEPT_16)

Karya : Ainhy Edelweiss