Senyummu, Ayah

Ainhy Edelweiss
Karya Ainhy Edelweiss Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 September 2016
Senyummu,  Ayah

Aku tak tahu persis alasan kenapa Ayah tidak meninggalkan kampung halamannya seperti para ayah teman-temanku.   Aku hanya mengira-ngira jika Ayah betah tinggal di kampung dan lebih memilih bertani. Suatu hari kutanyakan kepada Ayah mengapa tidak ikut bersama para Ayah teman-temanku.  Ayah hanya mengusap ubun-ubunku, tersenyum lembut menatapku lamat-lamat.

"Nak, jika Ayah pergi, siapa yang akan mengurusi kebun?  dan jika Ayah ikut merantau,  siapa yang akan  memakai cangkul yang sudah tua itu?" lagi lagi Ayah hanya menjawab pertanyaanku dengan singkat. Tak pernah lebih dari tiga puluh kata.  Aku yang masih kanak-kanak belum mengerti apa maksud dibalik perkataan Ayah.

Di rumah, tak ada seorang Ibu. Jadi, Ayah memiliki profesi ganda.  Selain sebagai Ayah yang sibuk bertani,  Ayah juga sibuk mengurusiku termasuk makananku.

Tak ada gelak tawa renyah suara perempuan di rumah kami, sebab akulah satu-satunya anak laki-laki Ayah yang tunggal. Jangan tanya kemana Ibuku. Ayah yang  tadinya berwajah ceria akan berubah seketika jika mengenang ibuku yang sudah lama berpulang.

Meski begitu, aku tak pernah kekurangan kasih sayang.  Malah, aku sering merasa diperlakukan bak pangeran.  Seolah-olah aku ini adalah penerus tahta kerajaan satu-satunya di istana Ayah.

Setengah jam sebelum magrib, Ayah telah berpakaian rapi. Memakai sarung sutra dan  kopiahnya yang khas batik. Terkadang, Ayah memakai baju batiknya yang menurutku sudah lusuh dan tua, namun tetap bersih. Kadang juga Ayah memakai baju kotak-kotak lengan panjang kesukaannya. Biasanya aku meledek penampilan Ayah yang cenderung formal itu, padahal Ayah hanya mengajariku mengaji sebelum magrib tiba.

"Nak, mengaji itu adalah ibadah. Ibadah wajib bagi setiap umat muslim. Jika mengaji saja kamu tak bisa merapikan pakaianmu, bagaimana dengan hal-hal lain? jadilah anak yang baik nak. Tak perlu terlalu disiplin. Asal kau paham mana yang baik dan mana yang buruk."

Seperti  sebuah kultum, Ayah selalu menasehatiku lima menit sebelum mengaji dimulai.

Sebulan sekali, Ayah mengunjungi sanak keluarganya yang jauh. Kami mendatangi rumah tante, om, sepupu-sepupuku, hingga kakek dan nenek. Biasanya, Ayah membawakan beberapa hasil panennya jika memang ada untuk keluargaku. Jika tidak punya sayur-mayur atau buah-buahan hasil panen, maka tak segan-segan Ayahku membantu keluargaku yang sedang kesulitan. Apalagi jika itu menyangkut bidang yang disukainya. Bertani.

Ayah cukup dikenal sebagai petani yang handal. Aku tak tahu bagaimana cara Ayah membuat pupuk-pupuk alami yang sangat berguna untuk tumbuhan-tumbuhan di kebunnya. Ayah pun telaten memelihara hewan ternakannya. Kambing dan bebek.

Pernah aku menyuruh Ayah memelihara sapi saja agar penghasilannya banyak dan terlihat lebih keren, bahkan aku pernah ngotot meminta ayah memelihara kuda. Tapi, ayah hanya merespon dengan senyumnya yang selalu membuatku diam seribu bahasa. Tak heran jika kemampuan Ayah bertani dapat membantu petani-petani lain di desa kami.

Kata Ayah suatu ketika saat kami duduk di ladang, "hiduplah seperti merasa sehidup sesurga. Dimanapun kau berada nak, Ayah yakin kau akan selalu mengecap nikmatnya sebuah hidup."

"Apa maksudnya yah?" tanyaku pada Ayah dengan ekspresi wajah yang tak mengerti.

"Kelak, ketika kamu beranjak dewasa nak, kau akan paham apa maksud Ayah. Yang harus kamu lakukan saat ini adalah belajar dan belajar."

Lagi lagi, aku hanya diam seribu bahasa melihat senyum Ayah dalam keheningan.

"Ayah, aku menyayangimu, kau adalah surgaku." gumamku dalam hati.

(karya: Ainhy Edelweiss)


  • Kamilatus Saadah
    Kamilatus Saadah
    1 tahun yang lalu.
    Hmmm...ayah... Inspirasiku

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    keren, mba.
    salam buat ayah, ya. hehe

    • Lihat 11 Respon