TUKANG BECAK dan DOMPET MERAH MUDA Minni Mouse

Resa Irnano
Karya Resa Irnano Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 Juli 2016
TUKANG BECAK dan DOMPET MERAH MUDA Minni Mouse

Pagi itu kota Malang masih diselimuti kabut. Jam menunjukkan pukul 03.30 namun Pak Sudiono atau yang lebih akrab dipanggil Cak No sudah mengayuh becaknya menuju Pasar Besar Malang. Pasar memang sudah mulai ramai pada dini hari. Bapak dari 5 anak ini sudah 20 tahun menekuni profesi sebagai tukang becak di pasar. Cak No sebenarnya dulu pernah bekerja di Pabrik Gula Probolinggo, namun Cak No terkena pemberhentian karyawan karena Pabrik Gula Probolinggo mengalami resesi yang disebabkan minimnya permintaan dan tingginya biaya produksi. Namun kehidupan terus berlanjut, Cak No beralih profesi menjadi tukang becak yang memang merupakan mata pencaharian warga di kampungnya.

Sebagai tukang becak yang sudah lama, Cak no sangat lihai menawarkan jasa becaknya kepada orang-orang yang berbelanja di pasar. Kesopanan dan keramahan membuat becaknya selalu ramai penumpang hingga akhirnya memiliki langganan yang kebanyakan ibu-ibu. Dengan penuh semangat Cak No menggowes becaknya menuju tempat tinggal penumpang. Sampai waktu menunjukkan pukul 08.30 Cak No sudah mendapatkan 15 penumpang dan akhirnya memutuskan untuk beristirahat di Masjid Jami Malang yang berdekatan dengan Alun-alun. Beliau selalu membiasakan sholat dhuha sebagai pengganti istirahatnya. Dalam dhuhanya Ia selalu memohon kepada yang Maha Kuasa agar semua anaknya dapat sekolah sampai perguruan tinggi dan menjadi orang besar, tidak seperti dia yang hanya seorang tukang becak. Seusai dhuha dia menyisihkan sebagian uang hasil menarik becak ke dalam kotak amal yang ada di masjid tersebut. Dia percaya dan yakin bahwa uangnya tidak akan berkurang jiga diinfakkan.

Seusai dhuha ia melanjutkan perjalanannya menuju pasar, namun sesaat baru keluar pintu masjid Cak No menemukan dompet berwarna merah muda bertuliskan minni mouse. Karena ia merasa dompet tersebut bukan miliknya, akhirnya Cak No melaporkan ke petugas masjid, namun petugas masjid sedang tidak ada di tempat. Beliau mencari biodata pemilik yang barangkali ada di dalam dompet tersebut. Beliau merasa penasaran dengan isi yang ada dalam dompet tersebut. Dan ternyata isi dari dompet tersebut terdapat uang sejumlah dua ratus ribu rupiah, kartu mahasiswa, kartu debit, kartu identitas dan sebuah benda bertuliskan Kingston 16 Gb. Cak No melihat kartu identitas tersebut, namun beliau tidak bisa membaca karena buta huruf. Akhirnya Cak No membawa pulang semua barang temuannya tersebut dan menceritakan kepada istri dan akan-anaknya. Cak No menanamkan kejujuran kepada keluarganya, walaupun dengan keadaan berkecukupan tetap harus menjaga sifat yang satu itu. Namun untuk mengetahui siapa pemilik dompet tersebut, Cak No meminta anak sulungnya yang sudah kelas 2 SMA untuk membantu melihat dan membacakan kartu identitas pemilik dompet tersebut. Ternyata kartu identitas tersebut bertuliskan nama Auxilia Paramitha seorang mahasiswi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Brawijaya Malang semester akhir yang bertempat tinggal di Jln Pahlawan no 10, Kompleks Perumahan Ijen. Cak No sangat paham daerah Ijen yang merupakan kompleks perumahan elit di Malang. Cak No berniat mengembalikan dompet milik mahasiswi tersebut sore harinya.

Sementara itu Auxi sapaan akrab mahasiswi yang kehilangan dompet yang di dalamnya berisi flashdisk data hasil penelitiannya, masih gusar dan kebingunga. Ia pun bergumam “lek duite hilang sih ra po po, sing penting flashdisk-e ono”. Ia pun menceritakan hal ini kepada orang tuanya. Papa dan mamanya langsung meminta bantuan adiknya yang bernama Santoso yang merupakan seorang polisi untuk membantu menemukan barang yang hilang. Auxi pun menceritakan kronologis kehilangan dompetnya kepada Om Santoso dan teman-temannya dengan harapan dapat membantu mencari dan menemukannya. Teman-temannya pun membantu menempel kertas pengumuman kehilangan dompet di berbagai tempat di kampus. Sementara itu Auxi masih mengingat-ingat kejadian hilangnya dompet tersebut. Berawal dari kampus menuju ke pasar besar untuk mengantarkan adik kelasnya membeli bahan-bahan praktek. Lalu setelah menemukan bahan-bahan tersebut Auxi dan adik kelasnya pergi ke masjid untuk solat isya. Namun setelah solat isya, diluar terlihat hujan dan akhirnya Auxi mengambil payung yang tanpa tersadar sepertinya dompet tersebut ikut keluar dari tasnya. Sepertinya dompet tersebut terjatuh ketika masih di masjid. Akhirnya Auxi dan beberapa temannya menuju Masjid Jami Malang.

Auxi menemui marbot (pengurus) masjid dan menanyakan hal kehilangan dompet di sekitar masjid. Namun sayang, sang marbot tidak menemukan atau mendapatkan info tentang kehilangan dompet miliknya. Pencarian dari siang sampai sore pun berakhir nihil. Tak berapa lama dering ponsel berbunyi dari tasnya, ternyata panggilan dari ayahnya. Dalam percakapannya, ayahnya meminta Auxi untuk segera pulang, ada tamu istimewa yang ingin bertemu dengan dia di rumahnya. Auxi bingung, flashdisk penelitian belum juga ditemukan, dan sekarang harus segera pulang menemui tamu istimewa. Dia pun berpikir dan penasaran siapa tamu istimewa yang datang ke rumahnya tersebut, dan ada keperluan apa dia ingin bertemu Auxi.

Sesampainya di rumah, Auxi melihat papa dan mama nya akrab ngobrol dengan orang tak dikenal. Dia pun berpikir, apa itu orang istimewa yang dimaksudkan papa nya. Auxi mengucapkan salam ke papa dan mama nya, mereka yang ada di ruang tamu pun membalas salam dari Auxi. Lalu dikenalkanlah Auxi dengan Cak No, dan diceritakanlah siapa dan apa maksud kedatangan Cak No. Di awal Papa nya bercerita Cak No ini seorang tukang becak yang sudah lama sekali di daerah Pasar Besar Malang, beliau memiliki keluarga yang sangat bahagia dengan lima anak. Dan dari situ Papa nya berniat ingin memberikan beasiswa penuh untuk ke-lima anaknya. Auxi semakin bingung, apa istimewanya orang tersebut sampai-sampai Papa nya memberikan beasiswa untuk ke-lima anak dari tukang becak tersebut. Dan di akhir cerita, akhirnya Cak No membuka sebuah bungkusan dari kantong kresek hitam dan meminta Auxi untuk membukanya. Auxi kebingungan, untuk apa tukang becak tersebut memberikannya bungkusan tersebut. Tanpa beroikir panjang akhirnya Auxi membuka bungkusan tersebut, dan akhirnya Auxi pun terkejut karena isi dari bungkusan tersebut adalah dompet merah muda bertuliskan Minnie mouse miliknya yang hilang. Dia pun kembali memeriksan isinya, uang sejumlah dua ratus ribu pun masih utuh, kartu debit dan kredit masih ada, kartu identitas mahasiswa dan yang lain masih ada. Namun dia mencari yang lebih penting yakni flashdisk yang berisi hasil peneletiannya. Auxi kecewa karena benda terpentingnya tidak ada di dompet tersebut, dan mencoba menanyakan ke Cak No. Dan ketika menanyakan ke Cak No, Papa nya beraksi. Ternyata flashdisk tersebut sudah di tangan Papa nya. Suasana pun riuh riang di ruangan tersebut. Pantas lah Papa nya memberikan bea siswa kepada Cak No, karena isi dari dompetnya tidak kurang satu apapun. Sulit menemukan orang jujur seperti Cak No, walau dengan hidup berkecukupan Dia tetap menjaga sifat tersebut. Menurutnya, kejujuran adalah sesuatu yang sulit ditandingi dengan barang yang bernilai tinggi.   

  • view 141