Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Inspiratif 29 Oktober 2017   20:18 WIB
Urip Mung Mampir (Ngeteh) Pekalongan



            Lebaran plus satu hari kami bertandang ke kota Pekalongan, melalui jalan tol yang cukup sepi-gesit untuk melaju dan sejenak melenggang agak pelan buat alasan foto pemandangan, yang udah jadi agenda sesekali penghilang penat di perjalanan. Leganya ruas jalan dari arah timur ke barat membuat kami menjajal Tol baru yang cukup untuk jadi jalan pribadi sementara, melihat disisi kanan arah jalan dari barat ke timur sudah seperti antrian semut baja berjajar tak ada ampun untuk  sela-sela sedikit pun, nyabar nang dalan bakal jembar nang ati rasanya kayak dingin-dingin gitu kalo disabari tenan, greget.

            Keberangkatan kami, sodara berdelapan membawa misi kerinduan-sedih, kakak saya yang kedua mengalami pendarahan otak untuk kedua kalinya disaat lima hari sebelum lebaran. Berita ini membuat keluarga besar di Solo sangat sedih terlebih sesepuh yaitu ibu. Faktor apa pun yang menyebabkan terjadinya sakit yang tak terduga terulang kembali sudah jadi bahan basi yang diangetin lagi kalo udah terjadi dan itu jadi bahan yang diulang-ulang untuk sekedar mawas diri nantinya, ya sudah qodarullah harus begini jalan hidup, sekarang proses kesembuhan yang utamanya.

            Penyakit ini jadi riwayat dikeluarga kami, karena kakak pertama saya pun mengalaminya hingga bertahun-tahun membatasi ruang aktifitasnya, satu yang jadi pelajaran bagi saya di sela-sela menunggu di kamar garuda tempat kakak kedua saya di rawat inap, teringat kakak pertama yang dulu masih sugeng, hal yang membuat saya tak bisa memarahinya ketika keadaan mood yang gak baik adalah ketangguhan untuk sholat lima waktu di masjid, dengan keadaan sisi tubuh sebelah kiri sudah hilang fungsi pergerakannya, melangkah pun harus di seret. Jarak masjid dari rumah 200 ratusan meter kira-kira, kesulitan di jalan karena ada polisi tidur dan tangga untuk menuju serambi masjid ia sabari setiap harinya demi menjaga sholat lima waktu dengan utuh. Setiap kali alat bantu jalan sepertin kursi roda dan tongkat selalu ia tolak, hanya menggunakan payung untuk bertumpu, dengan alasan lebih berasa nikmat untuk melangkah ke masjid dan akhir hidupnya tak mengeluh pada kami, malahan yang mengeluh kami yang waras untuk merawatnya gantian. Sejenak saya berpikir dengan keadaan yang seperti itu nikmat yang ia rasakan untuk beribadah pada Rabbnya sungguh membuat iri saya, ketika seorang diuji dengan keadaan seperti itu masih menjaga ibadahnya dan sungguh Allah ingin memulangkannya dalam keadaan sebaik-baiknya. Dihabiskan seluruh dosa-dosanya yang telah dilakukan sebagai ganti sakit yang ia derita dan pulang hanya dengan amal kebaikan, mengiris-iris rasanya.

            Sakit memang pangkal dari seluruh tubuh harus tunduk pada pemberi amanah, tak ayal sebagai media pendekatan kepada PenciptaNya. Karena sesuatu yang hidup pasti mati. Seperti halnya pepatah urip mung mampir ngombe, alias sangat singkat perjalanan dunia ini. Sakit adalah salah satu cara untuk mengembalikan manusia sesuai fitrahnya saat dilahirkan dulu. Saat itulah baru pertama kalinya saya nyruput teh kemasan instan asli pekalongan di kamar kakak saya di rawat, kenikmatan the itu hanya beberapa tergukan saja, bahkan saya tak sepenuhnya merasakan nikmatnya the dengan aroma yang cukup khas ini, beda dari the kemasan instan pada umumnya. Sesingkat itulah perjalanan kami, sesingkat itulah kenikmatan ngeteh dan sesingkat itu pula kehidupan di dunia ini, kelak sesingkat itu akan banyak sekali penghambat untuk menuju hidup yang kekal.

Karya : Ain Asshidiqy