Kemacetan Tegal Gendu : Sesaat Setelah Kabar Tunanganmu

Aina Masrurin
Karya Aina Masrurin Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 Agustus 2017
Kemacetan Tegal Gendu : Sesaat Setelah Kabar Tunanganmu

Kanda sudah tahu “Tegal Gendu”?,

‘Belum dik’, jawabnya. Ndaku…. Tegal Gendu itu sebutan sejenis jalan yang berada dikawasan Kotagede, dekat dengan Jl. Pramuka, selain ada Pamela, dua Indomart, yang hampir berjajar disepanjang perempatan tersebut juga berrderet tukang bakul jamu, sayur,es­-pe, angkringan 24 jam, nasi goreng, bubur-salafy (kusebut demikian karena penjualnya selalu bercadar), servis jam, servis hp, toko oleh-oleh, warnet “terMaha-Syurga” buat penggemar film-film mancanegara, took sandal, tas, dan bakul putu ayu (didesaku disebut bakul ngik-ngik karena muncul suara demikian saat jajanan itu dimasak). Tak ketinggalan juga ada Masjid kenamaan yang menjadi pusat peribadatan dibalik carut marutnya jalanan tegal gendu karena pembangunan saluran air lengkap dengan mas-mas ta’mir tamfan membuat tahan berlama-lama dzikiran meski kadang hanya bertemu lewat suara ia adzan. 

Betapa Maha dasyatnya riuh kegiatan di perempatan ini, pukul 4 sore atau 7 pagi adalah puncak dimana syurgawi perasaan harus dibentangkan sepanjang jalan kenangan. Setidaknya adikmu ini pernah terjebak romantisme kemacetan yang kata orang satu atap saya “ulala beibeh unch unch” (masih dengan ekspresi nahan muntah).  Sabar adalah buah yang dapat dipetik jika kita tahan kanda, marah adalah duri yang diperoleh jika kita gegabah. Montor, sepedah, mobil, bakul cilok, bakul sosis, bakul sayur. Semua ingin jalan duluan dan segera sampai tujuan. Agaknya lampu apil (abang-ijo-kuning) terpasangpun dilalaikan karena sudah diburu setoran.  Rasanya ingin adikmu ini segera masuk indomart mendinginkan hati yang berjibaku menahan sepi. Tapi daya apa yang aku punya nda? (misek-misek)

Aku hanya menunggu giliran maju, walaupun setengah sampai satu metersaja,  sampai –sampai aku menghibur diri telah ditemanimu dalam macetnya jalan. Duh senenganku! Eh ndilalah kersaneAllah, tidak disangka-sangka kok ketemu (ming dalam baying semu).

Kanda… kehidupanku di masa lalu dan sekarang hanyalah tentang menunggu, menunggu tentang kabar baik kapan sebenarnya kita bertemu. Aku sunggub tidak sabar-an (padahal dipaksa sabar tenanan) menunggu waktu-waktu melihat sosokmu saat pertama kali melek-merem, saat kamulah satu-satunya orang yang akan menerima limpah ruah kasih-sayang, limpah ruah anyel ra ketulungan, kekesalan, kesedihan, bahkan kerinduan yang menyesakkan.

Aku tidak terlalu menyakini kalau-kalau menunggumu itu sama paitnya terjebak dalam kenangan masa lalu, sama jengkel­-nya terjebak kemacetan, sama membosankanya menunggu lamaran (--eh). Tapi lebih dari itu semua, aku belajar sebuah kata paling eksotis yang hanya manis di lidah tapi pait di lakoni, “Sabar”. Sejatinya sabarlah yang mendewasakan perangai kesusu,kemrungsungku, keinginan untuk sesegera mungkin memilikimu, keinginan untuk menjadi wanita satu-satunya yang kau rindu (aku tidak bisa menolak jika wanita itu ibu-mu). Ku akui untuk sekedar tidak memikirkanmu saja aku harus ‘gila kerja’  apapun aku kerjakan asal bukan mencuri hati lelaki lain. (heuheu emang ono? #mikir). Tapi tetap saja balasan kesabaran itu ku bilang abstrak bak minum coklat saat pilek (gak ada rasanya). Kenapa sih nda Tuhan –Mu ndak langung membalas?, bagiku cukup kamu saja yang tanpa balas. Tuhan Jangan!

Dik ku…..

Apapun yang kau sebut dengan ‘rindu’,itu adalah buah kesabaran kasih-sayang, Sabarlah untuk tidak jatuh cinta dulu dik, kenangan dan masa depan selalu menjadi penjara bagi perasaan. Bebaslah mencintai apapun, siapapun, dimanapun tanpa lekang oleh jalan kebaikan. Bahkan seekor kutu-pun harus kau kasihi-sayang, setidaknya berbagi kehidupan untuk tidak saling membunuh. Sudah kukatakan jika kau tak ingin terjebak kemacetan yang ada diperasaanmu, lepaskan, lepaskan, dan ikhlaskan. Hanya milik orang-orang yang bersabar dan ikhlaslah kebahagiaan. (Senyum dikit to dik!)  

                                                                        6 Agustus 2017

                                                Al-Faruq Nurma disenja sore Ahad yang menggoda

  • view 49