Kanda, Kotagede Selalu Mendung Tanpa "Hore-Hokya"mu

Aina Masrurin
Karya Aina Masrurin Kategori Renungan
dipublikasikan 03 Agustus 2017
Kanda, Kotagede Selalu Mendung Tanpa

Sejak kapan term “hokya-hokya” berkonotasi buruk, jelek? gumamku. Tiba-tiba sontak teringat lagu ndx axa  judul e kimcil hokya-hokya, tapi aku cuek lo nda. Bagiku hokya-hokya mengandung syarat kegembiraan, kebersamaan, dan kebebasan. Apa iya seperti itu to dik?

Begini nda, diantara ratusan grup Wastappku ada salah satu grup paling rame, kece baday, puting beliung, tsunami, guyub, rukun tentrem lan tinoto (kok kyok slogan kutomu ta dik?)  namanya Jatim Hore-hokya, kurang kece bagaimana coba  berisi kurang lebih 33 manusia biadab yang selalu taat namun tidak memenuhi syarat dipinang mantu ibuk nda…  kami ini berasal dari macam-macam kota ada malang, blitar, lamongan, madiun, Kediri, banyuwangi, lan sak piturute. Loh dik? Kutomu kok gak disebut. Alhamdullillah biar tidak dibilang riya’ (sambil nyengir) lah dalah sejak kapan orang pamer itu terang-terang-an kayak kamu ini dik. Maktratap (brebes mili)

Kami ini meskipun berasal dari satu atap yang sama namun beda bapak. Buktinya juga tetap akur-akur saja. Aku ini lagi sentiment  nda sama orang-orang satu atap yang selalu memperkeruh suasana hati ( padahal  sudah jelas-jelas hati kayak blecekan itu hanya bisa jernih kalau ada banjir, dan tsunami numpang lewat) yang suka bilang “ bapaku luweh kece tinimbang bapakmu karo nyinyir unch unch ulala beibeh”  dengar saja nahan muntah. Bayangkan to nda adikmu ini sampai-sampai dijuluki wong pinggiran (marginal) gegara kesrempet omongan, ketatap postingan, kedaduk guyonan sama orang-orang sejenis itu dan berefek gagal naik pangkat, apalagi dapat gaji banyak. (Mbrabak )

Sebentar to dik….(sinambi ngusapke eluh)

Nda …  syukur teramat dalam ada benteng yang namanya kebersamaan, kegembiraan yang selalu dipacu di grup hore-hokya selain hanya sebatas obrolan ala-ala keluarga cemara, yang menentramkan meski tidak jarang menjengkelkan meski kadang cuma planing ngajak ngopi lan dolan, tapi  memenuhi syarat kebahagiaan yang tidak mengikat.

ndaku seorang….Kebahagiaan itu tentang kebebasan memilih, memilih kembali ke-kejayanya masa lalu, atau terpuruk dimasa depan, kebahagian itu tentang saling memahami meski terbatas lewat mimpi, kebahagiaan itu semacam “tempe ndalem” yang sama-sama kita nikmati saat asap masih mengepul perut kroncongan. Ada satu dari banyak orang berfikir bebas adalah pilihan, bebas tanpa syarat dengan tetap mengindahkan sejarah, memperkokoh rumah yang beratap kesetiaan, berjendela masa depan, berpagar kemesraan. Rasanya waktu dimasa depan itu “bruet” persis seperti layar tv hitam putih dirumah dengan merk mitsubisi (tv merk mobil, jan ..) bagaimana tidak, kita yang ditakdirkan hidup dimasa kini, selalu terpenjara kenangan masa lalu.

Kanda….masa lalu boleh saja indah tapi konteks kebenciaan yang dibangun salah (menurutku). Yang ada sekarang ini adalah bagian  anugerah pemilik alam, yang ada dimasa depan juga, tapi masa lalu dihadiahkan sebagai cerita indah di masa kini dan masa depan  alih-alih tidak untuk menumbuhkan saling membeci lengkap dengan sederet caci-maki. Hatiku selalu diliputi sendu ketika teringat kejadian yang belum ada setahun lalu nda, walaupun begitu selalu kunikmati desiran angin tengah malam satu atap dengan mereka. Selalu kuaminkan kebaikan-kebaikan yang dilimpahkan orang-orang dirumah itu. Aku memilih bebas untuk bahagia bak melepas mantan yang berkeinginan meminang teman kita dengan segera.

(Semua rasa sakit dan benci mari kita lebur bersama  sinambi leyeh-leyeh mendengarkan ndx axa dengan gaung  merdunya, tanpa melupakan sekejapun hore-hokya). Yuk bahagia!

Yogya, 3 Agustus 2017

  • view 69