Pendekatan Maqashidi Untuk Memahami Al-Quran di Konteks Kontemporer Prof. Jasser

Aina Masrurin
Karya Aina Masrurin Kategori Lainnya
dipublikasikan 15 Maret 2017
Pendekatan Maqashidi Untuk Memahami Al-Quran di Konteks Kontemporer Prof. Jasser

ALHAMDULILLAH …DSt

Sholawat ..dst

Saya akan berbicara dalam bahasa inggris, karena saya diberitahu bahwa sebagian besar anda pandai berbahasa inggris ketimbang bahasa arab.

Apa yang kita bakal membicarakannya di sini adalah bagaimna tafsir quran dapat ditafsirkan secara makasidi. Akan tetapi, perlu kita bicara lebih dahulu tentang kedudukan bahasa arab dalam perkara ini.

Walaupun saya bicara inggris, perancis, akan tetapi bahasa arab, paling tidak konsep arab (bukan obrolan arab) sangat krusial bagi tafsir quran, kalau bukan demikian berarti kita akan berbicara tentang agama yang lain.

Banyak yang bertanya apakah perbedaan antara makasid quran dan makasid syariah. Jawaban saya: makasid syariah adalah makasid quran. Makasid syariah seharusnya menyesuaikan diri dengan makasid quran. Akan tetapi, dalam sejarah fikih kita terdapat versi-versi tertentu dan terbatas dari maksid syariah itu.

Sejak awal turunnya quran, quran berhasil merubah sejarah dunia. Maka sejak kecil, pencapaian yang paling saya banggakan dalam kehidupan saya adalah menghafal quran. Saya belajar banyak, dapat 2 doktor, menjadi profesor, tetapi semuanya itu terlihat kurang relevan bagi islam ketimbang menfhafal dan memahami quran.

Seharusnya quran yang menjadi sumber penggalian makasid syariah.

Tanpa quran, orang islam, dan manusia pada umumnya akan sesat dari tujuan-tujuan leluhurnya.

Pada awal penciptaan adam, Allah SWT telah mengajarkan adam sejumlah konsep (al-asmaa). Nama-nama dan konsep-konsep itu menjadi bahan bagi penggalian makasid juga.

Berkaitan dengan ide sentralitas quran ini dalam penggalian makasid, seperti keadilan misalnya, perlu kita menyadari cara unik quran dalam mengekspresikan keadilan. Tiada surah atau halaman yang namanya surah keadilan, akan tetapi, quran mengajarkan kita mengenai keadilan melalui kisah, melalui carita hari kiamat, melalui metafora, dan melalu kaidah hukum.

Membatasi diri dalam penggalian makasid pada pembelajran ayat-ayat ahkam akan mengakibatkan konsep yang kurang legnkap mengenai keadilan. Kita perlu membaca quran secara menyeluruh.

Dalam rangka ini, perlu kita juga bedakan antara konsep keadilan menurut quran dan konsep keadilan dalam fikih maupun dalam literatur kontemporer (pluralitas dan HAM). Dalam rangka ini, kita perlu mengoreksi arah pembelajaran kita, apakah kita akan mengajarkan quran ataukah kita belajar dari quran, kita perlu memulai dari quran.

Berkaitan dengan hal ini adalah pembacaan kita terhadap warisan fikih dalam kajian makasid. Misalnya, maksud “pelestarian nyawa”, pada fikih lama, dibatasi pada nyawa manusia, akan tetapi, kini kita dapat perluas konsep itu untuk meliputi “eko-sistem” termasuk hewan dan tumbuh2an. Ketika kita melakukan itu, bukan berdasarkan konsep kontemporer mengenai pelestarian lingkungan, tetapi berdasarkan konsep qurani yang menyelurh, yang menyebutkan (tapi bukan pada ayat ahkam) bahwa hewan-hewan itu adalah ummah2 seperti manusia, dan hadis-hadis nabi mengenai dilaknatinya orang yang membabat pohon tanpa hak.

Walhasil, quran perlu diberikan tempat yang sentral dalam kajian makasid.

Misal yang lain, “pelestarian keturunan”. Dalam fikih lama, yang diangkat selalu adalah “meyakini kesahihan hubungan darah antara seorang ayah dan anaknya”. Akan tetapi, kini banyak masalah keluarga yang melangkahi perhatian itu. Masalah-masalah itu, sebenarnya, sudah digambarkan oleh quran sejak awal, tetapi bukan pada ayat ahkam saja, dalam ayat-ayat yang menjelaskan bagaimana nilai-nilai pokok yang seharusnya memerintahkan keluarga. Berdasarkan nilai-nilai inilah kita dapat mengembangkan rencana dan aturan baru bagi keluarga, sehingga dapat menjangkuau dan menjawab persoalan2 kontemporer, tanpa terjatuh pada meminjam secara buta dari ideologi lain.

Suatu misal lain tentang bagaimana makasid syariah itu, sebenarnya, adalah makasid quran, adalah misal mengenai pelestarian agama. Islam memiliki gambaran yang jelas mengenai kebebasan kehendak, termasuk kehendak memilih agama. Akan tetapi, ketika kita mendasari tafsir kita pada doktrin HAM, akan kita terjatuh pada adopsi tidak langsung dari pada doktirn politik internasional yang menerbitkan HAM.

Ketika kita hendak menghadapi persoalan HAM, maka kita perlu bertolak dari pandangan yang menyeluruh terhadap quran (bukan ayat ahkam saja), dan akan kita dapati sistem nilai dan makasid yang sangat cukup untuk menghadapi persoalan itu.

Ketika saya dimintai pendapat oleh pemerintah kanada dalam menyusun undang-undang hak perkawinan, banyak ajakan untuk meredefinisi ulang “keluarga”, atas nama HAM, pada hal, dalam quran, sudah ada definisi yang jelas terhadap keluarga. Definisi itu tidak boleh dilangkahi, sekalipun atas nama makasid atau atas nama HAM. Hukum, jika menyalahi quran, maka hukum itu tidak pantas diterapkan.

Poin lain yang masih berkaitan dengan “penjernihan konseptual” terhadap konsep makasid, adalah sejauh mana makasid itu berkaitan dengan hukum-hukum detail dalam syariah? Apakah kita berhak merubah hukum-hukum itu atas nama makasid? Jawabannya tidak! Ahkam (hukum-hukum detail) adalah bagian tak terpisahkan dari maksid.

Misalnya, riba, yang berarti penambahan uang tanpa usaha dengan jalur meminjamkannya ke orang lain. Kini, sistem keuangan dunia didasari riba, apakah hal ini akan memaksa kita untuk menghalalkannya atas nama maslahat atau makasid? Menambah uang secara begini, lama-kelamaan akan menambah beban orang yang tidak berkecukupan dan makin memperkaya orang-orang yang sudah kaya. Kini, 10% dari masyarakat dunia memiliki 90% dari sumber daya, akibat dari sistem riba itu. Sistem seperti ini melawan makasid quran, seperti maksud “melarang uang menjadi berputar antara orang kaya saja”. Ketika kita ngobrol tentang “pelestarian harta” maka perlu menghadirkan “pelarangan riba”, “pengambilan zakat”, … dsb. Jangan sampai kita merancang sistem ekonomi kita dengan maksud ‘berkonsiliasi dengan kapitalisme’ atas nama maslahat atau makasid. Tidak mungkin kita bangun sistem ekonomi islam dengan membuat bank islam, yang dilengkapi fasilitas musholla dan diberi nama yang keren, tetapi, yang penting adalah menjamin bahwa peran bank itu sesuai dengan makasid quran dan makasid islam secara ekonomi. Bank islam harus memenuhi makasid quran seperti membantu orang miskin, membangun masyarakat muslim.

Sama dengan itu, partai islam, bukan dengan namanya yang beraroma islam, tetapi mengenai mencapai maksud keadilan dalam dunia politik. Maksud partai islam juga untuk menghindari praktek tirani (dektator) seperti prakte fir’aun.

Jadi, masih dalam rangka penjernihan konsep makasid, makasid bukanlah barang baru, yang terobsesi oleh adaptasi dengan realitas, sekalipun atas biaya quran.

Kita perlu kembali kepada quran, bacalah quran sebagai seniman, sebagai dokter, sebagai insinyur. Dalam waktu yang sama, ketahuilah bahwa para fakih lama, maupun sekarang, kurang berkualifikasi untuk mengungkapkan rahasia quran secara keseluruhan.

Jadi,, apa yang saya bicarakan selama ini tentang “apakah makasid” dan “peran quran dalam menentukan makasid” berhubung kita bicara tentang tafsir quran.

Sekarng, marilah kita pindah ke poin berikutnya, yaitu bagaimana mendekati quran secara makasidi?

Izinkan saya terlebih dahulu untuk menjelaskan beberapa pendekatan yang keliru dalam mendekati quran yang wajib kita hindari apabila kita hendak menafsrikannya secara makasidi.

  • Pendekatan parsialis: jangan sampai kita menentukan arti quran atau penarikan sebuah maksud dari quran berdasarkan satu ayat saja.
  • Pendekatan dekonstruksi: adalah pendekatan yang mengasumsikan bahwa quran itu adalah produk budaya yang kuasanya terbatas pada waktu dibacakan oleh nabi. Kita perlu membedakan antara quran dan tafsirnya dalam rangka ini. Tafsir adalah obyek yang sah untuk didekonstruksi, akan tetapi, quran…tidak.

Saya berulang kali telah menuliskan kritik saya atas kaum muslim posmodern yang berusaha untuk mendekonstruksi quran, mereka yang meniru filosof barat (perancis dan jerman) dalam memisahkan antara penanda dan obyek dalam bahasa. Mereka terlihat sangat relativis. Semuanya itu akan mengantarkan kita kepada kehampaan makna. Ketika kita membicarakan filosof perancis ternama Foucault (lafalnya), bagaimana dia menafikan wujudnya hakikat, dan mengasumsikan bahwa pengetahuan kita itu adalah permainan kuasa dan kekuatan semata.

Sejarah keilmuan membuktikan bahwa ilmu pengetahuan itu secara umum adalah hal yang reltif (berbeda dengan quran). Sehingga, logika Foucault itu berlaku pada ilmu pengetahuan yang dilahirkan oleh manusia. Sedangkan pengetahuan yang dibawa Quran adalah pengetahuan yang mutlak. Juga, filosof-filosof barat itu, pada umumnya, mengutarakan ide-ide mereka yang adalah obyek yang sah dari kritik. Maka, quran bukan obyek dekonstruksi, tetapi, pemikiran manusia yang berkaitan dengannyalah yang perlu kita dekonstruksi. Dalam rangka ini terdapat pendekatan yang wajib kita hindari juga, yaitu pendekatan literal (yang merupakan lawan dari pendekatan dekonstruksi).

  • Pendekatan ke tiga yang wajib kita hindari ketika kita menafsrikan quran adalah pendekatan “holistik” saja, sebuah pendekatan yang mengesampingkan detail dan hanya membatasi diri pada penarikan kesimpulan mengenai nilai-nilai inti quran tanpa mementingkan detail. Pada hal detail juga membawa makasid yang perlu kita gali.

Hukum wilayat ghari almuslim??

Saya tidak memiliki informasi yagn cukup. Tetapi saya merasa nuansa politik yang kental sekali yang meliputi perkara ini. Maka saya, mohon maaf, tidak akan menjawabnya.

هل لديكم مفهوم عن الناسخ والمنسوخ، وحول أحكام العقوبات فيما يتعلق بغير البالغين

Saya ada buku judulnya “نقد نظرية النسخ”, kritik teori nasakh. Intinya bahwa tiada mansukh dalam quran, semuanya memiliki maksud dan makna. Arti nasakh dalam quran adalah quran telah menasakhkan buku-buku sebelumnya.

Menyangkut hukum pidana bagi orang di bawah umur, maka perlu diketahui bahwa pidana hanya berlaku bagi orang yang memiliki ‘kepatutan’ hukum, ‘layak hukum’ yang memiliki persyaratan taklif, yaitu sudah akil baligh. Boleh juga kita berdebat mengenai konsep ‘mukallaf’ apakah dia terbatas pada definisi biologis saja atau tidak, ini perdebatan dalam fikih yang sah-sah saja.

لا يمكن الفصل بين القراءة القرآنية والمفسر، كيف يمكن حل هذه المعضلة؟

Benar bahwa quran tidak berbicara langsung mengenai tafsirnya, dan bahwa orang akan mewarnai tafsirnya dengan latar belakangnya, akan tetapi, tidak semua warna itu juga dapat dibenarkan. Banyak pembacaan yang bersifat justifikatif, dan ini adalah suatu pendekatan yang wajib juga kita hindari (yang saya belum menjelaskannya karena waktu). Ketika kita sudah diyakini oleh ideologi tertentu, kemudian kita mencari-cari dari quran agar membenarkan ideologi kita itu. Padahal, quran akan menyetujui sebagian dan menentang sebagian dari ideologi itu.

 

هل يمكنكم إعطاء خطوات تفصيلية (منهجية) لاستخراج المقاصد؟

وماذا عن علاقة غير المسلم بالقرآن، هل تعوقنا مقاصد الشريعة بالاقتراب القرآني عن توضيح حقيقة الإسلام لغير المسلمين؟

Ada metodologi untuk menarik makasdi dari quran. Metodologi itu akan dimulai dengan mengekstrak “konsep-konsep” yang membentuk fenomena yang hendak dikaji. Misalnya, mau mengkaji fenomena ekonomi, kita harus mencari semua konsep yang berkaitan dengan ekonomi: maal, khilaafah, milkiyyah. Sama juga dalam rangka politik, apakah bata-bata (unit terkecil bangunan) yang membentuk sistem itu dari segi konseptual. Jadi langkah awal adalah mencari konsep.

Langkah ke dua adalah mencari “usul” atau teori-teori yang memerintahkan, misalnya, ekonomi. Salah satu usul dalam rangka ini adalah “uang harus berputar”. Dalam rangka mengembangkan makasid sistem legal (hukum), perlu anda mencari teori mengenai tanggung jawab (mas’uliyyah).

Langkah ke tiga perlu kita terangkan hubunganantara konsep-konsep dan teori2 tersebut, sehingga mulai terkumpul bagi kita jejaring relasi antar konsep-konsep itu.

Langkah ke empat perlu kita tarik apa yang disebut ‘sunnatullah” dalam setiap tema atau isu yang kita hendak cari solusi atasnya dalam menafsirkan quran secara kontemporer. Ada sunnah “tadawul” yaitu bergulingnya kehidupan antara baik dan buruk, berkuasan dan dikuasai.

Langkah ke lima adalah menemukan “nilai-nilai” atau aturan-aturan akhlak yang memerintahkan ahkam detail dari islam. Misalnya, ahkam keluarga diperintahkan oleh sejumlah nilai seperti marhamah, mawaddah…dsb

Sejujurnya, saya tengah mengerjakan langkah-langkah itu utnuk menjadi mukadimah bagi tafsir makasidi.

Apakah quran dapat menghalangi kita dari mengemukakan islam bagi orang non-muslim?

Pasti tidak, quran tidak miliki kita saja, quran milik semua orang. Pertama-tama kita perlu mengajak mereka untuk membacanya.

Akan tetapi, jika pertanyaannya adlah: apakah quran wajib diterapkan bagi non-muslim dalam masyarakat mayoritas muslim? Pasti tidak. Misalnya pada masyarakat arab, apakah orang nasrani yang hidup sana wajib mengikuti ahkam quran? Tidak. Namun, ada perdebatan syariah mengenai hal itu. Kesimpulannya, quran berlaku atas mereka menyangkut prinisp-prinsip dasar kehidupan tetapi bukan pada detail-detailnya. Misalnya kalau mereka suka minum khamar, bukan urusan kita untuk melarangnya. Terdapa banyak masalah yang mengarah ke arab politik ketika kita tidak sadar tentang batas-batas antara hal-hal prinsipil dan detail.

Hukum keluarga mereka juga boleh dan sah-sah saja diterapkan atas mereka.

ما هي الطريقة التي يمكننا بها الاستدلال على الآيات المقاصدية من غير آيات الأحكام؟ وما هي الطريقة التي نختبر بها "مقاصدنا" التي استقيناها من القرآن؟

 

Saya masih merasa nuansa politik pada perkara ini, meski demikian, kita dapat menjawab dengan menentukan terlebih dahulu siapakah yang kafir dan siapakah yang mukmin. Kafir itu tidak terjadi secara otomatis karena ia berbeda dengan kita. Kafir adalah orang yang menutup-nutupi kebenaran, orang-orang yang menolak Allah atau Tuhan. Saya bebeda pendapat dengan orang-orang seperti Hasan Hanafi dan lain sebagainya tetapi jangan sampai mengafirkan mereka. Kita perlu mendefinisikan kata kafir terlebih dahulu.

Sebenarnya, poinnya adalah bagaimana cara merubah masyarakat? Apakah dengan memaksa kehendak kita? Ataukah dnegan mendidik generasi yang dapat membawa dakwah islam? Pendidikan seperti itulah yang akan merubah keyakinan orang secara berlahan tanpa melibatkan instansi negara atau pemaksaan.

Yang penting adalah merubah masyarakat dari bawah ke atas. Soal kafir mukmin dalam perpolitkan itu tidak relevan dalam rangka merubah masyarakat.

Saya senang anda memperhatikan politik. Tetapi.. tolong baca lebih banyak mengenai sistem politik secara umum. Sistem politik kita secara global adalah sistem korup yang lebih besar dari sekadar seseorang sana sini. Bagaimana kita dapat meruntuhkan sistem yang korup itu secara damai dan secara arif, inilah cara yang anda harus kuras tenaga untuk mencapainya. Jangan membuang tenaga dalam urusan politik jangka pendek.

Menyangkut minoritas maupun mayoritas, tidaklah menjadi hal relevan dalam mengamalkan quran. Saya di kanada merasa bahwa ia lebih “darul islam” ketimbang banyak negara arab.

Pemilihan juga yang dilakukan secara kuantitatif (mayoritas memerintahkan) bukanlah sumber yang sah dari legalitas. Legalitas terdapat dari sumbangan anda terhadap perubahan yang positif di tengah masyarakat. Ketika anda memiliki indonesia yang kuat maka ini adalah kemenagan bagi islam. Apabila kita hendak melayani islam, jangan menyibukkan diri degan detail jangkan pendek, bacalah lebih banyak lagi agar dapat memahami apa yang saya maksud.

Menyangkut “ayat makasid”, setiap ayat adalah obek yang sah dari kajian makasid. Ayat mengenai kiamat, ayat mengenai sifat Allah SWT, ayat yang ‘menghibur’ nabi maupun sahabat setelah dapat musibah, semuanya adalah obyek yang sah dari makasid. Mementingkan ayat ahkam dan menjadikannya pusat dari kajian makasid adalah salah satu bentuk dari pendekatan parsialis.

Bagaimana kita mengetahui bahwa makasid kita itu benar? Makasid kita itu terbuka untuk dua kemungkinan, sebagaimana amalan fikih pada umumnya, bisa salah bisa benar, yang akan menentukan tingkat keabsahan makasid kita itu adalah seberapa sistematiskah dia? Sejauh mana ia membentuk bersama-sama satu kesatuan yang koheren. Dalam waktu yang sama perlu kita menyadari bahwa pengetahuan fikih tidak berwarna hitam atau putih saja, tetapi perlu kita dekatinya secara sistematis.

 

  • view 166