GUSTI ALLAH MBOTEN SARE, NING AWAKE DEWE SENG KETURON

Aina Masrurin
Karya Aina Masrurin Kategori Renungan
dipublikasikan 15 Maret 2017
GUSTI ALLAH MBOTEN SARE, NING AWAKE DEWE SENG KETURON

Sekian banyak nasehat, dan keutamaan yang disebutkan dalam hadis dan kitab hikmah tentang bersholawat rupanya cukup menggugah kita sebagai umat Nabi Muhammad untuk mengejawentahkanya. Iya, sholawat memang baik, bahkan kebaikanya (baca:syafa’at) kelak menolong kita di akhirat. Tapi, ritual bersholawat dan menjawab shalawat seiring hari kabur dengan keegoisan nurani untuk dipuji ataupun dicaci. Bersholawat sering kali menjadi ajang ke-Akuan, bisa jadi itu sebuah semangat dan bukti kecintaan kepada Nabi tapi bukanya setiap cinta itu punya etika?. Seperti kita berkata lemah lembut kepada seorang kekasih atau ibu yang sangat kita cintai. Demikian pula rasa cinta kita kapada Nabi patutnya memiliki ketulusan yang luar biasa. Apalagi momen bulan Ramadhan ini begitu masygul bukan kalau tidak kita gunakan untuk berkasih dengan yang kita cintai?.

Segala ritual keagamaan yang hanya ada di bulan ramadhan menjadi momen-momen membahagiaakan bagi setiap orang tak terkecuali santri momen romantis seperti sahur, buka, tadarus Al-Qur`an, dalailan, kajian kitab, dan shalat tarawih menjadi bagian hari-hari santri di bulan Ramdahn. Tradisi Shalat tarawih di Nurul Ummah pastinya berbeda dengan layaknya masjid-masjid lain yang berada di Kotagede. Ibadah sholat tarawih yang dilaksanakan 23 rakaat beserta witir dengan durasi ± 1 jam setidaknya lumayan untuk mengenang saat upacara kemerdekaan   di lapangan. Bacaan al-Qur`an ±1,5 juz yang dibaca oleh hamilul Qur`an kebanggan pondok menjadi santapan harian di bulan ramadahan. Semangat yang luar biasa terlihat dari penuhnya masjid Al-Faruq oleh santri yang berbondong-bondong ingin mendapatkan berkah Ramadan. Di sela-sela setiap 4 rakaat sang bilal selalu mengumandangkan tasbih dan shalawat, terkadang suara merdunya membuat jamaah lowcontrol  menjawab shalawat yang dikumnadangkanya dengan nada yang tidak beroktaf. Bahkan lebih mirip demo kenaikan bbm , ukt di jalan-jalan. Hal ini patut menjadi bahan intopeksi, apakah layak menjawab shalawat demikian? Bukankah kita selalu mengatakan bahwa Nabi adalah satu-satunya kekasih Allah yang sangat kita rindukan dan kita cintai bahkan melebihi alam dan seisinya.

Ya meskipun setiap orang berhak mempunyai ekspresi rasa cinta kepada Nabi dengan bereda-beda tapi pengetahuan umum tentang akhlak dan etika menjadi pakem yang paling sentral untuk mengekspresikanya dengan santun dan islami (meski diksi islami masih kabur). Tak perlu nada yang indah atau deretan not yang rumit untuk mencintainya gusti Allah tetap mendengarkan bahkan  cukup dengan bacaan sholawat yang khusyu’ dan tulus dari nurani. Karena orang bijak santun bicaranya, orang baik sopan perilakunya, orang pinter tepat berfikirnya. Marhaban ya ramadhan.. Shollu’ala nabi Muhammad.

'Aina (Penggemar Suluk Merdu)

  • view 154