Ayah.. apa dulu Ayah sama seperti dia ?

Aiinizza Anggriani
Karya Aiinizza Anggriani Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 Oktober 2016
Ayah.. apa dulu Ayah sama seperti dia ?

Ayah, saya lelah. Bisakah kedua tanganmu merangkul sebentar tubuh putrimu ?  Ada banyak hal yang ingin saya ceritakan padamu. Ada banyak tangis yang ingin saya keluarkan saat ini dan lelaki satu-satunya yang saya pilih untuk mengusap air mata saya saat ini,ialah Ayah.

Saya ingin mengeluh padamu tentang sakitnya hati dan kecewanya berharap terlalu banyak pada sesuatu yang hanya datang seketika,membawa luka lalu pergi membawa semua yang ada,termasuk hatiku. Saya ingin merengek padamu. Melaporkan banyak hal padamu karena mungkin saja setelah ini Ayah akan membuat kesepakatan yang besar dengan ia yang berani-beraninya membuat putri ayah terluka seperti ini. Saya ingin merincikan apa-apa saja yang sudah terjadi dan hasilnya nyaris membunuh nadi.

Ayah, ini terlalu sakit. Sungguh.

Apa dulu ayah pernah seperti ini ? melukai hati wanita yang mencintai ayah ?

Apa dulu ayah pernah seperti ini ? merasakan bagaimana dijadikan yang utama,bagaimana bahagianya diperjuangkan tapi pada akhirnya ayah harus melepaskan dan meninggalkan ?

Apa dulu ayah pernah seperti ini ? membuat mata wanita yang tulus mencintai Ayah harus terus berair dan memohon agar Ayah jangan lagi seperti ini ?

Apa dulu ayah pernah sekejam seperti ia yang sekarang menghancurkan dan mengkhianati hati putri kesayangan Ayah ?

Ayah, apa dulu juga ayah pernah seketerlaluan dia yang hanya asal datang menghamburkan luka lalu pergi seenaknya seolah tidak ada luka yang bernana yang harus disembuhkan ? Atau apakah dulu ayah pernah seperti dia yang dengan tidak bersyukurnya terus mencari yang lebih lalu hasilnya seperti sekarang, hati putrimu porak poranda Ayah.

Ayah.. apa dulu Ayah sama seperti dia ?

............

"Maafkan Ayahmu nak. Maafkan segala masa lalu Ayah yang pernah Ayah lakukan. Hingga akhirnya alam membalasnya sekarang dan kamu merasa ini seperti pembalasan yang setimpal. Tapi ketahuilah sayang,ini bukan kesalahanmu. Ayah pernah melakukan hal bodoh seperti yang pria itu lakukan padamu sekarang. Ayah pernah menyakiti hati wanita yang tulus mencintai Ayah. Ayah pernah  berhobong berulang-ulang kali saat ini. Ayah sering dan selalu saja mahirnya membuat wanita yang mencintai ayah saat itu menangis dan terluka. Tapi apa yang terjadi sekarang ? Kamu bisa melihatnya dengan apa yang Ayah perlakukan kepada Ibumu sekarang.

Berpuluh-puluh tahun Ayah melewati perjudian kehidupan ini bersama satu Wanita yang sama. Ayah tidak pernah mengkhianatinya sejak awal janji ayah bersumpah dihadapan Sang Pemilik Jodoh. Ayah tidak pernah mengkasarinya ataupun menghinanya hingga hatinya harus terluka dengan percuma. Selama ini pun Ayah berjuang keras untuk membahagiakannya. Membuat ia selalu merasa cukup,nyaman dan aman saat harus menjalani kehidupan menuanya bersama pria seperti Ayah. Dan ia Ibumu nak yang sekarang ini pagi,siang.malam, 24jam untuk setiap harinya yang selalu ikhlas menemani suka dan duka Ayah. 

Sekarang kenapa Ayah tidak lagi menjadi seperti Ayah yang dulu atau seperti dia yang sekarang yang katamu mengkhianatimu ? Karena Ayah sadar nak bahwa hidup ini terus berjalan lalu kita membutuhkan tempat lain didiri manusia lain untuk kita hidup dan berbahagia. Ayah sudah pernah melalui masa dimana menyia-nyiakan hati wanita-wanita yang tulus mencintai Ayah, sekarang ketika beberapa puluh tahun yang lalu Tuhan mempertemukan Ayah dan Ibumu disitu dimulai janji Ayah diuji. Ayah hanya mencoba setia kepada satu wanita dan mencintai ayah setulus hatinya. Dan kamu bisa merasakan itu kan ? bagaimana Ayah memperlakukan Ibumu dengan baik dan penuh cinta.

Jadi nak, jika sekarang kamu terluka oleh pria yang dengan seenaknya menyakiti hatimu,maafkanlah. Tapi bukan berarti kamu harus memberinya kesempatan lagi untuk hadir dikehidupanmu. Lepaskan genggamanmu karena cinta yang sebenarnya cinta ialah cinta yang sama-sama saling menghebatkan bukan saling menyakiti. Lepaskan.. sebab yang harus merasa rugi disini bukan kamu tapi pria itu.

Lepaskanlah nak, lepaskan sakitnya. Lalu tata lagi hatimu-hidupmu. Lalu yakinlah satu hal ini; Bahwa nanti pada akhirnya nanti akan ada moment dimana kamu akan mengalami moment seperti Ayah dan Ibu ketika sudah dipertemukan tidak akan ada lagi cara untuk saling menyakiti. Bersabarlah...Ayah punya berjuta-juta doa untuk kebahagiaanmu. Semoga saja doa kali ini menembus langit dan Ia yang Maha Romantis, mengabulkannya."

 

Ayah-mu.

  • view 357