Teruntuk Pria yang Bernama (Ayah)...

Aiinizza Anggriani
Karya Aiinizza Anggriani Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 21 Agustus 2016
Teruntuk Pria yang Bernama (Ayah)...

Dua tahun yang lalu aku selalu saja menceritakan soalnya padamu. Aku seperti seorang penulis hebat jika harus menceritakan secara detail tentangnya lewat puisi-puisiku dan tulisan didiary. Aku juga bisa jadi seperti pembicara hebat yang mungkin bisa mengalahkan Mario Teguh jika terlalu asyik bercerita panjang soalnya. Didalam ceritaku aku mulai menceritakan padamu (Pada Pria yang tidak pernah mengkhianati cintaku) soal bagaimana bisa aku jatuh hati padanya. Soal bagaimana hatiku bisa luluh padanya. Soal bagaimana aku yakin ia bisa jadi masa depan yang baik untukku. Soal bagaimana cintanya yang besar padaku,pengorbanannya yang banyak padaku dan yang lebih membuat cerita ini bisa menyakinkanmu aku juga menceritakan padamu bahwa; ia sudah berjanji tidak akan pernah menyakiti hatiku. Sedikitpun tidak. Tidak akan katanya.

Lihatlah dia begitu mencintaiku. Dan pada saat aku sedang menceritakan soalnya didepanmu,kamu hanya bisa tersenyum. Kadang-kadang mengerutkan dahimu. Kadang-kadang kedua bola matamu mulai berair dan pesanmu hanyalah; "Kenali dulu lebih dalam. Jangan terburu-buru menyimpulkan kebaikan orang. Jangan juga terburu-buru menyimpulkan bahwa orang itu buruk. Kenali saja dulu".

Apapun pesanmu hanya ku iyakan dengan anggukan kepala,tersenyum lalu kembali menceritakan lagi hal-hal yang kusenangi darinya. Dan sejak saat itu,dua tahun yang lalu kamu sadar bahwa; aku sedang jatuh cinta. Jatuh cinta pada seorang pria yang kataku ia tidak akan menyakiti hatiku sedikitpun. Dan mulai saat itu pun  kamu mulai mengkhawatirkanku. Mengkhawatirkan janji pria itu. Mengkhawatirkan kebahagiaanku.

 

Waktu terus berjalan. Kamu mulai menyadari ada perubahan-perubahan kecil yang terjadi padaku. Mulai aku lebih suka berdandan agar lebih terlihat cantik, aku yang mulai menolak jika kamu menawarkan diri untuk mengantarku kemana saja,menjemputku darimana saja. Aku mulai sering mengabaikan telephone dan beberapa pesan singkatmu yang menanyakan hal-hal sederhana seperti; "Sudah makan ? lagi dimana ? sama siapa ? bagaimana kerjaan hari ini ?" dan hal-hal lainnya mulai kuabaikan. Aku juga sudah jarang menceritakan beberapa hal yang selalu dan seharusnya kuceritakan padamu dan sekarang lebih memilih menceritakan apa-apa saja padanya. Aku sekarang sudah terlalu cuek untuk menanyakan kabarmu hari ini dan apa menu makan siangmu hari ini. Aku juga kadang sudah lupa untuk menanyakan bagaimana kondisimu hari ini. Bahkan jika aku mendengar kamu sedang sakit,khawatirku tidak sekhawatir dulu. Aku hanya akan melihatmu sebentar lalu pergi bersamanya, si pria itu yang berjanji padaku bahwa ia tidak akan menyakiti hatiku sedikitpun. 

Sekarang juga perhatianku banyak kuluangkan untuknya. Aku khawatir jika ia telat makan,khawatir jika ia terlalu lama membalas pesan singkatku dan khawatir juga kalau ia terlalu lama pula mengangkat telephoneku. Kamu selalu memantau hubunganku dengannya lewat media sosial,kamu selalu saja memperhatikan setiap foto yang diupload saat bersamanya dan katamu "Sudah lama kita tidak foto bersama". Dan aku hanya akan tertawa, memandangmu dan berlalu begitu saja. Semuanya berubah. Pikirmu. Berubah ketika kamu menyadari bahwa aku mulai jatuh cinta padanya didua tahun yang lalu. 

 

Semuanya berubah. Pikirmu. Aku yang dulu begitu lucu dan selalu saja mengharapkan bantuan dan perhatianmu mendadak tumbuh menjadi gadis dewasa yang merasa sudah menemukan lelaki pengganti yang bisa saja mengantikan posisimu saat itu.

Semuanya berubah. Pikirmu. Aku yang dulu begitu polos dan selalu saja mengeluh mendadak memaksakan diri untuk dewasa sesegera mungkin dan tak sadar bahwa sudah banyak waktu yang kubuang percuma untukmu ketika aku mulai mengenalnya. jatuh cinta padanya. Kepada pria yang berjanji tidak akan menyakiti hatiku sedikitpun.

 

Dan tepat ditahun kedua. Pria yang dulu berjanji tidak akan menyakiti hatiku sedikitpun pada akhirnya ia menyerah dengan janjinya sendiri. Ia melepaskanku begitu saja. Ia juga mengkhianati cintaku selama ini padanya. Ia yang dulu berkata bahwa cintanya lebih besar dibandingakan cintaku padanya harus memutuskan jalannya sendiri untuk menyerah dengan semua ini. Lihatlah... ia meninggalkanku sekarang disaat aku sudah bercerita panjang padamu bahwa ia tidak akan menyakiti hatiku sedikitpun. Ia mudahnya melepaskanku disaat aku sudah terlalu banyak membuang waktuku untukmu yang harus kuberikan padanya. Lihatlah ayah, dia meninggalkanku.

 

Dan sejak ia meninggalkanku, kedua bola matamu yang dulunya hanya berair saja kini mengeluarkan air mata juga. Katamu ada rasa sakit didasar hatimu kalah belahan jiwamu yang dengan lembutnya memperlakukanku harus mudah mengenal sakit lewat cinta yang tidak semestinya tulus. Tapi katamu lagi ada rasa bersyukur lagi didasar hatimu karena sekarang Tuhan membuka mata hati belahan jiwamu (Putrimu) untuk sadar bahwa pria itu yang pergi meninggalkanku  bukanlah titipannya untuk berbahagia bersamaku melainkan kedatangannya hanyalah untuk mengajarkan kebaikan bahwa yang benar-benar baik dan berasal dariNya tidak akan mudah meninggalkan apapun alasannya dan begitupun sebaliknya.

 

________

Dan kau tahu aku bisa paham sekarang kenapa didunia ini Tuhan begitu baiknya menciptakan seorang Pria yang bernama Ayah ? Karena Ia paham bahwa didunia nanti ada banyak sekali pria yang akan menyakiti hati para wanita dan itulah mengapa ada pria yang bernama Ayah yang cintanya,kasih sayangnya selalu tulus dan tak pernah mengkhianati. Dan semoga kamu,dia mereka yang bernama pria bisa diberikan kesempatan untuk bisa merasakan bagaimana menjadi ayah. Bagaimana rasanya memiliki anak perempuan dan bagaimana khawatirnya kamu jika sadar bahwa gadismu sudah tumbuh dewasa dan jatuh cinta. Dan setelah kamu merasakan bagaimana rasanya menjadi Ayah maka disini pun kamu bisa menyadari satu hal bahwa; Cinta yang semestinya cinta ia tidak pernah menuntut untuk selalu diberikan lebih,tidak pernah memaksa untuk kebaikan apa saja yang diberikan dibalas kembali. Semuanya tulus. Apapun itu. - Ayah.

 

 

 

  • view 384