Kitab pertama yang diajarkan oleh Ayah

Sambel Trasi
Karya Sambel Trasi Kategori Agama
dipublikasikan 04 April 2016
Kitab pertama yang diajarkan oleh Ayah

?

Kitab Alala adalah kitab pertama kali yang diajarkan oleh Ayah. Beliau bukanlah orang terkenal, bukan pula orang besar, bukan juga lelaki kaya raya, namun beliau hanya seorang guru ngaji kampung yang hidup sederhana. Kitab Alala adalah kitab masa kecilku yang selalu kami ulang-ulang setiap setiap untuk dihafalkan dan diterapkan. Ah, mengingat masa kecilku yang penuh dengan kenangan selalu ingin kembali masa-masa itu. Masa dimana kasih sayang selalu ada dan kehangatan keluarga sangat luar biasa.

Kitab ini adalah kitab kecil, sederhana, namun penuh syarat akan makna kehidupan. Baru ku sadari benar bait-bait aksara itu akhir-akhir ini, ketika saya mengajar dan membuka kembali kitab yang dulu pernah diajarkan oleh Ayah di surau tua bernama Langgar Genteng. Mengapa tidak dari dahulu saya fahami hal ini? Mengapa saya bisa menghafalkan namun lambat memahami? Mengapa karya kitab itu bertahan ratusan tahun lintas generasi? Tanpa revisi dan terus dicetak setiap tahunnya dipelajari dimana-mana.

Awal bait kitab ini adalah; "ala laa tanalul ilma illa bi sittatin... dan seterusnya", sangat sederhana dan dalam maknanya. Bahkan tak terbantahkan kaidah itu hingga hari ini. Dan yang terberat dari Kitab ini adalah menjalankannya pada kehidupan nyata, bagaimana menghadirkan sebuah teori yang tertulis, bagaimana menjalankan apa yang dinasehatkan, bagaimana setelah belajar kemudian menerapkan, dan intinya sebaik apapun teori yang terbaik adalah bisa menjalankannya dalam kehidupan nyata.

Dalam kitab itu ada nasehat yang masih melekat, kurang lebih artinya seperti ini:
"Tidak ada orang yang mendapat harta benda,Tanpa mau bekerja dengan bersusah payah. Apalagi Ilmu bagaimana engkau dapatkan sedang engkau tak mau belajar dan berusaha"
"Benar-benar kerugian besar bagi kita, jika kita melakukan hal yang sia-sia (tanpa manfaat). Padahal kita tahu umur terus bertambah, sedang perbuatan kita tetap sia-sia (tanpa manfaat)"

Dan masih banyak lagi nasehat dan ilmu dalam Kitab itu. Hingga terminologi kanan sampai kiri pun tidak ada yang sanggup menentang nasehat-nasehat dalam kitab itu. Keilmuan barat dan timur tidak ada yang menentang kebenaran isi kitab itu. Setelah mengaji Al-Qur'an kemudian kami mengaji Alala bertahun-tahun dan terus diulang di surau tua penuh kenangan masa-masa kecil bersama Ayah dan sahabat mengaji dahulu.

  • view 180

  •  
     
    1 tahun yang lalu.
    Inspiring, ditunggu selanjutnya....

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    elingo dak hasil ilmu anging (e)nem perkoro
    bakal tak critakke kumpule kanthi pertilo

    rupane
    limpat, luba, shobar, ono sangune,
    lan piwulange guru,
    lan sing suwe mangsane.

    jadi kangen jaman TPA.
    *maaf kalo ada penulisan yang salah surprised


    *btw, saya pengen senyum liat nama akun anda: Sambel Trasi.

    • Lihat 7 Respon