Kakek Pengemis di depan makam Gus Dur

Sambel Trasi
Karya Sambel Trasi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 04 April 2016
Kakek Pengemis di depan makam Gus Dur

Beliau bernama Wagiman, pria berusia 76 tahun. Sehari-hari mengemis di depan gerbang masuk makam Gus Dur, mulai jam 8 pagi sampai jam 4 sore beliau mengemis duduk di sekitar rerimbunan bawap pohon. Lantas di mana keluarganya? Mengapa harus mengemis? Di mana rumahnya? Bagaimana keseharainnya? Dan mengapa itu semua bisa terjadi?

Diwajah beliau ada sedikit luka yang masih belum kering. Luka itu adalah diabetes akut yang sudah menyerang beliau sekitar dua tahun dan masih disertai dengan sakit komplikasi lainnya. Seperti sakit rematik, gula darah, stroke, dan tentunya tidak bisa jalan kaki normal dibantu dengan penyangga untuk jalan.

Sebelumnya beliau pernah tinggal di panti jompo selama 8 tahun. Karena istri beliau sudah meninggal dan tidak memiliki anak, beliau hidup sebatang kara di usia tua. Namun beliau tidak betah hidup berlama-lama di panti jompo karena merepotkan dan masih ingin hidup mandiri meski kesehatan dan usia sudah tidak muda lagi. Dan setelah keluar dari panti jompo keseharian beliau adalah mengemis di depan makam Gus Dur karena tidak ada pilihan lain selain mengemis.

"Aku wes ora kuat kerjo mas, aku wes tuo, gak onok wong seng gelem nerimo aku kerjo, aku biyen iseh enom gak pernah bayangno uripku bakale sengsoro koyok ngene mas" (saya sudah tidak kuat untuk bekerja mas, saya sudah tua, tidak ada yang mau menerima saya kerja, saya dulu ketika masih muda tidak pernah membayangkan hidup saya akan sengsara seperti hari ini) tutur kata beliau ditengah-tengah wawancara kami.

Tugas wawancara PSP (Pusat Studi Pesantren)
Sabtu, 2 April 2016
?#?suarapesantrenjombang? ?#?psp? ?#?pusatstudipesantren?

  • view 170