Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 7 Mei 2018   15:01 WIB
Sebuah Gejolak

Aku memang bukan tipe manusia yang lebih mengkedepankan hati diatas pikiran. Sejak aku dilahirkan hingga sekarang, logika yang kubanggakan ini selalu berhasil menginjak-injak perasaan yang kadang hendak menguasai tubuh secara keseluruhan, membunuhnya dengan kejam setiap kali berusaha meracuni ideologi hebatku setiap hari.
.
Hingga kau datang
.
Lihatlah, ribuan tembok kokoh tentang logika yang berhasil kubangun bertahun-tahun itu hancur seketika tatkala melihat tatapan sendu matamu sore itu.  perlahan namun pasti, membuatku mati secara perlahan-lahan. Dibalut dengan hangatnya terik mentari sore, diiringi dengan lentik kicauan burung-burung, lantas diperhalus dengan suara gesekan daun hijau yang terhembus angin senja. Kau, yang sudah lumayan lama kukenal, sukses meleburkan semua yang kupunya menjadi abu usang hingga habis tak bersisa.
.
Entah sejak kapan.
Sering padahal kumelihat sosokmu disini. Namun, sorot pandanganmu yang sekarang, entahlah, jujur saja, sedikit menenangkan gejolak lama di dalam yang bahkan ternyata sudah mulai merapuh.
.

Terima kasih.

.
Tidak, tidak mengapa.
Ini bukan salahmu. Karna memang aku sudah bosan dengan semestaku yang bergerak begitu-begitu saja, datar dan hanya mengikuti poros aturan. Setidaknya, dengan melihatmu kali ini, senja ini, waktu ini, aku sadar.
.
Sadar bahwa duniaku yang diberhentikan olehmu kala itu tidak buruk juga.
Juga karena ada sensasi tersendiri ketika kita sedang belajar mencintai.
Ada nafas yang sedang terhenti ketika kita disiksa rindu.
Ada jantung yang kesepian sebab yang dicinta tak kunjung jua mengabari.
Pun ada raga yang hendak terbang bebas menuju rumah tatkala perasaan sudah membuncah.
Maka itu, bila aku bertemu denganmu nanti,
Ku harap, kau berkenan memberhentikan semestaku sekali lagi.

.
Cukup Sekali lagi saja.
Namun bila tidak memberatkan, aku ingin kau hentikan saja duniaku sekaligus dengan tatapan bola mata hitam indah itu. Karena itu berarti kau akan memandangiku setiap detik,
Setiap menit
Setiap jam
Setiap hari
Setiap bulan
Setiap tahun.
Pandangi aku, , hentikan semua, bila pun tersesat, aku pasti kembali padamu.
Terlalu beratkah? Aku tidak meminta selamanya, kau tahu.
Seumur hidupku saja, bersama menjalani hari tua. Kau membuatkan kopi kesukaanku, lantas aku menyuapimu makan siang dengan penuh cinta. Sederhana namun hebat. Itu saja pun sudah lebih dari cukup.
.
Baiklah, tapi
Tak usah dulu kau jawab semuanya sekarang, aku takut tersakiti bila ternyata jawabanmu tak sesuai keinginanku, lantas patah hati lalu pergi karna kau memutuskan untuk meninggalkan sebab ini. Sabarlah, simpan jawabanmu untuk nanti.
.
.
Karena sampai saat ini pun, hatimu sedang dalam tahap proses menjadi milikku.


.
Kau, dimasa depan, akan jatuh ke pelukanku, aku jamin.

.
m.a.t

Karya : Ahsaan Muhammad