Une, Deux, Trois, Cinq. DOR

Ahmad Supiyandi
Karya Ahmad Supiyandi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 Februari 2016
Une, Deux, Trois, Cinq. DOR

Matahari perlahan tenggelam. Senja yang kuintip makin lama makin muram, jadi malam.

Saat?alam beralih?kelam, ada yang harus disambut dan juga ditanggalkan.

?

Padaku, malam adalah??perpisahan?, menunggu Matahari terbit suatu??penderitaan?. Dua belas jam melipat ganda jadi dua belas bulan. Ya. psikologis seorang penunggu dungu memang demikian. Berlebihan.

?

Hari ini telah kulalui seperti biasa. Aku awali pagi dengan menjinjitkan kaki. Berusaha menyejajarkan bola mata pada?sebuah lubang 10 x 20 cm persegi--tak besar.

?

Lubang itu kuterawang: di baliknya pemandangan biasanya,?barisan pepohonan?kekurangan energi?akibat?letaknya?tumbuh. Pepohonan itu tumbuh diapit dua?bukit terjal yang baru mendapatkan sinar matahari menjelang?pukul 11 siang. Tak lama, mungkin hanya 1 jam. Itu pun jika langit tak dihadang?awan.

?

Mungkin juga pohon-pohon itu terlihat layu pada?mataku saja. Maklumlah sejak tinggal di sini, saya baru sadar jika cahaya adalah kemewahan. Juluki saya si miskin karena satu kekurangan: cahaya. Yang terang, ah bukan, maksudku temaram hanyalah sebuah lentera dan tadi kubilang-- sinar matahari yang jarang via?lubang ventilasi.

***

?Hai?? Aku menyapa yang sedari malam aku nanti. Matahari.

?

Seribu persen aku yakin bahwa Matahari mampu mendengar. Bahkan, jika tak kukomat-kamitkan mulut pun ia pasti paham. Ia bukan Tuhan, bukan pula peramal. Dia Matahari. Untuk mendengar tak butuh perantara semisal gelombang udara atau penghantar berbahan tembaga. HAHA.

?

Pastilah akan timbul tanya, ?apa aku gila? Atau penyembah Surya? Tentu tidak. Hanya, aku beriman bahwa Tuhan menganugrahkan jiwa bukan untuk mahluk hidup saja, benda yang engkau anggap ?mati? juga. Itulah mengapa manusia bikin?istilah pertanda, katanya bahasa semesta. Tanpa kita sadari, dengan mereka kita sering berinteraksi. Dengan benda-benda. Alah! iya pendapat saya!

?

Engkau pasti menyangkal bahwa bahasa semesta hidup?dalam imaji sastrawan saja. Di sini, dalam racauan ini aku tak?bermaksud meyakinkanmu. Hanya saja, acap kali?senyum ini tersungging saat kupergoki kalian lagi bermesraan dengan intan permata, batu dan benda tersayang lainnya. Engkau tatap dalam, dengan segenap rasa. Engkau hidup digerakan olehnya dan melangkah setiap hari untuk memperoleh kepuasan darinya. Hingga saat cintamu bersambut. Tak jarang engkau seolah bicara pada mereka, merayu, berbual sampai berbuih. Padahal apakah mereka? HAHAHA. Maksudku siapakah mereka. Jiwamu tak harus ditindas, kebahagiaanmu tak harus tergantung pada mereka! Bukan? Mereka semu? Engkau bilang mereka mati. Sedang kuyakin mereka kalam. Jangankan rekan sebayanya yang masif misal Sirius, Arcturus, Pollux Rigel dan Albaran, si kerdil Neutron pun adalah orator ulung. Mereka sama fasihnya berkalam.

Sering pula aku tertawa saat?melihat kalian gaduh meng-aduh pada media--surat dan kertas memoar. Padahal tak ada seorang pun ingin tau perkaramu, tak ada yang?peduli celotehmu. Engkau masih saja meyakini punya penggemar setia. Ah paling tidak! Dalihmu adalah lema ?puas? saja.

?

Jadi, kau dan aku sama saja kan? ? istilahmu: Gila.

?

Bolehlah, engkau bilang kegilaanku lebih akut. Tetapi tetap saja. Kita sama!

?

Sudah. Ini bukan forum debat atau diskusi. Perihal siapa yang lebih gila itu tak penting. Ini duniaku, kebebasanku. Aku boleh menulis apapun semauku. Jika tak sependapat, sila minggat! Engkau boleh bikin dunia tandingan. Di negeri imaji engkau bebas meracau.

Engkau adalah raja di Negerimu sendiri. Bebas berceloteh?apapun. Hanya saja hati-hati bilamana kauinjak batas Negeri orang. Tanggung sendiri akibatnya. Karena, bualanmu kadang menerjang etika, norma, dan fatwa negeri orang. Mereka akan menentang, bahkan pabila perlu mereka akan mengurungmu dalam teralis besi. Setidaknya, hukuman paling ringan adalah pengucilan diri.

?

Tak usah bimbang atau galau, jika engkau sungguh beristiqomah dalam dunia imaji. Kurungan bukan akhir kematian, bukan pula keruntuhan kerajaan. Engkau takkan pernah termakzulkan. Engkau tetap seorang Raja yang bebas berpikir dan bertahta. Emmhh..hanya, tak akan ada yang mau mendengarkanmu lagi,?termasuk para sipir atau petugas bui lain ? jika memang engkau kena kurung. Namun, bila sependapat denganku tentang perkara yang tadi. Dalam kurung pun engkau masih punya pendengar selain diri sendiri. Debu-debu di bawah lingkar jeruji misal. HAHA.

?

Percayalah, debu-debu itu menumpang pada angin khusus untuk menemui engkau. Itu bukan kebetulan. Dia adalah utusan. Dia adalah pertanda. Jika engkau jeli tentunya, eh iya gila.

?

Lagi kubilang: sudah!! Tambah melantur. Urusi duniamu!

?

Mulai sekarang aku anggap engkau dan aku sama. Istilahku: ?normal?. Jika masih mau mengataiku gila, mari aku seret engkau kembali pada perdebatan tadi.

?

Aku ulang: ?Kau dan aku sama saja - istilahmu: Gila?

?

Kali ini aku selidah dengan Paulo Coelho bahwa kegilaan adalah saat seseorang tak mampu mengungkapkan apa yang ia pikirkan. Aku sekarang sadar betul apa yang aku pikir, apa yang kutulis, dan apa yang kurasa. Kau pun sama?

?

***

?

?

Sering?satu waktu sinar Matahari tak kulihat. Ia enggan?masuk lewat?ventilasi,?mengintip saja tidak. Itu terjadi?biasanya?karena ia sedang ngambek atau kalut karena ditutup kabut.?Bisa juga ia sedang murung dihadang mendung. Itu bukan salahku. Matahari marah bukan karena aku bikin salah. Matahari pernah mengatakan satu-satunya kesalahanku adalah ?tak pernah bikin salah?. Aku terima saja apa yang ia katakan, meski tak paham betul apa maksudnya.

?

Hari ini sangat?melelahkan, padahal aku tak punya pekerjaan berat. Aku hanya seorang pelukis dan penulis. Selama sepuluh tahun aku di sini, kegiatan yang paling menguras tenaga paling hanya membuat kopi.

?

Ingin aku baringkan tubuh lelah ini dan berharap mata lekas terpejam. Matahari kini sudah beredar di atas belahan bumi yang lain. Aku harus merelakannya bercumbu di belakangku. Menelanjangi segala yang ia jamah. Tidak asyik untuk dibayangkan, lebih baik aku tidur sampai ?persenggamaannya? selesai.

?

Denting terdengar makin genting, ini pertanda mayoritas orang sepulau denganku sudah lelap karena?hening. Lalu, aku adalah satu dari manusia-manusia yang terjaga. Mataku memang sudah lemah bak kunang-kunang mau mati saja. Tetapi otakku malah mengamuk, berkecamuk memikirkan Matahari. Berpikir positif mungkin salah satu jalan menghilangkan kemelut itu. Aku menghitung kembali segala pahala. Sekecil apapun jasanya aku timbang tak terkecuali.

?

Senyum itu berkembang jadi?tawa kecil manakala aku ingat tingkah bodohnya. Pernah saat gersang melanda, ia malah?menghadiahi anak petani sebuah pelangi. Mana mungkin bisa. Jika tak ada hujan, takkan bisa ?ia lukis pelangi. Dia kadang berperangai bodoh. Saat gersang yang paling dibutuhkan anak petani bukan pelangi, tetapi hujan. Pelangi hanyalah bonus. Tak lebih.

?

Alah, jika kuingat tingkah polosnya maka bermetamorfosislah mimik wajahku dalam satu fase: senyum - tawa kecil ? cekikikan -nyaring ? semakin terbahak.

?

?Tetangga? lantas lantang bilang:?Gilaaaaaa!?

?

Aku bergumam. ?Kita sama! seret kembali pada perdebatan tadi??

?

Tak ada gading yang tak retak. Pikiran buruk menyangkut Matahari tak bisa kuelak. Mungkin ia sedang bahagia bersama mereka, penuh peluh sukacita. Bercinta pada siang bolong. Sedang tanpa sinarnya, aku terjerat dosa masa lalu. Dicambuk?sejarah!

?

Pikiran itu membuat sulit bernapas. Hampir putus, kemelut itu?mencekik lehe. Aku mencoba untuk tegar dan melawan?pikiran-pikiran itu. Tetapi,?aku selalu?kalah. Berkeringat dosa.

?

Entah bagaimana meskipun pikiran kalut itu selalu aku lewati setiap malam, tetapi tanpa sadar aku sudah tertidur dan mimpi-mimpi mulai mengantarkanku pada hari yang baru. Tidak sepenuhnya baru. Paling tidak dengan hari kemarin amat sedikit berbeda. Aku kembali akan diringkus rutinitas sama. Setidaknya aku punya sedikit kabar pelipur lara.

Untuk kedua belas ribu tujuh ratus tujuh puluh delapan kalinya matahari kembali pulang.

?

Perasaan tadi malam masihlah berhambur di atas ubun.?Ketidaktahuan akan?persenggamaan 'haram'? Matahari terus saja berbayang. Maka, kopi dan tiga puluh tiga bulir biji jeruk adalah pelarian terbaik dari pengkhianatan itu.

?

Sudahlah, waktunya menyapa:

?

?Hai?

?

Kurasa sekarang cukup siang untuk bisa melihat Matahari.

?

Ah, sial! Sesiang ini engkau tak kunjung datang. Engkau pasti mabuk semalam, Cepat Pulang!

Entah berapa pagi lagi aku akan hidup. Kubilang: segera pulang!

?

***

Suatu waktu yang kunanti. Akhirnya aku bebas tepat pukul satu dini hari. Aku meniti tapak (katanya) menuju sebuah lembah. Baru kali ini kunikmati langkah tiap langkah kaki di bumi. Satu-satunya suara yang bikin hening pecah. Derap kaki yang beradu dengan tanah terdengar lebih merdu dari biasanya. Segorombol serdadu yang terlalu baik dan penurut mengantar kepulanganku. Aku berhenti pada satu titik, waktu pun ikut berhenti . Aku syukuri tangan yang mantap terikat. Entah dalam bahasa apa mereka bertanya. Aku mengangguk saja.

?

Bersama aba-aba yang pernah aku minta. Ini akan menjadi yang terakhir, kutarik nafas dalam-dalam. Perlahan lalu tenang. Sunyi.

?

"Une, deux, trois, cinq"

?

?.. Ah lagi, aku hanya bermimpi?.

  • view 138