Tembok Berlin di Pondok Petir

Ahmad Reza S
Karya Ahmad Reza S Kategori Tokoh
dipublikasikan 25 Januari 2016
Tembok Berlin di Pondok Petir

Timur dan barat. Dua kata ini pernah menghantui kehidupan masyarakat di Jerman. Dibatasi tembok, Jerman terbagi. Selama 28 tahun sekat menjadi pemisah.

Berbahan dasar beton, tembok memisahkan Berlin Barat dan Berlin Timur. Selain kedua wilayah, tembok menjadikan Berlin Barat sebagai enklave, daerah kantong?bagian negara yang dikelilingi wilayah negara lain.

Gerakan menentang tembok menyeruak. Tapi, bayang-bayang militer membawa ribuan nyawa menjadi korban penentangan.

9 November 1989 menjadi hari bersejarah, tak hanya bagi Jerman, melainkan juga dunia. Ketika itu, batasan ambles. Warga Jerman Timur diperkenankan memasuki tanah barat. Begitu juga sebaliknya. Tembok raksasa pun roboh seketika, seperti saat dibuat.

Di antara perayaan, pidato para tokoh bangsa mengoarkan semangat perubahan. ?Tak ada lagi batas. Sekarang hanya ada Berlin!?

Euforia itu tak hanya terjadi di negara kanselir. Teguh Ostenrik, pria kelahiran Jakarta 1950 silam juga merasakan sukacita. Saat ditemui, ia mengaku menitiskan air mata. Bukan tanpa alasan, ia pernah merasakan hidup di dalam negara yang tersekat.

Pada 1972, bapak empat anak ini tengah mengenyam kuliah di Lette Schule, Berlin Barat. Ia mengambil jurusan desain grafis.

Di tahun itu Jerman belum utuh. Tembok Berlin masih menjadi tubir bagi masyarakat. Kentalnya perbedaan tak hanya soal bahasa, tapi, kata Teguh, juga dengan pola pikir masyarakat yang terbagi. ?Orang-orang di barat tidak ada yang paham dengan cara berpikir timur,? tuturnya.

Bahkan, candaan soal perbedaan pun muncul. ?Cara membedakan warga timur kalau dilihat dari komputer,? ujar Teguh, ?lebih banyak coretannya.?

Meski tak menuturkan secara spesifik soal pengalaman lain, ia mendekatkan tembok pemisah itu dengan apa yang terjadi di Indonesia.

?Kita punya ratusan bahasa, ratusan budaya, ratusan makanan. Antara saya dengan Anda saja sudah berbeda, selalu ada border. Ini yang bahaya,? kata Teguh, serius.

Seperembat abad lalu, ketika sang tembok runtuh, Teguh telah kembali ke Tanah Air. Berbekal pengalaman dan penilaian akan sekat yang sama di Indonesia, semangatnya untuk membawa sisa runtuhan membuncah.

Mencari dukungan moral, ia syahdan mengabari dua rekannya akan niatan itu. Dua sejawat Teguh ketika itu menjadi pejabat teras di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, salah satunya Fauzi Bowo.

Rencana Teguh tersambut gayung. Meski tak menemani pergi ke Jerman, tapi Teguh dititipkan ongkos perjalanan oleh Foke, begitu Fauzi Bowo karib disapa. Teguh tetap memaksanya turut serta. ?Ayo, ikut saja,? kata Teguh, mengenang.

Sebelum memutuskan pergi, ia sempat menceritakan ide untuk membawa pulang runtuhan tembok. Bukan sekadar cendera mata, ia ingin menjadikan kepingan sejarah itu sebagai barang seni.

?Tujuannya sebagai simbol akan sekat yang masih banyak terjadi. Saya ingin buat patung dengan tema menembus batas,? tuturnya.

Bahan-bahan pun telah ia siapkan, semisal besi baja setebal 2,5 centimeter yang diperoleh dari hibah sebuah pabrik. Nantinya, baja-baja itu akan ia jadikan 14 figur manusia yang dapat menembus sekat-sekat Tembok Berlin.

?Tubuh dari baja yang keras itu membuat gesture yang sangat lunak. Bisa menembus celah-celah di antara Tembok Berlin. Bisa manjat, segala macam, menembusi batas itu. Instalasinya sebenarnya itu, bukan hanya Tembok Berlin sendiri,? Teguh menjelaskan.

Hanya Menggeleng

Berbekal tiket perjalanan dan surat jalan dari mantan Gubernur DKI Jakarta, Teguh menuju Jerman pada 1990. Sebelumnya, ia telah mengetahui bahwa kepingan sejarah itu dapat dibawa pulang. Tapi, harus ada uang yang dikeluarkan. Di sana, ia menemui lembaga yang memiliki otoritas penjualan sisa Tembok Berlin.

Tak tanggung-tanggung, ia memboyong empat potongan tembok. Masing-masing tembok seberat 1,5 ton. Untuk harga, ia merogoh kocek senilai 18 ribu deutsche mark atau Mark Jerman. Jika dirupiahkan kini, jumlah itu setara dengan Rp 139 juta-an.

Tapi, itu belum berakhir. Sebab, untuk membawa kepingan sejarah ke Tanah Air, ia masih perlu merogoh kocek. Dari Berlin, ia menggunakan alat berat untuk membawa empat potongan tembok ke Bremerhaven. Untuk itu saja ia mengeluarkan sedikitnya 3.000 Mark Jerman. Dari sana, empat bagian itu ia masukkan kontainer menuju Jakarta. Untuk aktivitas angkut itu ia dikenakan biaya sebanyak 6 ribu dollar.

?Semua pakai dana pribadi. Kira-kira sampai Indonesia, satu bulan, lah,? katanya. Proses itu tak ia anggap berat. Ia hanya katakan dengan istilah, ?repot?.

Setelah sampai Jakarta, empat sisi Tembok Berlin ia tempatkan di bengkelnya di kawasan Depok, Jawa Barat. Namun tak berlangsung lama. Selang beberapa waktu, ia memindahkan lempengan tembok dengan berat keseluruhan sekira 6 ton itu di kawasan Pondok Petir.

Meski masih satu kawasan Depok, tapi jarak dari bengkel lamanya lumayan. ?Sewaktu mindahin dari Depok ke Petir, sudah habis Rp 15 juta untuk sewa alat berat,? tuturnya.

Apakah uang dengan nominal tak sedikit itu membuat Teguh bangkrut? Tak ada jawaban. Ia hanya tersenyum kecil sembari menggelengkan kepala.

Laiknya benda sejarah, minat kepemilikan tak hanya menjadi hasrat Teguh. Tak ayal, rayuan untuk menjual kepingan sejarah Jerman itu kerap diterima Teguh. Harganya pun tak main-main. Namun, Teguh mengaku sungkan menjual. ?Wong, rasanya (memiliki Tembok Berlin) seperti menemukan Candi Borobudur,? ujarnya.

Masih Berharap

Kini setelah hampir 26 tahun dibeli, potongan Tembok Berlin hanya teronggok di antara pohon jambu, tepat di muka bengkel seni Teguh. Di depan tembok, tumpukan ?barang seni? dan kucing biang terlihat menonton.

Rencana Teguh membuat ?Patung Menembus Batas? belum terealisasi. Meski setumpuk bahan telah disiapkan, tapi Teguh mengaku pengerjaannya belum bisa dilakukan.

Alasannya soal biaya. Namun, ia tak menjelaskan perihal berapa total biaya yang diperlukan untuk membuat ide berwujud. Kini, ia menunggu pemimpin Ibu Kota untuk berbagi tangan.

?Masih keleleran, tertunda. Mungkin cari pemimpin yang pas. Sekarang pemimpinnya pas. Itu (Patung Menembus Batas) pasti akan menjadi atraksi turis. Di beberapa negara cuma punya satu potongan, saya empat,? kata dia.

Teguh menceritakan, rencana pembuatan karya seni itu pernah akan disokong Pemerintah Jerman. Ketika itu, senator kebudayaan yang dikatanya berasal dari Berlin datang menemui Teguh dan mengaku akan mendanai proyek.

?Ternyata,? kata Teguh, ?DPRD Berlin telah membicarakan itu dan akan mendukung. Tapi karena saya berencana hibahkan ke Jakarta, persoalan muncul.?

Menurut Teguh, saban kali DPRD Berlin mengirimkan surat ke Pemerintah Provinsi DKI Jakarta soal rencana tersebut, tak ada balasan yang disambut.

?Akhirnya mereka bertanya, ?oke, kami punya uang kami mau bayar. Tapi apakah dengan membangun ini, membantu proyek Anda akan membuat tuan rumah jadi bahagia?,? tutur Teguh.

Hingga kini, harapan tak kenal lesap. Ia masih berharap Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnawa, biasa disapa Ahok, menjawab ide. ?Kalau Anda dekat dengan Ahok, tolong bisikin, kami kirim surat belum ada balasan.?

  • view 351