Bunda, Yanda, Sabar Ya...

Ahmad Reza S
Karya Ahmad Reza S Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 29 Juni 2016
Bunda, Yanda, Sabar Ya...

Saya sempat tergelitik kala menyaksikan ada orangtua yang membesarkan anak dengan cara “serampangan”. Misalnya tidak menempatkan jenis makanan yang sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembang, membentak anak ketika melakukan kesalahan—meski sekadar sepele, atau tidak mendandani si buah hati dengan pakaian yang enak dilihat mata.

Si orangtua, terlihat sama “berantakannya” dengan anak. Dalam hati, selain berserapah, saya turut bersumpah tidak akan berbuat hal serupa ketika memiliki anak. Curahan perasaan ini kerap menjadi pembahasan serius saya dengan istri. Istri saya, satu pikiran.

Walhasil, ada banyak kesepakatan, juga rencana, yang akan kami lakukan ketika memiliki anak. Jangan tanya soal jenis makanan, semua sudah di luar kepala, ketika itu. Mengenai pola pendidikan, kami berlagak paling ahli sedunia.

Di antara kesepakatan, kami menolak kehadiran gawai atau telepon pintar untuk dikonsumsi anak. Kami juga sepakat untuk tidak mengujarkan kata-kata negatif, yang menurut kami akan mengganggu tumbuh kembang, seperti “tidak”, “jangan”, atau sejumlah lainnya.

Ketika itu, kami layaknya orangtua idaman yang akan selalu dicintai anak-anak, termasuk orang di sekeliling.  Belakangan, kami terbelalak. Apa yang pernah kami hardik, kini kami rasakan.

Karenanya, tidak usah ditanya ihwal noda makanan yang tertinggal di pakaian kami, termasuk yang menempel di kendaraan, rumah berantakan, ujaran-ujaran negatif, atau mainan yang berasal dari gawai yang saban hari ditonton si anak. Padahal kami baru memiliki satu anak. Itupun belum genap berusia dua tahun.

Kami sadar, menjadi orangtua, bukan sekadar angan dan rencana. Alhasil, kami limbung. Tak hanya seperti menjilat ludah sendiri, kami khawatir tentang masa depan si anak. Dengan keadaan yang semakin sengkarut—imbas banyaknya mainan dan barang rumah tangga yang bercecer di lantai, termasuk remah-remah sisa makanan, belum lagi aktifnya si anak yang membuat darah mendidih (padahal tidak juga harus ditanggapi seperti itu)—kami khawatir anak kami lebih banyak menyerap aura negatif.

Padahal kami tidak seperti itu, Nak. Begitu yang kami yakini sebelum memiliki kamu. Ada banyak rencana tentang membesarkan kamu. Seperti lebih banyak bermain sembari memberikan pelajaran, menghilangkan ujaran negatif, atau segudang rencana lain yang akan membuat kamu hidup penuh kebahagiaan.

Ketidaksiapan juga ketiadaan kesabaran, mau tak mau, membuat cara membesarkan anak menjadi hal yang mengerikan.  Tak heran, data yang dikumpulkan Komisi Perlindungan Anak Indonesia menyebutkan kasus kekerasan pada anak selalu meningkat tiap tahunnya.

Pada 2011, jumlah kasus yang tercatat sebanyak 2.178. Jumlah meningkat pada 2012, menjadi 3.512. Seakan belum mau berhenti, pada 2013, perkara yang tercatat mencapai 4.311. Jumlah terus meningkat. Pada 2014, KPAI mencatat kasus kekerasan pada anak mencapai 5.066.

Dari data itu, ada lima kasus tertinggi yang tercatat. Pertama, yakni anak berhadapan dengan hukum yang mencapai 6.006 kasus. Kedua terkait pengasuhan yang menyentuh 3.160 perkara. Kemudian terjadi di dunia pendidikan dengan 1.764 kasus, kesehatan dan narkotika dengan 1.366 kasus. Terakhir terkait dengan akses pornografi dan kejahatan siber yang mencapai 1.302 kasus.

Kalau sudah begitu, dampak yang ditimbulkan tak hanya menjadikan anak sekadar korban. Efek lainnya, anak turut menjadi pelaku kekerasan. Tak perlu heran, anak merupakan alat peniru terbaik. Jadi, ketika dihadapkan oleh kebaikan, maka sikap itu yang ditiru.

Suatu siang, saya teringat sebuah artikel yang diunggah di laman Sahabat Keluarga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam artikel itu, ada yang namanya La Maeni. Bermukim di Dusun O’Menara, Desa Waiti Barat, Kecamatan Tomia, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, laki-laki berusia 67 tahun itu menjejak banyak pelajaran bagi kami.

Artikel yang diunggah pada 20 Juni 2016 itu berjudul “La Maeni: Mendidik Melalui Contoh”. La Maeni, dalam ulasan itu, dinyatakan tidak pernah sekolah imbas menjadi pelaut. Jadi, tak perlu ditanya alasan mengapa ia tak bisa membaca.

Jangan juga dia ditanyai soal pendidikan membesarkan anak. Kalau soal ikan, angin laut, atau memperbaiki kapal, mungkin ia jagonya. Tapi, di antara kesederhanaan, ada pelajaran berharga dari La Maeni terkait pola pengasuhan.

Lantaran pernah mengarungi lautan selama 30 tahun, bersenandika atau sekadar berbincang dengan anak menjadi barang langka untuknya. “Jangankan memberi nasihat, ngobrol dengan anak-anak juga hampir ngga pernah. Ya apa yang mesti diomongkan, saya ini tahu apa, entar salah lagi,” tuturnya seperti ditulis dalam artikel.

Lalu apa yang bisa diambil pelajaran? Ini yang menarik. Di antara banyak kesempatan yang dimiliki orangtua untuk membesarkan anak, seperti memberikan nasihat, La Maeni hanya menekankan soal rajin.

Sikap ini yang selalu ia coba tularkan kepada anak-anaknya. Rajin, baginya, tak kenal waktu dan tempat. Bukan sekadar omongan, anjuran itu turut ia contohkan. Di rumah, La Maeni tak pernah berhenti bersih-bersih, termasuk rajin membantu di lingkungan tinggal dan tak pernah mengeluh mencari nafkah.

Pola pendidikan itu berbuah manis. Anak bungsu La Maeni, La Nane, selalu meraih prestasi akademik di setiap pendidikan yang dilakoni, mulai sekolah dasar hingga di universitas. Saat kuliah strata satu, La Nane menempuh studi di Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin, Makassar.

Kuliah itu dijalani tanpa biaya, berkat beasiswa dari PT BCA Finance. Pada 2014, La Nane melanjutkan kuliah strata dua di Universitas Tohoku, Jepang. Di negeri sakura, ia memilih program studi Aquatic Bio-Science at Laboratory of Marine Plant Ecology. Kuliah itu juga gratis, berkat beasiswa dari LPDP Kementerian Keuangan RI.

Kami—saya dan istri—tertegun membaca artikel itu. Berbekal akses informasi, juga jenjang pendidikan yang kami tempuh, ternyata belum cukup menjadikan kami sebagai orangtua seutuhnya. Kami lupa, pendidikan yang baik itu adalah teladan.

Tak menyoal kaya, miskin, pendidikan tinggi, tanpa pendidikan, atau saling-silang contoh lainnya, membesarkan anak sejatinya hanya perlu memiliki sejumput hal: konsistensi, keteladanan, dan kesabaran.

Untuk konsistensi, para orangtua harus terus-menerus melakukan hal serupa, seperti tersenyum, sesekali menyatakan tidak, memeluk dan memberikan kecupan, atau mengucapkan terima kasih dan kata-kata pujian lainnya. Sebagai peniru ulung, lamat-lamat, sikap ini akan tertanam di benak anak.

Keteledanan, jika sukar meniru La Maeni, contoh sederhana yang dapat dilakukan bisa terkait anjuran. “Sudah malam, jangan nonton tv. Tidur atau belajar sana,” pesan bapak kepada anaknya. Ketika anak belajar, si bapak justru menonton televisi. Sikap ini sepele, tapi hasilnya luar biasa negatif jika dilakukan.

Kalau sudah semua itu dilakukan, tapi belum berbuah kesuksesan, sabarlah. Toh, anak-anak kita juga mengutarakan hal serupa, “Bunda, Yanda, sabar ya...”

  • view 82