Merajut kemesraan kembali: pantulan dari puisi rumi "Cinta dalam kefanaan"

Ahmad Muzammil
Karya Ahmad Muzammil Kategori Inspiratif
dipublikasikan 01 Januari 2017
Merajut kemesraan kembali: pantulan dari puisi rumi

Merajut kemesraan kembali: pantulan dari puisi rumi "Cinta dalam kefanaan"

Kerja kolektif sangat diperlukan dalam suatu organisasi, bahkan lebih dibutuhkan dalam diri kita sendiri. Akal dan hati harus selalu terjalin konektivitasnya, dengan keduanya gerak indera yang lain akan mengikuti. Sebab kedua alam itulah yang menjadi asas pergerakan badan, keduanya menjadi motorik. Lantas konsekuensi apa yang didapat jika salah satu saja yang bergerak? Sebelum dijawab. Mari, menyelami samudera diri.

Perasaan yang terkumpul dalam diri setiap anggota organisasi harus menuju kesatuan. Sebagaimana puisi rumi "Bila lelaki dan wanita itu menjadi satu, Kaulah yang satu itu". Sebab Tuhan adalah hakikat jiwa lelaki dan wanita.

Peleburan perasaan menuju satu tujuan amatlah penting, bahkan menjadi penentu nilai kesuksesan yang didapat. Tujuan tak akan diraih jika hanya satu person saja yang bergerak, mencoba memegang semua pelana sebagai alat pengarah menuju kesuksesan.

Ilmu sosial mengharuskan adanya simpati yang melahirkan tindak nyata dinamai empati dalam diri manusia. Bukan hanya sekedar simpati kosong belaka yang hanya diperoleh dari sentuhan sosial sekeliling. Simpati demikian mudah diraih bagi mereka yang hatinya masih hidup dalam arti lain masih bisa merasakan, masih punya feel. Jika tiap-tiap anggota tak mampu meleburkan rasa menuju kesatuan yang dianggap Rumi adalah Tuhan, namun bagi organisasi adalah tujuan final dari proyek yang diemban, maka cukuplah sifat sosial kemanusiaan dimunculkan berupa simpati dan empati. Tidakkah merasa malu pada kehidupan desa yang penuh kemesraan atau hanya sekedar simpati dan empati.

Mereka dengan mudah dan senangnya membantu sesama, seperti halnya gotong-royong dalam memindahkan rumah. Dalam dunia kesufian seperti yang dijelaskan Rumi bahwa Tuhan, jiwa yang terlepas dari 'Kita' dan 'Aku'. Masihkah kita mengaku bertuhan jika masih ada 'Kita' dan 'Aku' dalam dunia organisasi. Bukankah kita sama-sama makhluk Tuhan. Jika ini terlalu keras, paling tidak masihkah kita manusia? Jika simpati dan empati telah sirna. Jika keduanya terlalu keras, ah tidur sajalah, kelak waktunya bangun akan kau temukan arti semua ini.

Mari merajut kemesraan kembali sebab "Kau, jiwa yang bebas dari 'kita' dan 'aku', o Kau yang berupa hakikat jiwa lelaki dan wanita.

Bila lelaki dan wanita menjadi satu, Kaulah yang satu itu, bila bagian-bagian kesatuan lenyap, lihat! Kaulah kesatuan itu!

Jawabannya: Jika masih salah satu saja yang bergerak, maka suster ngesot harus selamanya berjalan mengesot.

  • view 111