Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Buku 5 Mei 2018   13:37 WIB
SKETSA NAPAK TILAS EMPAT BENUA

“…Rumbalara/rumbai lara/aku datang dari laut sebelah/menyaksikan detak napasmu/namamu tanah yang disingkirkan/namamu pelangi yang diredupkan/…” (hal. 88)

Sengaja peresensi buka kalimat paragraf ini dengan mengutip langsung dari  bagian judul buku kumpulan puisi karya Bernando J. Sujibto; Rumbalara Perjalanan. Boleh jadi, lema “rumbalara” dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) tak akan pembaca temukan. Dan boleh jadi, artinya tak akan diketahui jika pembaca tak membuka karya BJ, demikian ia biasa disapa, secara langsung.

Rumbalara adalah bahasa bangsa Aborigin yang kini kondisinya hampir punah di Australia. Bangsa ini menjadi ’namamu tanah yang disingkirkan’ sebagaimana BJ ungkap. Tepatnya, bangsa Aborigin sengaja dimusnakan oleh penjajah Eropa sejak Inggris mencaplok tanah ‘terra incognita’ itu sekitar abad XVII lalu. Kini, bangsa yang sama rasnya dengan kita, ras Mongoloid, itu menjadi ‘…pelangi yang diredupkan’ para penguasa penjajah. Dan, jangan ditanya tentang bahasa Aborigin, hanya tinggal kosa kata-kosa kata tak berarti, sama misalnya bahasa Aztex di Peru, bahasa Maya dan Inka di Meksiko, atau bahasa Indian di USA; hilang tak berjejak, tergantikan bahasa Spanyol dan Inggris. Demikian kabar lara tentang penjajahan yang hingga abad XXI ini tetap bikin sedih.

Rumbalara sangat akrab di telinga kita, boleh jadi lema ini karena satu rumpun dengan bahasa-bahasa Austronesia, sebagai cabang ras Mongoloid, dan peresensi beratensi pada Pusat Bahasa di Jakarta, agar segera memasukkan lema ini menjadi bagian integral bahasa Indonesia. Secara bahasa, kata ini sama artinya dengan ‘pelangi, aura, aurora, atau berkas cahaya yang amat indah’. Dari pengertian inilah buku karya BJ pertama dalam bidang puisi ini diangkat ke pembaca. Dengannya si penulis ingin menggambarkan secara penuh dan mendalam bagaimana rekam jejaknya selama kurang lebih 13 tahun (2003-2016) itu dalam bait-bait puisi liris penuh makna mendalam, sebagaimana diulas oleh sastrawan nasional Acep Zamzam Noor (hal. 32).

BJ membagi buku ini menjadi dua bagian. Bagian satu’ “Biogarafi yang Tak Utuh” berisi 28 puisi yang merekam jejak perjanan penulis sejak baru mengenal dunia kepenulisan sampai ia merantau ke Amerika dan Australia dalam rangka pertukaran mahasiswa (2003-2010). Adapun bagian kedua, “Rumbala Selat” berisi 57 puisi yang merekam jejaknya sejak sebelum mendapat beasiswa dari negara Turki sampai mau kembali ke tanah air (2011-2016). Menilik sebuah perjalanan panjang sang penulis, betapa sungguh sangat luar biasanya puisi-puisi yang ia telorkan.

Terlahir sebagai anak yatim tahun 1986 lalu, BJ kecil telah biasa dengan guratan takdir ganasnya kehidupan. Mondok di PP Annuqayah Daerah Nirmala selama enam tahun, guratan keganasan kehidupan tetap dihadapinya dengan sabar. K.H. Ahmad Hamidi Hasan memberikan kepercayaan kepadanya untuk membentuk dan mengurusi perpustakaan Biro Pengabdian Masyarakat (BPM) PP Annuqayah selama satu tahun, juga dijalaninya dengan tegar. Atas restu EPUH, demikian ia memanggil orang tua satu-satunya yang mendoakan perjalanannya, ia berangkat ke Pare, Kediri guna memperdalam bahasa Inggris sebagai bekal melanglang buana di hari selanjutnya. Kursus di Pare ia habiskan selama satu tahun hingga mencapai TOEFLE dengan skor 500. Atas restu EPUH jua, ia berangkat ke Yogyakarta guna berkutat dengan diskursus keilmuan di UIN SUKA. Di Yogyakarta, sebagai anak yatim tak mampu materi, ia tinggal di Pesantren Gus Zainal dengan jarak ke kampus sekitar 15 km. Ia tempuh dengan mengayuh sepeda ontel, gambaran ketegaran mengayuh sepeda ontel ini ia suguhkan dalam ‘Ontel I, Ontel II, Ontel III dan Ontel IV” (hal. 44-48).

Benar sekali kata sakti dalam kitab Ta’lim Muta’allim, man jadda wa jada, bahwa sesiapa bersungguh-sungguh dalam hidup, maka ia akan berhasil jua. Berbekal restu EPUH dan kemampuan tinggi dalam bahasa Inggris, ia diterima dengan sempurna di Selcuk University, sebuah universitas negeri bagian Provinsi Konya, Turki. Tempat di mana Allamah Jalaluddin ar-Rumi tinggal dan wafat. Proses ‘meditasi’ kehidupan yang mulai menyenangkan itu ia gambarkan dalam jejak perjalanan di tanah Anatolia. Ya, benar menyenangkan, sebab di tempat ini ia bergumul dengan artefak-artefak Romawi, Usmani sampai Turki modern. Meyenangkan pula sebab dengan bekal beasiswanya, ia hidup lebih makmur, bahkan sesekali, ia kirim sebagian beasiswanya itu untuk EPUH di rumah yang selalu merestuinya.

Menyenangkan sebab ia bergumul dengan berbagai pemikiran Timur dan Barat. Ia bertemu dengan idolanya, Orhan Pamuk, yang dahulu waktu di Yogya, buku Orhan pernah ia resensi di Kompas. Ia secara dekat memandangi gadis-gadis bernata biru khas perpaduan Eropa, Arab, Persia, dan Kaukasia. Gadis Turki, katanya pada peresensi secara langsung, memang ditakdirkan menjadi bidadari dunia. Adu haii…!  Menyenangkan, sebab ia bersulam pasir di selat Bospurus dan Dardanella, batas Asia dan Eropa (hal. 97 dan 113). Ia memancing ikan di tepi pantai Midetarania, Turki Barat, dan di Trabson, Turki Timur. Menyenangkan sebab ia pernah bersujud di madjid Kubah Biru, Istambul yang didirikan oleh Sultan Sulaiman al-Qanuni. Ia pun menginjakkan kaki di Topkapi, istana maha megah peninggalan Sultan Ahmad II (hal. 97). Menyenangkan sebab ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana museum at-Taturk di Ankara terpelihara dengan sangat baik. Ia pernah berkunjung ke hilir sungai Eufrat dan Tigris (hal. 121), menyaksikan tempat dibakarnya nabi Ibrahim oleh raja Namruz. Dan sebagainya, sungguh penggambaran tiada tara!

Semua gambaran itu tertuang dalam rekam jejak di bagian dua buku ini. Satu kata untuk buku ini, amazing. Tanpa prolog dan epilog pun buku ini sebenarnya telah luar biasa, apalagi ditambah kedua hal itu. Pantas ia mendapat apresiasi hebat dari berbagai kalangan sejak terbit sampai detik ini. Semoga buku ini menjadi pemantik tumbuh-kembangnya sastrawan (i) di bumi Madura khususnya, dan nusantara umumnya. @

 

Data Peresensi:

Ahmad Muhli Junaidi

Guru Sejarah di SMA 3 Annuqayah dan SMA Assalam, Pakong, Pamekasan.

Data Buku:

 

Judul               : Rumbalara Perjalanan

Penulis             : Bernando J. Sujibto

Editor              : Tia Setiadi

Tata Sampul    : Amalina

Tata Isi            : Ika Setiani

Pra Cetak        : Antini, Dwi, Wardi

Cetakan I        : Mei 2017

Penerbit           : PT. DIVA PRESS divisi SASTRA PERJUANGAN

Tebal               : 184 halaman

ISBN               : 978-602-61246-1-6

Harga              : Rp. 36.000,-

 

Karya : Ahmad Muhli Junaidi, S.Pd.