DI MALAYSIA KAMI TERLUNTA

Ahmad Muhli Junaidi, S.Pd.
Karya Ahmad Muhli Junaidi, S.Pd. Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 08 Juli 2017
DI MALAYSIA KAMI TERLUNTA

Tak ada yang menginginkan menjadi tenaga kerja di negeri orang. Hujan air di negeri sendiri masih lebih baik daripada hujan emas di negeri orang. Siapa pun, pasti lebih senang mendapat rezeki halal di negerinya sendiri. Tapi memang, keinginan tak selamanya padu dengan kenyataan hidup. Boleh bercita-cita jadi orang kaya, namun jangan sesalkan juga jika kenyataannya menjadi tukang becak. Ingin menjadi seorang pejabat publik terkenal, namun nyatanya menjadi tukang bangunan. Semua itu merupakan suratan takdir yang tak boleh disesali sedikitpun.

Di tengah kesulitan bangsa dalam membangun negeri kami, di tengah pengangguran yang semakin maharaja-lela, di tengah semakin mencekiknya kebutuhan hidup guna menghidupi anak-anak dan istri kami, keadaan ekonomi kami tak semakin baik jua. Kami yang besar dan kemudian menekuni profesi pertanian di tanah gersang Madura, tak cukup membantu menopang biaya hidup yang semakin mahal. Untuk mengentas semua itu, kami putuskan untuk berkerja di negeri Malaysia dengan perantara tekong[1] yang berjasa mengantarkan kami ke negeri tujuan.

Bukan enak bekerja di negeri jiran ini. Semua serba uang. Ringgit yang memang mempunyai nilai cukup tinggi dibandingkan Rupiah, telah menarik segala bangsa di dunia untuk berkerja di Malaysia. Bangsa China, Kamboja, Thailand, Miyanmar, Banglades, Srilanka, India, Pakistan, dan orang-orang dari Asia Barat Daya berjubel mengais rezeki di negeri Najib Tun Razak ini. Sungguh, pemandangan luar biasa melihat anak-anak bangsa itu bertungkus-lumus siang-malam demi sesuap nasi. Semuanya serba uang.

Tak kami sangka, secangkir kopi, yang di Madura hanya 1.000 rupiah, di negeri perantauan ini malah 1,5 ringgit, atau sekitar 4.500 rupiah. Nasi pecel yang di Madura hanya 3.000 rupian, di sini 5 ringgit, atau 17.500 rupiah. Sabun mandi yang di Madura rata-rata harganya berkisar antara 2.000 – 4.000 rupian, di sini antara 4 – 6 ringgit, atau 14.000 sampai 21.000 rupiah. Sungguh, suatu perbandingan harga ibarat langit dan bumi. Dan inilah yang menyebabkan bahwa kerja di sini bukan sesuatu yang mengenakkan.

Sama halnya dengan di Indonesia, harga-harga di atas akan bergeser bila masuk bulan puasa. Segala pengeluaran akan bertambah, dan kiriman ke sanak saudara di rumah pun ikut tersendat. Hal ini dapat kami rasakan disetiap memasuki bulan suci Ramadan. Hingga saat ini, kami  telah merasakan dua kali berpuasa di tanah rantau ini. Ramadan pertama, kami  masih tinggal di kongsi, sebuah petak sederhana yang di bangun di tengah hutan. Dibangunannya tempat ini di hutan adalah untuk menghindari Polis Diraja Malaysia yang akan menangkap orang-orang seperti kami. Mereka sebut sebagai ‘pendatang haram’ karena tak memiliki izin bekerja dan izin tempat tinggal sementara, yang disebut dengan IC dan Permi[2]t. Ramadan kedua, baru kami  sedikit lebih baik, sebab selama satu tahun ini, disela-sela kami  kirimkan ke anak-anak di Madura, kami  dapat membuat surat izin tinggal dan surat izin kerja, yang masing-masing umurnya hanya dua tahun saja.

Tak apalah, walau harga mengurus ke dua kartu itu mencapai 6 ribu ringgit atau 21.000.000 rupiah. Harga itu masih belih murah daripada kami  tertangkap Polis lalu dikirim ke tahanan imigresen[3] selama 2 bulan, setelah itu dibuang di perbatasan Indonesia-Malaysia. Biasanya dibuang di tempat rawa-rawa yang lumayan jauh dari darat. Sebuah perlakuan kurang manusiawi dari Polisi Diraja Malaysia. Tapi, memang mereka pantas memperlakukan para pendatang tak berizin itu, sesuai dengan hukum yang berlaku  di negara kerajaan ini.

Di bulan puasa ke dua ini, kami  mulai hidup tenang. Tempat tinggal boleh pesan sesuai dengan kebutuhan kerja. Kami memang pada awalnya berangkat bersama-sama bertiga melalui tekong pak Zaini Tamperuh, mulai leluasa bepergian tanpa harus takut pada aparat kerajaan. Tak usahlah diberitahu dari mana kami bertiga mendapat IC dan Permit itu, yang jelas, semuanya atas usaha yang gigih pada orang-orang Madura yang lebih dahulu menetap, ditambah memperbanyak kenalan pada penduduk Melayu sendiri. Bila banyak kenalan, urusan izin tinggal dan izin kerja terasa lebih mudah.

“Rusydi, kita patut bersyukur pada Allah. Di saat teman-teman sesama Madura masih banyak yang memilih tinggal di kongsi di tengah alas itu, kita di sini hidup lebih enak di bulan Ramadan ini.”

“Inilah hidup, Ar. Hidup adalah pilihan. Memilih yang terbaik dari beberapa terbaik lainnya. Atau memilih dari yang lumayan dari beberapa hal terjelek lainnya.”

“Iya, betul, Rus. Sebenarnya, jika kawan-kawan sesama Madura lainnya berpikir lebih mendalam sejenak, semestinya mereka lebih baik punya surat-surat resmi seperti kita ini, daripada mereka tinggal di gubuk reot kurang terurus. Mereka itu seperti segerombolan binatang saja hidupnya, tumpang-tindih dengan orang-orang yang tidak jelas juga datangnya. Bila panas kepanasan, bila hujan kehujanan. Apa salahnya mereka mengurus IC dan Permit juga.”

“Benar, Ri. Biaya 6 ribu ringgit itu tak seberapa dibandingkan dengan taruhan nyawa mereka.”

Percakapan kami ini menandai bulan Ramadan telah memasuki ujung akhir. Kami , Rusydi, Armawi dan Sudahri turun dari rumah sewa untuk karyawan di kilang[4] tekstil, menelusuri jalan Tunku Abdurahman, kawasan Petaling Jaya. Petaling Jaya ini adalah kawasan industri terbesar di Malaysia. Di tempat ini diproduksi mobil Proton buatan asli Malaysia, alat-alat konsumsi rumah tangga, alat-alat kimia, alat-alat berat dari baja. Dari Petaling Jaya kami leluasa berjalan ke Gedung Kembar Petronas yang hanya berjarak 1 KM. Dari sini, ke arah barat daya, kami  leluasa mensinggahi masjid Syah Alam, sebagai ikon umat Islam Malaysia. Ke arah barat laut, kami  pun leluasa bepergian ke Bangi dan Stadiun Bukit Jalil. Sungguh, pada tataran tertentu, Malaysia jauh melampui negeri kami  sendiri, Indonesia.

Dari jalan Tun Abdurrahman, kami jalan kaki sekitar 10 menit ke Night Market Kuala Lumpur, sebuah pasar malam yang apabila bukan di bulan puasa, buka dari pukul 17.00 sampai 22.00 waktu setempat. Karena sekarang bulan Ramadan, pasar ini buka sehabis shalat Taraweh, pukul 20.00 sampai menjelang sahur. Di tempat ini, kami bertiga biasa beli kuliner khas Malaysia dan Indonesia. Buka puasa dan makan sahur pun jika tak ikut iftar[5], biasa beli di sini. Bahkan malam ini, kami datang lagi sengaja beli baju untuk lebaran di tanah rantau, baju khas Melayu.

Sebisa mungkin, kami bertiga shalat Taraweh di masjid kerajaan Syah Alam, Selangor. Jarak dari Kuala Lumpur ke masjid ini hanya 25 KM dan ditempuh 30 menit naik motor. Keistimewaan shalat di masjid itu adalah seringnya bersalaman dengan Sultan dan Perdana Menteri Malaysia, walaupun kadang tidaklah mudah, sebab mereka di kawal Tentara Diraja Malaysia, tapi tiap tertentu, rakyat disilakan berjabat tangan dengan para pembesar itu. Dengan berpakaian ala Melayu, kami bertiga tak ada bedanya dengan penduduk asli.

Kadang kala, aku  sendirian pergi ke masjid Sultan Abdul Aziz ini, demikian nama aslinya. Pergi sendiri apabila Armawi dan Sudahri shalat taraweh di kampung-kampung setempat. Berangkat pukul 17.00, sampai di Syah Alam pukul 17.30. Menunggu iftar di beranda masjid yang dipenuhi ribuan bungkus nasi dan penghilang dahaga lainnya, telah mengobati kerinduanku akan kampung halaman di desa Montorna. Iftar di masjid negara ini sangat luar biasa mewah, tapi ada satu syarat untuk iftar, sebelum berbuka, semuanya harus shalat Maghrib berjamaah dulu. Suatu syarat yang bagiku tak berat-berat amat.

Selepas taraweh, masjid itu mengadakan pengajian dengan tema-tema yang luar biasa hebat mengenai dunia Islam; isu ISIS, isu Palestina, konflik Qatar dan lain-lain terasa hidup. Kadang kala, imam taraweh berasal dari Palestina, Yaman, Mesir, Arab Saudi, Irak, Qatar, dan Maroko. Bila bertemu dengan para imam Timur Tengah, shalat sepertinya sedang berada di Masjidil Haram saja. Walau aku  pun belum pernah ke sana. Ini kata teman yang pernah bekerja di Makkah, dan kini pindah kerja di Kuala Lumpur ini. Tengah malam, aku  pulang ke kawasan Petaling jaya, ramai menyeruak tubir jalan-jalan kota metro Malaysia ini. Di sela-selanya, tadarus al-Qur’an mengumandang syahdu, layaknya di Madura.

Larut malam, sejenak mau beranjak tidur, kulihat kamar Armawi dan Sudahri gelap, bertanda sang tuannya tidur pulas. HP-ku bergetar ada panggilan masuk. Temanku dari Sanah Tengah, Sabrawi memanggilku, ada apa malam-malam gerangan. Ia salah satu dari banyak orang Madura yang merantau ke sini dan tidak mau mengurusi dokumen pentingnya. Ia satu tahun lebih awal dan tinggal di kawasan hutan Seremban. Hutan lindung berada sebelah timur Kuala Lumpur. Sering kami  himbau agar punya IC dan Permit, tapi jawabannya selalu begini, “timbang dikasih Polis, lebih baik buat kiriman ke Madura”.

“Hallo, ada apa, Sab?”

“Kami digerebek Polis, Rus. Kami ditapal kuda dan tak bisa lari meloloskan diri.”

Ramai sekali diujung telpon sana. Ada suara melengking wanita, suara serak lekaki berpadu dengan suara Sabrawi yang parau. Sejak malam itu, Sabrawi tak bisa kami  hubungi lagi. Ini berarti ia dan orang-orang yang tinggal di petak kongsi itu telah diborgol Polis Diraja Malaysia. Jelas di depan mata, mereka akan menjadi tahanan imigresyen, dan akan dideportasi ke perbatasan Malaysia-Indonesia. Mereka tak akan pulang secara enak ke kampung halaman di Madura. Tak ada uang saku , dan hanya satu baju yang melekat di badan mereka saja yang boleh dibawa. Risiko menjadi peratau gelap di negeri orang. Malang tak dapat ditolak, untung pun tak dapat diraih.

Penggerebekan tanggal 28 Ramadan  terjadi akibat dari rentetan kejadian satu bulan lalu. Orang-orang Madura bentrok dengan orang-orang Flores. Dalam bentrokan itu, seorang Polis menjadi korban yang hendak menghentikan kejadiannya. Atas kejadian yang menimpa salah satu anggotanya, Penolong Pesuruhjaya Kanan Polis Tun Mushtafa Tan Sri Loka, Kepala Kepolisisan Kota Besar Kuala Lumpur memerintahkan agar para perusuh itu ditangkap, tak peduli dari manapun mereka. Jika mereka illegal, hukum sesuai dengan perundangan Malaysia. Perintah itu ditindak lanjuti dengan penggerebekan malam ini. Tak terhitung berapa jumlah mereka yang tertangkap.

Kami  jelas menyayangkan mengapa sering terjadi disharmonis antara orang Madura dengan orang Flores di perantauan, bukankah sama-sama satu bangsa dari Indonesia, sama-sama mengais rezeki di Malaysia, sama-sama hidup serba susah, sama-sama demi anak istri di rumah. Memang benar, bahwa orang Madura yang terlebih dahulu merantau ke Malaysia. Mereka bahkan banyak yang menjadi warga negara ini. Orang Flores barusan saja yang merantau. Mereka baru marak sekitar tahun 2000-an saja. Namun, karena orang Flores ini lebih tekun dan lebih dipercaya para toke’[6] meraka mendadak menjadi orang yang lebih makmur.

Sumbu kejadian antara orang Madura melawan orang Flores adalah kesalahpahaman dalam berinteraksi dengan orang-orang Madura. Mereka yang sama-sama perantau, kadang sulit untuk bertegur sapa. Sifat inilah yang tidak disukai oleh orang Madura, hingga menumpuk menjadi pertengkaran cukup hebat. Apalagi, kedua suku ini tak ada panutan yang mesti diikuti di rantau, misalnya ketua suku atau ulama untuk orang Madura. Praktis bila ada sesuatu yang menyangkut persoalan kesukuan dan ekonomi di rantau, tak ada orang berkharisma yang bisa menyelesaikannya. Ini bukan hanya pada Ramadan ini, tapi beberapa peristiwa sejak beberapa tahun lalu.

Besoknya, kuberitahukan pada Armawi dan Sudahri perihal kejadian semalam di hutan Seremban. Mereka berdua cenderung menyalahkan orang-orang Madura itu sendiri.

“Andaikan saja Sabrawi dan puluhan teman-teman, laki-laki dan perempuan yang sembunyi di sana, mengurusi IC dan Permit, tak mungkin mereka terusir dari tanah rantau ini.”

“Benar, Ar. Malah bukan hanya itu sebenarnya. Teman-teman di sana, atau tempat-tempat kongsi illegal lainnya, cenderung menggunakan hukum rimba. Siapa yang kuat ia yang berkuasa. Dan bukan cerita aneh lagi, terkadang sebagian dari mereka menjadi pembunuh bayaran. Atau merampok temannya sendiri yang sama-sama dari Madura.”

“Ya, tepat kamu, Su. Semoga ke depannya, kita sebagai orang Madura, menjadi sadar.”@

 

[1] Bahasa Malaysia = orang yang mengantarkan pencari kerja.

[2] IC dan Permit adalah kartu identitas dan visa kerja.

[3] Bahasa setempat tentang imigrasi.

[4] Bahasa Malaysia = Perusahaan

[5] Buka bersama.

[6] Bahasa Malaysia = majikan/bos.

  • view 89