GERSANG

Ahmad Muhli Junaidi, S.Pd.
Karya Ahmad Muhli Junaidi, S.Pd. Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 08 Juli 2017
GERSANG

Apabila bumi tak pernah dibasahi air hujan, jelas panas, bahkan menjadi gurun pasir abadi. Pada saat itu bumi akan gersang. Air sulit di dapat, tumbuhan mati kering, tanah kerontang, udara gerah panas, dan kehidupan ini tersiksa dahsyat. Makhluk hidup menggelepar kehausan, mati lemas. Manusia meradang, untuk bertahan hidup, mereka masih dapat mengungsi ke tempat-tempat yang masih berair. Sungguh kegersangan dalam hidup teramat menyiksa.

Somalia kini terpapar kegersangan dahsyat. Anak-anak mati lemas, orang tua pun tinggal onggokan kulit dan tulang. Sebuah pemandangan yang mengharu-biru dan menggetarkan jiwa kemanusiaan setiap insan yang bernurani. Jutaan jiwa siap menjemput maut, sementara lainnya menjadi pengungsi di beberapa negara tetangga, semisal Sudan, Ethiopia, Tanzania, Eritria, Chad, dan lainnya. Anehnya, kita seperti tak peduli akan nasib bangsa sesama Muslim itu. Kita lebih fokus berkutat dengan korupsi seakan-akan banjakan uang haram itu hakikat hudup yang musti dimiliki dengan rakus, padahal sebenarnya fatamorgana, maharajalela dengan dugem, atau bahkan tak pernah ada yang tahu bagaimana kondisi bangsa Muslim Somalia itu. Miris!

***

Jejak langkahku mengikuti PKPU (Posko Keadilan Peduli Umat) telah mengantarkanku ke sebuah negara yang teramat miskin di dunia. Benar saja, Somalia memang negara gagal. Banyak provinsi kehilangan kontrol Mogadishu, seperti Punt Land yang terletak sebelah timur laut Somalia, Kiyan Janub Gharbi Shumal, yang terletak di Somalia barat daya, Jalka’u, terletak di timur laut Somalia, Ogaden yang kemudian dirampas Ethiopia, praktis wilayah-wilayah itu berpemerintahan sendiri-sendiri. Sebuah negara kesatuan yang utuh sangat sulit terbentuk karena perang suku dan perang perbatasan dengan Ethiopia dan Kenya. Somalia benar-benar lebur dalam  kehancuran negara bangsa dan kelaparan menyayat.

Pagi hari tak seberapa meninggi di Addis Ababa, tapi terpaan hawa panas menyengat luar biasa. Bersama delapan relawan PKPU yang diutus secara langsung dari pusat, aku turun dari Qatar Airways yang membawa kami dari Jakarta, namun masih transit di Dhuha, ibu kota Qatar, dan disambut dengan perwakilan kedutaan Indonesia di Addis Ababa, Ethiopia, merangkap Republik Djibouti dan Uni Afrika, yang di dalamnya ada Somalia, mencoba tetap bertahan di tengah kelaparan dan perang saudara. Pak Imam Santoso, sang duta besar, memeluk kami bergantian. Beliau dengan cekatan menginstruksikan bawahannya agar sementara waktu mengistirahatkan kami di wisma duta besar Addis Ababa. Kami dibawa dua mobil tua produk Jepang tahun 1970. Mobil itu menderu di tengah panas mentari yang gerah. Bunyinya memelas, persis melasan rakyat Somalia yang terpapar kelaparan.

Enam jam kami istirakat di wisma duta besar Indonesia. Kemudian kami menuju barak truk yang telah disediakan untuk membawa bekal kemanusiaan yang disumbangkan oleh umat Islam Indonesia. Ada empat truk yang akan membawa bekal itu, dan akan berangkat dari Addis Ababa, ibukota Ethiopia pukul 17.30 waktu Afrika Timur. Sampai di Mugadishu pukul 07.45 keesokan hari. Berarti lebih 14 jam kami tergonjang-ganjing dalam truk UNHCR (badan PBB yang menangani pengungsi dan bantuan kemanusiaan). Pesawat bantuan tak mungkin mendarat di bandara internasional Mugadishu yang lebur. Jika memaksakan diri pesawat akan kandas di tengah hujan peluru dan mortir.

***

Sampai di Mogadishu perasaan ini tercekat kelam. Betapa tidak, ibu kota negara gagal ini benar-benar hancur berkeping. Puing-puing bekas perang saudara tiada henti nampak dibiarkan saja tak terawat. Kami, ditambah staf kedutaan Indonesia di Addis Ababa sebanyak tiga orang, disambut oleh Carlos Stevano, staf UNHCR dan Osman Manne, staf presiden Hassan Syeikh Mahmud, dan beberapa tentara pemerintah dengan senjata terkokang. Di tengah kelaparan mendera, darurat perang saudara memang tetap menghantui Somalia. Walau kini api peperangan itu mulai mereda, tapi hujan peluru dan mortir sesekali terjadi di kota tua ini. Makanya, aku dan tim PKPU dikawal oleh tentara dengan senjata lengkap. Sekilas aku lihat, senjata tentara itu telah menua dan sebagian seperti rakitan sendiri, karena tidak benar-benar mirip dengan AK-47 atau M-16, senjata standar internasional.

Kami sampai di wisma Palang Merah Internasional dan sekaligus wisma UNHCR menjelang Isya’. Kumandang adzan di masjid Jami’ Fakhruddin, Mogadishu terdengar sendu, khas adzan Timur Tengah. Syukurlah, masjid terbesar di Mogadishu ini masih utuh dan cukup megah. Peperangan ternyata tidak menyasar masjid bersejarah ini. Kami shalat Isya’ berjamaah dengan kaum muslimin Somalia. Selesai shalat kami dikerubungi jamaah yang dengan hangat memeluk kami. Di tengah-tengah jamaah itu ada sang presiden melebur indah dengan para rakyat. Aku tertekun sejenak, riuhan jamaah Isya’ ini seakan tak menyiratkan bahwa Somalia dilanda kelaparan dahsyat.

Assalamu’alaikum. Kaifa Haluk ya ikhna billah[1]”. Kata sang Presiden, Hassan Syeikh Mahmud. Memang bahasa harian mereka adalah bahasa Arab dan Somali, yang sebenarnya, bahasa Somali itu sendiri adalah sinkritis antara bahasa Arab dengan bahasa Swahili, bahasa umat Islam di sebagian besar Afrika Timur dan Tengah. Bahasa Somali lahir seperti kelahiran bahasa Urdu di anak Benua India, di mana ia lahir atas perpaduan bahasa Arab, Persia dan Hindustani/Benggala.

Wa’alaikumsalam. Alhamdulillah, nahnu bi khair[2]”. Kami semua, tim relawan PKPU memang dapat berkomunikasi aktif bahasa Arab dan Inggris. Ini syarat bagi relawan PKPU yang ditugaskan di dunia internasional. Percakapan pun mengalir dengan hangat seakan kami dan mereka tak menganal batas geografis. Walaui hanya beberapa menit saling kenal, kami pun melebur dengan masyarakat Mugadishu. “Subhanallah, betapa agung pengikat akidah-Mu’, gumamku dalam hati.

“Kaifa bilấdul muslimữn fἷ Indonesiyi?”[3]

“Alhamdulillấh, bilấdunấ al-muslimuna Indonesiyi ấman.”[4]

“Syukron ilallấh wa ila nabiyyi mursalin.”[5]

Percakapan kami dengan sang presiden berlangsung amat cair. Aku lihat raut muka beliau, beban berat perang yang melanda bangsanya terasa mengelayut di sana. Dalam umur yang telah menua, sekitar 70 tahun dalam tafsiranku, beliau dihadapkan pada keadaan negara yang compang-camping. Kondisi negara yang benar-benar hancur. Benar-benar kehilangan bentuk.

Tapi, sekilas menyiratkan keteguhan seorang pemimpin kaum Muslimin Somalia yang identik dengan ketabahan dan kesabaran. Hassan Syeikh Mahmud memang presiden pilihan terbaik rakyat Somalia

Kami menginap di kantor UNHCR itu. Sebab besok pagi kami harus segera mendistribusikan amanah umat Islam ini ke berbagai kantong kaum muslimin yang dilanda kelaparan dahsyat tersebut. Wilayah terparah terdapat di kota Gardo, Hordio, dan Bosaso provinsi Puntland, yang biasa disebut Tanduk Afrika. Dari Mugadishu, kami harus menempuh perjalanan panjang lagi sekitar 14 jam, melewati kota Giohar, Obbia dan Eil, di sepanjang pantai selatan Samudera Hindia. Di tengah-tengah perjalanan menuju sasaran, kami menerawang nanar memperhatikan tanah-tanah gersang di kanan kiri jalanan beraspal yang mulai mengelupas itu. Sungguh suatu pemandangan yang mendebarkan, mengingat di kota-kota yang aku sebut itu masih di luar kontrol pusat. Praktis, kota-kota itu dikuasai oleh kepala-kepala suku, di mana sebagian anak buahnya menjadi prompak di lautan lepas.

Tak jarang pula, kami harus turun dari truk UNHCR guna menjalani pemeriksaan ketat oleh tentara-tentara suku yang kurus kering. Tak jarang pula kami memberikan batuan pada mereka walau memang bukan tujuan yang sebenarnya. Sopir kami, Omar Habush, berkebangsaan Sudan, sangat fasih melayani pemeriksaan demi pemeriksaan itu. Dan kami pun tak pernah mengalami kesulitan berarti dalam tiap pemeriksaan melintasi kota-kota tersebut. Cukup dengan Assalamu’alikum, raut wajah yang semula tegang, menjadi sirna. Dan iman ternyata masih mengikat, dan bahkan akan selalu mengikat sebagai saudara lain bangsa.

Perkiraan 14 jam perjananan, nyatanya maju menjadi 12 jam ke kota Gardo, sebuah kota terdalam dari provinsi Puntland. Petugas PBB menyambut kami, dan menanyakan apa saja bantuan yang kami bawa; obat-obatan, beras dan selimut sangat dibutuhkan di sini. Empat truk besar milik UNHCR ini adalah sumbangan masyarakat muslim Indonesia, dan truk pertama berisi obat-obatan, truk kedua berisi beras, truk ketiga berisi selimut, me instan, dan barang-barang rumah tangga lainnya, truk terakhir berisi minyak goreng keemasan, sabun mandi dan pasta gigi dan lain-lain. Ada sekitar 40 ton bantuan yang kami bawa. Allahu Akbar…betapa besar batuan saudara seiman kami dari negeri kepulaun ini.

Segera, barang bantuan itu dimasukkan ke gudang penyimpanan UNHCR di tengah kota Gardo. Para pekerja dari UNHCR yang terdiri dari masyarakat setempat sangat girang menurunkan barang-barang bantuan kaum muslimin Indonesia. Sebagian mereka aku dekati. Salamku dijawab dengan fasih, dan bahasa Arabnya memang sangat baik. Demikian pula dialog berbahasa Inggris pun, sangat lancar. Sepintas aku tak begitu yakin dengan kemampuan pekerja itu bahwa Somalia sangat lebur dalam kelaparan, dan rakyatnya pun tak mungkin sempat belajar. Tapi keraguan itu lenyap setelah 10 pekerja itu satu persatu kudekati, dan Subhanallah… ternyata semua fasih bilingual lenguage. Gumamku berantakan, kapan para pemuda ini belajar? Atau, mereka fasih berbahasa karena memang seringnya berinteraksi dengan orang-orang asing yang datang membawa bantuan ke negeri ini?

Semalam kami menginap di wisma UNHCR kota Gardo. Pagi sekali selepas shalat Subuh, kami berangkat ke tempat pengungsian di desa Dakkid, 30 KM dari kota Gardo. Innalillah….Tepat sekali gambaran berita-berita internasional itu. Sulit aku gambarkan suasana di kamp pengungsian ini. Sangat merana! Sebagian besar terdiri dari ibu-ibu dan anak-anaknya, tua muda sangat kurus. Anak-anak dengan tatapan kosong memelas. Perut meraka membesar karena busung lapar mendera tanpa ampun, dan mata-mata mereka melotot besar seakan mau melompat dari tempurung kepala mereka. Air mataku menetes tak terperikan. Salah apa mereka sampai terhukum sedemikian hebat. Dosa apa mereka hingga terpapar nasib mengerikan ini. Mereka muslim, mereka taat pada hukum Ilahi. Menjalankan shalat lima waktu bersama kami, walau dengan kaki terseok. Tapi memang, cobaan yang mereka terima bukan karena mereka ingkar pada Syariah Islam, bukan! Bahkan, cobaan itu datang dari rasa keadilan Allah SWT untuk menguji kekuatan iman mereka karena mereka memang terkenal dengan kekuatan juang iman yang dahsyat.

Tak ada cerita dari bangsa ini sejak ratusan tahun lalu waktu di bawah penjajah Eropa, mereka menggadaikan iman gara-gara kelaparan, misalnya. Tak ada cerita mereka murtad dari Islam yang hanif, gara-gara diiming-imingi bantuan misalnya. Mereka tegar, setegar karang dihantam ombak semudera. Mereka kokoh memegang prinsip kebenaran Islam. Dan cobaan kelaparan itu memang telah disesuaikan dengan kadar keimanan mereka. Bukankah kita akan selalu dicoba dengan berbagai godaan keduniaan sesuai dengan kadar iman kita? Allah SWT tak akan mencoba bangsa Somalia ini sedemikian dahsyat jika rasa keimanan mereka sangat lemah. Sungguh luar biasa anak keturuan Bilal bin Rabbah ini. Subhanallah…!

Tim relawan PKPU merangkat ke kota lainnya dengan perasaan masygul. Air mata kami berlinang tanpa henti. Sopir kami sedikit tegar, karena mungkin telah biasa berhadapan dengan kondisi menyayat ini. Hassan Habush, saudara Omar Habush, sopir di truk satunya berujar, “Ta’al hunak. Nadzhabu ila al-Hordio[6]”. Kami hanya mengikuti tanpa kata.

Satu jam kemudian, kami sampai di tengah kota Hordio. Shalat Dhuhur berjamaah kami dirikan. Kamp pengungsi di kota itu terletak di pinggiran kota, sekitar 15 menit dari posko UNHCR lainnya. Tak ada bedanya dengan kamp di desa Dakkid, kamp pinggiran kota Hordio pun sangat memprihatinkan. Kamp terbesar di Somalia ini dihuni sekitar 5.000 pengungsi. Mereka berjubel menyambut kedatangan bantuan kami. Di pojok posko, ada bendera negara Turki, Arab Saudi, Qatar, Perancis, dan USA. Negara-negara ini menerjunkan bantuan besar-besaran. Tapi toh walau begitu, kamp pinggiran kota Hordio ini tetap masih sangat membutuhkan bantuan internasional lainnya.

Napak tilas terakhir adalah ke kota Bosaso, tepat di Tanduk Afrika. Dua jam perjalanan darat dari kota Hordio. Misi terkahir ini merupakan misi kemanusiaan tersulit, sebab kekacauan masih sering terjadi di kota ini. Jika tak hati-hati, tim relawan PKPU akan terjebak di tengah kontak senjata antar klan yang terus berseteru. Kabar baiknya, klan-klan yang berseteru itu tak pernah mengganggu bantuan asing yang tiba di kota itu. Jadi, walau masih terjadi peperangan, tak usah khawatir bantuan tim kami tak sampai di tangan pengungsi. Ashar kami tiba. Beberapa lelaki menghampiri kami. Dengan bahasa Arab yang cukup baik mereka bercakap dengan kami. Dari mereka kami tahu tentang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan, yakni beras dan sembako lainnya. Sementara obat-obatan telah diterjunkan oleh negara Turki dan Arab Saudi. Truk terakhir kami memang hanya berisi beras dan sembako lainnya. Menjadi pasti dengan kebutuhan masyarakat di kamp ini.

Sama dengan kamp dua pengungsi terdahulu, kondisi masyarakat Somalia di kamp ini sangat memprihatinkan. Sepintas kulihat pandangan mata ibu-ibu tua dan anak-anak kecil, kuyu dan sayu. Tapi tetap tegar, setegar karang di tengah ombak lautan. Sangat luar biasa!

Aku sadar memang, bahwa tiap bantuan dunia internasional yang masuk ke Somalia ini hanya ibarat fatamorgana di tengah musim kemarau mendera. Sebab, tak mungkin negara-negara di dunia ini tiap waktu mengirimkan bantuan dengan cuma-cuma. Ada konsekuensi yang harus diterima oleh negara Somalia nantinya. Entah apa, aku kurang paham juga. Lebih-lebih bantuan dari negera-negara non-muslim. Jelas sekali ada pambrih di baliknya. Semisalnya, penerapan hukum Islam yang selalu USA kritik karena melanggar HAM, demokrasi dan lainnya.

Fatamorgana akan semakin jelas terlihat apabila aku ingat bagaimana standar ganda USA dalam berhubungan dengan dunia Islam. Dan ini apabila umat Islam dunia kurang peduli atas kondisi Somalia, maka negeri gagal ini akan tersendera di kemudian hari. Fatamorgana di atas langit Somalia masih terlalu tebal untuk disingkap.@

 

 

[1] Apa kabar saudara kami. Arti harfiyahnya: Saudara kami dengan Allah.

[2] Kami baik-baik saja.

[3] Bagaimana kondisi umat Islam Indonesia?

[4] Syukur pada Allah, negeri kami, kaum muslimin Indonesia dalam keadaan aman.

[5] Bersyukurlah pada Allah dan atas junjungan kita Nabi Muhammad SAW.

[6] Mari, ke sana. Kita berangkat ke Hordio

  • view 60