Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Inspiratif 12 Juni 2018   17:01 WIB
''merayakan kehidupan (di dalam rasa syukur)''

Ketika eksistensi tubuh ini di hadapkan dengan kenyataan hidup yang penuh dengan kerumitan,

Kerumitan itu menyeruak ke dalam permukaan, ketika kontradiksi terjadi antara harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan itu sendiri,

Semua ini menciptakan kecemasan, rasa hawatir dan penderitaan,

Di hadapan samudera realitas kehidupan ini sendiri aku membenamkan rasa kesedihanku di dalam lautan yang dalam, bahwa setiap yang terlihat, terasa, semua berada di dalam kenihilisme (tanpa makna),

Dan kini rasa putus asa mulai menyerang seluruh bagian tubuh ini, di hadapan milyaran manusia dalam menjalani hidup aku terhempas,meratapi setiap kenyataan yang harus aku jalani,

Namun hentakan udara yang terhirup, sambaran sinar matahari, bumi yang mengeluarkan air dan bermacam-macam makanan menyadarkanku, bagaikan sambaran petir di tengah hari bolong,

Aku bagaikan manusia yang baru keluar dari gua kesempitan fikiranku sendiri, aku melepaskan kepasunganku dari kekerdilanku dalam mempersepsi hidup ini,

Hidup ini bukanlah serumit apa yang aku persepsi, bahwa setiap udara yang aku hirup, hangatnya sinar matahari yang memberikan kehidupan, penopang kebutuhanku di dalam bumi yang mengeluarkan air dan berbagai macam makanan,

menyadarkanku bahwa kenikmatan dan rasa syukur itu adalah suatu aksen keindahan yang tak memiliki batas serta nilai ukur, karena setiap detik,menit,jam, hari bahkan sepanjang hayat hidupku, aku selalu mendapatkanya,

Teringat ketika ''ALLAH'' S.W.T, berbicara di dalam salah satu firmanya ''فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ'' (maka nikmat tuhanmu manakah yang kamu dustakan), hal ini meresapi seluruh lerung sanubariku bahwa esensi sejati dari hidup ini berada di dalam titik kuadrat sang pemberi hidup itu sendiri,

Aku menyadari bahwa bersuka cita dalam realitas hidup ini adalah dengan meletakan azaz rasa syukur itu di dalam afleksi utama terhadap waktu yang kita miliki di dalam kehidupan yang ringkih dan tidak pasti,

Dengan begitu kita akan sampai kepada gerbang pintu ''eudomania'' (kepenuhan hidup), yang tidak terukur dengan materi, nama baik (tahta), popularitas, tetapi dengan memeluk kenyataan hidup yang kita jalani.

Karya : AhmAd JefRi Setiawan