DUKA ROHINGNYA, DUKA SELURUH UMAT MANUSIA

AhmAd JefRi Setiawan
Karya AhmAd JefRi Setiawan Kategori Inspiratif
dipublikasikan 10 September 2017
DUKA ROHINGNYA, DUKA SELURUH UMAT MANUSIA

                 
                                   
Bayangkan 
kamu tinggal di tempat yang sudah berabad-abad lamanya nenek moyang kamu tingali, namum sampai detik ini kamu tidak mendapatkan pengakuan sebagai  bagian dari warga negara yang diakui, di mana kamu harus hidup di dalam keterbatasan, tidak adanya pekerjaan, pendidikan untuk anak-anakmu, akses kesehatan, kamu harus bertahan hidup ketika negara tidak memberikanmu akses untuk mendapatkan makanan untuk bertahan hidup, tanpa pekerjaan, tempat tinggal yang layak, kamu harus bertahan hidup untuk diri kamu dan keluargamu.

                          Bayangkan ketika kamu harus menjadi salah satu kelompok etnik minoritas di sebuah negara, namun kehadiranmu dan kelompokmu tidak pernah diakui, karena kehadiranmu dan kelompokmu hanya sebagai kotoran yang harus di bersihkan, mereka (otoritas negara/ warga mayoritas) bersifat diskriminatif, rasialis, terhadapmu, mereka teramat sangat fanatik membencimu karena kamu terlahir sangat berbeda, warna kulit berbeda, bahasa yang berbeda, isi kepercayaan (agama) berbeda, mereka (otoritas negara/ warga mayoritas) melakukan segala cara untuk membuatmu terusir secara paksa  di tempat kamu terlahir dan di besarkan, di tempat nenek moyang kamu tingali berabad-abad lamanya.

                 Dan kini situasi tersulit menghampiri kamu dan semua kelompokmu, mereka mulai bertindak destruktif  terhadap kamu, mereka mulai melakukan pembakaran-pembakaran, pembunuhan secara keji,  di saat penyerangan terjadi kamu sedang berada di lokasi berbeda, istri dan anak terkecilmu (8.th) sedang di rumah, sementara kamu dan anak terbesarmu (14.th) sedang berada di ladang, dari kejauhan terlihat asap membumbung tinggi di lokasi pemukiman kamu tinggal, kamu sangat panik! ,dan segera berlari, terlihat sepanjang jalan mayat-mayat bergelimpangan, mereka meninggal dengan cara mengenaskan, luka bakar sekujur tubuh atau kondisi jasad yang tidak lengkap (leher tergorok, tangan terputus), kamu mengenali mayat-mayat itu adalah bagian dari kelompokmu, kamu semakin panik!, ketika melihat rumahmu ,betapa kagetnya kamu!, bahwa semuanya rata dengan tanah, terlihat sisa-sisa asap terbakar di balik reruntuhan rumahmu, kamu terus memangil-manggil istrimu dan anak terkecilmu, betapa hancurnya perasaan kamu!!, ketika harus menyaksikan istri dan anak terkecilmu dalam kondisi yang mengenaskan, (mati terbakar di sekujur tubuh).

               Kini perasaanmu begitu hancur menyaksikan apa yang terjadi terhadap keluargamu, kamu mungkin masih dalam keadaan bernafas (hidup), tapi jiwamu mati, karena kamu berfikir tidak ada harapan lagi untuk hidup, kamu masih mempunyai anak terbesarmu (14.th) yang sama-sama merasakan kepedihan yang amat mendalam, kamu dan anak terbesarmu beserta ratusan ribu kelompokmu pergi tanpa membawa apapun selain pakaian di badan, karena rumah dan pakaianmu lenyap habis terbakar, kamu dan ribuan kelompokmu pergi mengungsi untuk mendapatkan pertolongan, keterbatasan membuatmu mengungsi hanya sampai perbatasan batas negara tetangga, hari demi hari  kamu di pengungsian kondisimu dan ribuan kelompokmu sangat memperihatinkan, karena makanan yang kamu dapatkan sangat terbatas,  banyak dari kelompokmu harus meregang nyawa karena sakit tak terobati atau harus mati kelaparan.

                      Ini lah gambaran situasi yang di hadapi salah satu kelompok entik minoritas ROHINGNYA di myanmar, hati nurani kita sangat tersentuh dengan situasi yang terjadi saat ini, apa yang membuat otoritas negara myanmar beserta masyarakat penganut kepercayaan mayoritas bertindak di luar batas-batas kemanusiaanya, apapun alasan yang menguatkanya, atas azas kemanusiaan kita sangat mengecam!, mengutuk! apa yang terjadi saat ini di rakhine state , ini adalah pelanggaran berat hak asasi manusia yang di lakukan otoritas negara myanmar terhadapak kelompok etnik rohingnya, kita semua sangat mengharapkan melalui otoritas hukum internasional PBB agar segera dapat di selesaikan langkah-langkah hukum untuk otoritas negara myanmar dan di kembalikanya etnik rohingnya menjadi bagian dari warga negara myanmar, karena mereka sudah mendiami tanah kelahiran mereka selama berabad-abad di rakhine state.

            Ribuan nyawa mati secara mengenaskan, ratusan rumah terbakar rata dengan tanah, ratusan ribu manusia harus mengungsi di dalam keadaan kelaparan, duka rohingnya adalah duka bagi seluruh umat manusia, kita mengutuk!, kita membela!, bukan karena kita memiliki kepercayaan yang sama (islam), kita mengutuk!, kita membela! karena kita adalah manusia yang sama-sama memiliki jiwa karena  kita adalah creatures that  have flavor  (mahluk yang memiliki rasa), kita mengutuk!, kita membela! karena kita adalah conscience  (mahluk berhati nurani), apa yang terjadi jika keadaan kita saat ini ada di posisi mereka?, apa yang terjadi jika kita menjadi salah satu dari mereka yang harus kehilangan keluarga, karena harus di bantai secara tidak manusiawi,? 

              Cara mereka memperlakukan kelompok etnik rohingnya lebih dari sekedar motif kebencian agama, mereka tidak pernah mengagap etnik rohingnya sebagai manusia yang mempunyai jiwa ,dan martabatnya sebagai manusia, kebencian mereka tereksekusi lewat pembataian keji,  pembakaran tempat tinggal, pengusiran secara paksa, karena mereka hanya melihat sisi animalitas yaitu, ketika persepsi manusia terhadap manusia lain hanya di lihat sebagai kumpulan binatang, tanpa rasa, fikiran dan jiwa,  porsi animalitas sangat kental dan melekat di fikiran mereka sehingga  melihat mereka hanya sebagai kumpulan kotoran yang harus di singkirkan dan di bersihkan di dalam kesatuan wilayah mereka, mereka lalu menjadi banal yaitu, suatu kejahatan tidak lagi di kenali sebagai perbuatan yang salah, tetapi dijadikan pembenaran untuk melakukan kejahatan, lalu terjadilah genosida (pembantaian besar-besaran secara sistematis terhadap kelompok, suku, dengan maksud membuat musnah bangsa/kelompok tersebut).

                 Delusi (Kesalahan cara pandang terhadap kehidupan) membuat otoritas negara myanmar maupun penganut isi kepercayaan (agama) mayoritas masyarakat di myanmar cemas terhadap eksistensi etnik rohingnya, karena mereka adalah etnik yang memiliki perbedaan sangat kontras (bentuk fisik. agama) di banding etnik suku lain di myanmar, mereka mulai mengklaim bahwa etnik rohingnya  bukan menjadi bagian kesatuan dari wilayah negara mereka, kenyataan yang terjadi selama berabad-abad lamanya etnik rohingnya sudah berada di salah satu wilayah negara myanmar, mereka mengambil kebijakan sangat diskriminatif, tidak adanya pengakuan kewarganegaraan , pembekuan terhadap semua akses  kehidupan melaui pendidikan, suplai makanan, listrik dan pembatasan wilayah.

                  SEJARAH sisi gelap manusia kembali terulang kita mengingat adolf hitler dengan sistem genosidanya yang membantai sekitar 11.juta umat yahudi, sekarang kita di hadapkan kepada sejarah kelam lainya sistem genosida terhadap etnik rohingnya yang merobek hati nurani kita sebagai manusia, kita tidak harus diam! membiarkan ini terjadi karena ''kehidupan kita yang ringkih dan sementara ini, kita memilih terlibat dalam melawan semua kebhatilan, karena kita adalah manusia mahluk yang memiliki rasa di dalam merasa menjadi manusia''.
            

  • view 49