Facebook dan Plendungan Cinta

Firin Ahmad
Karya Firin Ahmad Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Maret 2016
Facebook dan Plendungan Cinta

Facebook dan Plendungan Cinta

Entah mengapa, setiap melihat nama mu dengan disampingnya ada bunderan ijo (online fb) hatiku mendadak riang dan berjingkrak-jingkrak. Ingin rasanya ku chat kamu untuk sekedar basa-basi menanyakan kabar, namun apa daya, rasa takut mengusik ketentramanmu dan rasa takut tidak digagas yang begitu besar membuat saya mengurungkan niatan untuk sekedar say hello tersebut.

Alhasil, setelah mengeklik namamu, dengan niatan awal ingin chattingan pun berubah menjadi meng-klik namamu untuk melihat profilmu, siapa tau ada kabar terbaru di timeline mu. Lha yo gimana lagi, yo mung facebook tok seng iso tak nggo nye-talking dirimu je. Untuk itu, tak sopan rasanya jika saya tidak mengucapkan terimakasih yang teramat sangat kepada lek Mark Zuckerberg yang telah menciptakan facebook, sehingga saya bisa kepo-in kamu dan tau berita terbaru tentang mu.

Tak cukup sampai disitu, facebook pun seolah-olah tau, kalo sebenarnya saya sangat mengidolakan atau mengagumi atau bahkan mencintaimu, haha, la gimana, namamu selalu berada diurutan teratas dari sekian banyak teman facebook saya yang online lho. Saya juga ndak tau, apakah itu cuma kebetulan belaka, ato memang facebook benar-benar tau kalo saya mengidolakan kamu. Sekali lagi, terima kasih saya ucapkan kepada ?lek Mark Zuckerberg.

Ah, urusan perasaan memang selalu rumit, banyak teman-teman saya yang bilang kalo cinta itu harus diungkapkan, biar lega atau plong di hati. Namun bagi saya, agaknya pernyataan tersebut tidak selamanya benar, lha yo pie, wong nyatane gak semua orang berani menyatakanya perasaan to? Bagi manusia cupu seperti saya, mencintai secara diam-diam itu lebih kelihatan nyeni dan mbois.

Saya menganut filosofi plendungan (balon) dalam urusan percintaan. Hati ibarat plendungan, perasaan ibarat ababnya (anginya), dan kamu ibarat seng nyebul (yang niup), kamu tiup plendungan tersebut, dan perlahan namun pasti, plendungan tersebut semakin besar, semakin besar, dan sekarang plendungan yang kamu tiup sudah menjadi sangat besar, mungkin sudah sebesar planet merkurius (haha, terlalu hiperbola ya? ). pokoknya plendungan cinta yang kamu tiup dihatiku itu sudah layak mendapat gelar Guuueeeddiii khas jawa timuran, (sedikit keunikan arek-arek jawa timuran, dimana kalo mengucapkan sesuatu yang ?sangat? atau ?terlalu? gak perlu pake imbuhan banget dibelakangnya, cukup dengan menambah hurup U ditengah kata, contoh: Gueedii : gede banget, Cuuiilik : cilik banget. eh, la kok malah ngrasani wong jawa timuran, sorry ya rek)

Kembali lagi ke plendungan, saya lebih memilih plendungan cinta? tersebut tetap mblendung besar seperti saat ini, makanya perasaan ini biarlah tetap mengembang di hati ini, biarlah saya sendiri yang menanggung perasaan ini. Saya takut kalo perasaan ini nekat saya ungkapkan, lalu tiba-tiba plendungan cinta di hati ini ngabar (menguap) secara perlahan, dan akhirnya plendungan tersebut kempes lagi, lak yo eman-eman to?

Biarkan saja plendungan ini begini, nanti kalo kamu sudah punya pacar ato mungkin sudah menikah, plendungan ini akan kempes dengan sendirinya, atau bahkan akan mbledooss DOOOORRR.

Curhatan manusia cupu yang sedang bingung membuat judul Tugas Akhir.

  • view 199