Beginilah Budaya Literasi Kita!

Ahmad Alfi
Karya Ahmad Alfi Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 28 Februari 2016
Beginilah Budaya Literasi Kita!

Berawal dari butir ketiga ?Sumpah Pemuda? lahirlah bahasa persatuan ?Bahasa Indonesia? sebagai bahasa negara. Yang mana ditetapkan sebagai bahasa negara dalam Pasal 36 UUD 1945.Bagaimana mengembangkan dan melestarikan bahasa Indonesia. Padahal dalam berbangsa bernegara tidak akan bisa lepas dari berbahasa, bahasa Indonesia. Telah terbukti bahwa bahasa menjadi salah satu kekuatan bangsa atau negara dengan adanya politik bahasa.

Bahasa harus disyukuri dan harus dinikmati. Ketika kita berbicara bahasa merupakan suatu hal yang biasa, maka coba bayangkan ketika dalam suatu waktu yang terdesak dilarang berbahasa selama 15 menit saja. Maka yang terjadi adalah tekanan batin. Maka sudah sepatutnya bahasa harus disyukuri.

Berbicara bahasa juga tidak lepas dari komitmen kita untuk bangga dan cinta terhadap bahasa, bahasa Indonesia. Berawal dari cinta dan bangga akan membangun komitmen dan integritas bahasa Indonesia.

Didalam suatu kampus ada banyak mahasiswa dari seluruh indonesia. Ini menjadi penting bagaimana bahasa Indonesia mampu menjadi pemersatu bangsa yang berfungsi sebagai alat komunikasi. Mengingat mahasiswa dari seluruh daerah wilayah Indonesia, mempunyai bahasa daerah masing-masing. Maka sudah seyogyanya kita bersyukur bahwa Indonesia mempunyai bahasa nasionalnya sendiri, bahasa Indonesia.

Bahasa juga berdampak dalam psikologi siapapun. Untuk bisa menjadi yang terbaik didalam komunikasi adalah ketika bisa memanfaat bahasa yang santun, santun karena apa? Dapat kita analogikan ketika kita menjadi orang yang pertama menyapa dengan sapaan dan senyuman terlebih dahulu saat bertemu orang yang belum kita kenal, maka orang yang juga belum mengenal kita akan membalas dengan senyuman serta bahasa yang baik dan santun yang mereka miliki. Hal ini sama dengan perumpamaan ?Tangan di atas lebih baik tangan dibawah?. Yang dapat kita artikan, tatkala kita memberi dari situlah kekuatan akan kita dapatkan ( yaitu berupa balasan sapaan dan senyuman tadi) .

Sekarang bagaimana upaya membina dan mengembangkan bahasa Indonesia di kampus? Kuncinya adalah budaya literasi. Melalui budaya literasi, bahasa Indonesia dapat berkembang. Mengembangkan dan membina bahasa didalam budaya literasi mencakupi empat aspek keterampilan berbahasa yaitu mendengar, berbicara, membaca dan menulis.

Bagaimana berbicara? Berbicara yakni menerapkan bahasa yang benar dan santun dalam kehidupan sehari-hari kepada siapapun, dimanapun, kapanpun, dalam konteks apapun, tak menjadi masalah. Sehingga upaya ini (berbicara), harus kita bahas mengenai bagaimana membangun bahasa yang santun. Bahwasanya bahasa yang santun itu akan tercermin dari lisan. Seorang budayawan dan penyair Sukmawan Murjiotmo mengatakan, kita melihat seseorang dari innerbeuty. Innerbeuty ini akan nampak dari hati seseorang yang sebenarnya dengan keikhlasan kesungguhan menyampaikan bahasanya untuk bisa menyampaikan ide dan gagasannya secara langsung.

Generasi kampus menjadi kata kunci untuk membina dan mengembangkan budaya literasi. Tidak hanya melalui budaya menulis di koran, tidak hanya melalui budaya menulis buku. Akan tetapi bisa juga melalui kelompok-kelompok diskusi buku dan kegitan kepenulisan dalam kampus. Seperti Fordista (forum diskusi dan riset ilmiah) yang dikemas oleh mahasiswa IAIN Surakarta. Sebenarnya yang seperti inilah yang bisa digunakan untuk mengembangkan budaya literasi.

Budaya literasi dalam implementasi bahasa bisa dikuatkan melalui pembiasaan. Hanya bisa dilakukan dengan pemaksaan, maka budaya membaca harus dipaksakan. Tetapi integrasi keilmuan secara makro, kita sudah bisa menjelaskan dengan teknik. Dengan begitu keilmuan dengan eksistensi budaya membaca dan menulis akan berindikasikan bahwa budaya literasi terus berjalan dan berkembang. Pada intinya, pemaksaan untuk pembiasaan kegiatan membaca dan menulis akan menyebabkan diri kita terbiasa membaca dan menulis tanpa timbul rasa pemaksaan.

Permasalahan lain yang terjadi sekarang terkait kebudayaan membaca di kalangan mahasiswa adalah malasnya kegiatan membaca. Hal demikian terlihat ketika mahasiswa lebih betah duduk berjam-jam dengan asyiknya untuk bermain gadget daripada duduk berjam-jam untuk membaca buku yang teba-tebal.

Ini mengingatkan saya terhadap penulis sekaligus penyair kelahiran Surabaya yakni Suparta Brata. Dalam tulisanya, Brata mengatakan bahwa tujuan dari sekolah adalah untuk belajar membaca dan menulis (Brata:13). Kita sadar bahwa orang-orang besar terlahir dari membaca dan menulis, seorang guru, profesor, dokter, insinyur, presiden sekalipun terlahir dari kegiatan membaca dan menulis.

Hal senada juga diungkapkan oleh Minda Perangin dalam kumpulan tulisan Bukuku Kakiku. Perangin memprotes bahwa, kegiatan membaca dan menulis seharusnya menjadi sebuah kebutuhan. Bukan hanya sekadar mengisi waktu luang atau bahkan cuma untuk mengerjakan tugas. (Perangin:172). Ia seolah menuntut kita untuk memposisikan diri kalau saja diri kita tidak membaca atau menulis. Maka yang terjadi pada diri kita ialah akan mengalami perasaan lapar. Dan yang harus dilakukan untuk menyudahi rasa lapar yang tak kinjung habis itu adalah membaca dan menulis.

Menyambut Oktober sebagai bulan bahasa, kewajiban menjaga eksistensi ?Bahasa Indonesia? tidak hanya menjadi tugas Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Melainkan juga menjadi kewajiban seluruh warga negara Indonesia. Khususnya para pemuda melalui budaya literasi. Membudayakan membaca dan menulis. Karena darinya lah akar kebudayaan berbahasa Indonesia akan tumbuh dan berkembang. Membuktikan komitmen bahwa kita mencintai bahasa Indonesia. Bangga terhadap bahasa Indonesia. Dan mengakui bahasa Indonesia memang luar biasa.

?

  • view 830