Keresahan Kita Terhadap HAM: #Menyoal Ihwal Terorisme dan LGBT

Ahmad Alfi
Karya Ahmad Alfi Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 27 Februari 2016
Keresahan Kita Terhadap HAM: #Menyoal Ihwal Terorisme dan LGBT

Pernahkah kalian Gelisah Karena Agama: Terorisme vs LGBT? Sebagai Pembaca Yang Baik dan Santun, Selesaikanlah Bacaan Ini, Karena Pada Hakikatnya Tak Baik Sebatas Hanya Menduga dan Menarik Kesimpulan Dari Judulnya...

?

Memprihatinkan. Pada saat pemerintah sedang gigih membina kerukunan di Indonesia, ada saja pihak yang mencoba merusak kedamaian dan kenyamanan publik lewat aksi teror dengan menimbulkan korban jiwa. Awal Januari 2016 ini, Indonesia diresahkan oleh tragedi teror di ibukota. Banyak dugaan muncul terkait afiliasi ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) dengan campur tangan Bahrun Naim sebagai otak atau dalang di balik teror ledakan bom Sarinah Jakarta.

Tentu kita telah mafhum oleh akar sebab tindak terorisme yang (masih) terjadi. Radikalisasi sebagai proses munculnya benih-benih pemikiran radikal adalah penyebabnya. Upaya berproses untuk menjadi radikal ini tidak jarang diawali dengan cara berpikir dan bertindak. Bermula dari membaca buku-buku bacaan secara serampangan kemudian menjadi pemikiran yang berubah menjadi keyakinan atau semacam ideologi dan terkadang cara bertindak paling akhir adalah dengan kekerasan (terorisme).

Walaupun terorisme dengan radikalisme tidak dapat disamakan, setidaknya kita mengetahui: sikap radikal dalam memahami suatu ajaran agama mengantarkan munculnya terorisme. Kehendak untuk keluar dari lingkaran minoritas (radikal) agaknya menjadi obsesi tindak diskriminatif yang tak patut diterima. Sehingga mau tidak mau, jalan kekerasan (terorisme) adalah cara utama setelah dialog tidak membuahkan hasil, malahan hanya menimbulkan perdebatan kosong.

Alih-alih setelah perhatian publik mulai melek dampak serta pengetahuan perkembangan isu terorisme. Publik kembali diresahkan oleh isu LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgender) yang sedang menjalar di ranah akademik (baca: kampus). Penting untuk diperhatikan ihwal LGBT dan terorisme bukanlah suatu upaya pengalihan isu kinerja dan permasalahan pemerintahan. Trending topic yang menempatkan LGBT sebagai isu teratas yang menjadi perhatian publik, kemudian pemerintah pun ikut ambil bagian di dalamnya.

Memang agak rumit menjelaskan relevansi dan korelasi antara terorisme dan LGBT. Kita perlu cermat dalam menganalisa hubungan keterkaitan pada keduanya, setelah itu timbal baliknya. Bila kita cermati, terorisme tampak terihat dengan ideologi pemikirannya bahwa segala sesuatu dilekatkan dengan dalil agama, namun mereka pelaku terorisme mengalahkan sisi esensi suatu hak asasi manusia dengan menindas yang diaggap tidak sepaham atau berbeda. Sedangkan LGBT lebih kepada antipenindasan (diskriminasi) terhadap apa yang mereka pilih sebagai jalan hidup dan meminta pembelaan dengan dalil hak asasi manusia. Ironisnya mereka sadar sedadar-sadarnya bahwa ihwal LGBT masuk dalam wilayah agama, dan mereka ingin apa yang mereka perjuangkan tidak membawa nama agama. Karena pada dasarnya pilihan untuk menjadi LGBT bagi mereka adalah urusan privat, pun urusan agama.

Dengan keadaan inilah pemerintah terlihat seperti ambigu dalam memandang permasalahan ini. Kerumitan dan kebingungan atas ihwal radikalisme serta terorisme yang tidak dapat dipisahkan menjadi kesempatan isu LGBT untuk diperdengarkan kepada masyarakat luas yang selama ini terbungkam keberadaannya. Ya, dengan ini kita mulai sadar bahwa terorisme sedang mengancam dan kaum LGBT di Indonesia benar-benar ada di sekitar kita.

Radikalisasi dan terorisme adalah hal yang barangkali sudah tentu pemerintah berani mengambil tindakan untuk memeranginya. Karena dalam hal ini pemerintah melihat terorisme sebagai upaya pemecah belah keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Lantas bagaimana dengan LGBT? Pemerintah seperti masih was-was dan kebingungan akan menyikapi soal ini. LGBT adalah urusan individu tiap manusia dalam hidup bernegara bisa jadi hal semaca ini masuk dalam hak privat warga negara. Terlepas dari itu, stereotip masyarakat heterogen di Indonesia berbeda-beda. Ada yang pro dan ada juga yang kontra. Dengan demikian masih ada batas yang menjadikan kewenangan pemerintah untuk ikut campur dalam masalah LGBT.

Terorisme jelas tidak bisa ditolerir keberadaannya oleh masyarakat Indonesia. Berbeda dengan LGBT, kita masih perlu berpikir ulang serta mengkajinya. Tentu sebagian masyarakat Indonesia belum siap soal LGBT. Mengingat dasar negara yang dibangun oleh nilai moral yang tertuang pada sila pertama Pancasila menerangkan bahwa agama menjadi keyakinan untuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan ihwal LGBT bisa dikatakan adalah kebalikan dari nilai moral yang ada pada Pancasila. Kalau sudah begini, kita harus bisa menemukan bagaimana cara menyikapi antara terorisme dan LGBT! []

?

?

?

?

?Sumber Gambar: http://kesbangpol.kemendagri.go.id/upload/indonesia-map-small.jpg

  • view 189