Keber(Agama)an Budaya Indonesia: Tak Seharusnya Agama Menghapus Budaya

Ahmad Alfi
Karya Ahmad Alfi Kategori Agama
dipublikasikan 25 Februari 2016
Keber(Agama)an Budaya Indonesia: Tak Seharusnya Agama Menghapus Budaya

Potret masyarakat masa depan memperlihatkan ihwal agama dan budaya sebagai konteks keberagaman. Agama mengejawantahkan wujudnya bukan dengan definisi-definisi naratif, melainkan laku perbuatan yang menjadi sikap pribadi beragama. Lewat agama, budaya Indonesia tak hanya disulap namun juga diexplorasi menjadi bagian vital ciri khas suatu agama.

Agama mendefinisikan makna ajarannya tidak hanya dalam sebatas kata dan bilangan teoritis. Islam sebagai suatu ajaran agama, memaknainya dengan syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji bagi yang mampu. Ajaran agama yang diakui di Indonesia selain islam pun demikian, umat kristiani memaknainya dengan kebaktian di Gereja, umat agama Hindu memberikan makna penuh pada ajarannya dengan hari raya nyepi dan upacara keagamaan: ngaben.

Barangkali tidak dapat dipungkiri lagi bahwa agama dan budaya memang telah benar-benar saling bertautan. Muruah agama terletak pada budaya. Jika budaya yang ada pada suatu agama mempunyai nilai filsofis dan norma-norma kehidupan, maka harga diri agama akan dipuji. Pun dijunjung tinggi dengan adat budaya yang ditampilkan.??

Berkaca dari agama islam sebagai suatu ajaran keagamaan. Kita akan lebih fokus dalam bagaimana cara melihat sisi objektifitas ciri khas dalam agama islam. dogma spiritual berlaku penting bagi perkembangan agama islam. karenanya, islam melihat hal ini (baca: budaya) sebagai media tranformasi ke arah yang lebih baik. Menciptakan budaya dalam agama sama saja melahirkan konsep ciri khas suatu agama untuk melakukan tranformasi ini.

Tampaknya pesantren sebagai tempat atau lingkungan pendidikan batiniah dan lahiriah mampu mengondisikan laju perkembangan peradaban di era masyarakat modern (masyarakat masa depan). Pesantren terus melangkah melakukan konsep tarbiyah yang utuh dengan modal adat kebudayaan spiritual untuk menjangkau kejayaan di masa depan. Hal demikian jelas bertolakbelakang dengan sikap dan watak manusia masa depan yang hedonis ? manusia yang penuntut kemuliaan di dunia - sehingga mereka lebih memilih meninggalkan agama dan budaya dengan mengatakannya sebagai hal: katrok, kampungan, dan ketinggalan jaman.

Ajaran agama islam yang diyakini oleh sebagian sejarawan, bahwa islam datang kali pertama di Indonesia dari daratan persia dan gujarat dalam misi perdagangan. Kemudian cerita sejarah tersebut dikait-kaitkan dengan Islam yang dibawa oleh Wali Sanga (wali sembilan). Mereka diantaranya dikenal dengan nama Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Ampel, Sunan Kudus, dan Sunan Gunung Jati.

Mereka (Wali Sanga) menyebarkan dakwahnya pun dengan budaya masyarakat setempat. Alih-alih kebiasaan masyarakat setempat yang jauh melenceng dari syariat agama islam, sedikit demi sedikit dimasuki dengan nilai-nilai ajaran agama islam pada kebudayan yang mereka miliki. Tujuannya jelas dan logis: mengantisipasi pada masyarakat yang pada saat itu masih memeluk kental ajaran hindu dan budha agar tidak kaget dan kemudian memberontak pada apa yang akan disampaikan oleh para Wali Sanga.

Jika kita menginjakkan kaki di kota Solo, Jawa tengah, saat akan menjelang maulid Rasulullah Muhammad SAW. Di komplek keraton Solo maka kita akan dihadapkan oleh berbagai unsur kebudayaan lokal keraton Solo. Agenda di setiap tahunnya ini disebut Sekaten. Dalam Sekaten kita di suguhkan dengan acara musik klenengan, bazar, pencucian benda pusaka keraton, sampai pengarakan kerbau keramat milik keraton Solo di pusat kota alun-alun Solo, yang diberi nama Kiai Selamet.

Sekaten sendiri berasal dari terjemahan kata bahasa arab yakni, Syahadatain yang memiliki makna dua kalimat syahadat. Maka, dalam ritual Sekaten ini akan dijumpai sedekah bumi yang bermakna pentingnya arti sedekah. Kemudian pembacaan doa pada yang Maha Kuasa merupakan bagian dari Sekaten ini.

Siapakah yang membawa adat kebudayaan Sekaten ini? Maka jawabnya adalah Wali Sanga.

Salah satu dari Wali Sanga tepatnya Sunan Kali Jaga. Beliau Sunan Kali Jaga juga merupakan pujangga. Hal itu dapat kita buktikan dengan adanya syair jawa lir-ilir yang sering diperdengarkan dalam acara pernikahan.

Lir-ilir lir-ilir//

Angine do sumilir//

Tak ijo royo-royo//

Tak senggoh penganten anyar//

Bocah angon, bocah angon penekno blimbing kui//

Lunyu-lunyu penekno//

Kanggo sebo mengko sore//

....................................................

Lirik lagu yang dipopulerkan oleh Sunan Kali Jaga dan sampai saat ini masih diperdengarkan. Menjadi bukti bahwa lagu di atas bukan sembarang lagu. Lirik di atas oleh para penyair atau sastrawan memaknainya dengan karya sastra yang penuh dengan muatan nilai-nilai kehidupan. Karya sastra sebagai bagian dari kebudayaan yang tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu, Sunan kali Jaga mencoba menghadirkan budaya yang terbingkai dalam karya sastra agar mudah dipahami dan dinikmati.

Terjemahan bebas dan nasehat yang dapat kita ambil dari lagi Lir-Ilir tersebut ialah: dari sudut pandang Sunan Kali Jaga sendiri beliau berpesan dan berharap agar umat manusia mampu melihat alam sebagai anugrah dari yang Maha Kuasa. Angin yang berhembus tenang, daun-daun yang hijau. Yang mana di oleh beliau kecantikan dan keindahan alam serupa dengan pengantin baru. Kemudian beliau juga berpesan agar dalam menjalani hidup agar mau berusaha dan bekereja keras. Hal demikian digambarkan dengan adanya sosok bocah kecil yang disuruh memanjat pohon belimbing yang licin agar bisa sampai mendapatkan buah belimbing yang dikehendaki.??

Contoh lain dari dari budaya yang dibawa oleh Wali Sanga. Dalam masyarakat Jawa pada umumnya, kita pernah menjumpai adat istiadat cara bersyukur dalam lingkungan sekitar. Oleh masyarakat Jawa ini mereka menyebutnya dengan selametan. Sekarang yang menjadi pertanyaan apakah selametan merupakan unsur kebudayaan? Atau barangkali selametan lebih mengarah kepada ajaran agama islam sebagai rasa ungkapan bersyukur? Lantas apa relevansi diantara kebudayaan dan agama yang diwujudkan dalam contoh ini?

?Selametan adalah suatu upacara makan bersama makanan yang telah diberi doa sebelum dibagi-bagikan. Selametan itu tidak terpisahkan dari pandangan alam pikiran partisipasi tersebut di atas, dan erat hubungannya dengan kepercayaan kepada unsur-unsur kekuatan sakti maupun mahluk-mahluk halus. Sebab hampir semua selametan ditujukan untuk memperoleh keselamatan hidup dengan tidak ada gangguan-gangguan apapun. Hal itu juga terlihat pada asal kata nama acaranya sendiri, yakni kata selamat. Upacara ini biasanya dipimpin oleh modin yakni salah seorang pegawai masjid yang antar lain berkewajiban mengucapkan ajan. Ia dipanggil karena mahir membaca doa keselamatan dari dalam ayat-ayat Al-Qur?an.? (Koentjaraningrat, 1993: 347)

Pendapat Koentjaraningrat tersebut diatas agaknya telah jelas perihal relevansi adat kebudayaan dengan islam sebagai ajaran agama. Kita melihat dari sisi normatif manusiawi bahwa kelogisan antara agama dan budaya memang benar-benar tidak dapat dipisahkan. Selametan merupakan pengejawantahan unsur agama (rasa syukur dan doa) yang dipadukan dengan ritual-ritual tertentu seperti acara makan-makan bersama, menjadi sebuah tradisi: kebudayaan!

Kita tak usah melulu memperdebatkan budaya dengan ideologi suatu aliran dalam ajaran agama. Berdasarkan analisa yang dilakukan oleh Departemen Agama RI Badan Litbang dan Diklat Puslitbang Kehidupan Keagamaan tahun 2009 mengungkapkan, bahwa kegiatan (baca: budaya) aliran tertentu dalam melakukan kegiatan keagamaan berdasarkan pada keyakinannya sendiri menyebabkan ketidakselarasan dalam melakukan kegiatan keagamaan yang sama. Sehingga jika melakukan tradisi atau kebudayaan lain yang berbeda maka dianggap menyimpang. (Mursyid Ali, 2009)

Sekarang pemikiran solutif yang kita berikan akan berupa apa?! Sekadar mempersiapkan bibit unggul dalam pendidikan lahiriah tanpa memperhatikan sisi batiniah sama saja lembaga agama tidak memiliki fungsi. Yang perlu diingat MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) diam tapi pasti juga ikut berkecimpung dalam permasalahan agama dan budaya.

Khawatir kalau saja doktrin dan klaim kebenaran individu umat agama, menjadikan budaya sebagai akar masalah pertumbuhan dan laju ekonomi sulit diciptakan. Sampai sejauh ini lah seharusnya kita berpikir secara rasional, tanpa mementingkan kepentingkan individu di atas kepentingan umum.

Dengan demikian keberagaman budaya menjadikan kita kaya di tanah air Indonesia. Ekosistem kebudayaan akan lebih dijaga dan dibanggakan, melanggengkan tradisi dan menjangkau kejayaan di masa depan. Seperti konsep tarbiyah yang utuh pada kebanyakan lingkungan pendidikan pesantren.

Keberagaman budaya dan keber-agama-an budaya menjadikan salah satu nilai-nilai pancasila sebagai rasa nasionalisme dan unsur keberagaman yang terbingkai dalam ?Bhineka Tunggal Ika?. Sehingga walaupun berbeda-beda budaya dan tradisi yang dimiliki, akan tetapi sejatinya kandungan kebudayaan di Indonesia ?HARUS? memiliki nilai agama, sehingga dapat membentuk masyarakat budaya yang beragama. Bukankah Indonesia bukan negara miskin budaya dan berideologi ateis?!

?

?

?

  • view 658

  •   Kurirperasaan063
     Kurirperasaan063
    1 tahun yang lalu.
    Terkadang memang Terlalu rumit jika mendewakan ego, Dan melupakan aspek ,tenggang rasa, dbumi pertiwi seharusnya kita adalah jiwa, (bukan tamu dinegeri sendiri) #kurirperasaan063 Yuk mampirnya kesini ???? [2/3 9:23 AM] bagus. m#solidarty: https://www.inspirasi.co/Bagusbagus063

  • izham labora
    izham labora
    1 tahun yang lalu.
    jati diri suatu bangsa ada bada Budaya dan bahasanya, jika keduanya menghilang...maka hilang jati dirinya. dan barang siapa tidak menegnal jati dirinya, maka sebenarnya ia tak mengenal hakikat Tuhannya.