Agama Apa yang Pantas Bagi Pohon Talok?

Ahmad Alfi
Karya Ahmad Alfi Kategori Filsafat
dipublikasikan 30 Desember 2016
Agama Apa yang Pantas Bagi Pohon Talok?

Oleh: Penulis*

“Agama apa yang pantas bagi pohon-pohon?” Kira-kira itu yang Sa ingat, ketika mendengar obrolan-obrolan yang menyinggung atribut ragawi manusia, isu transendental, isu perayaan, dan dikaitkan dengan identitas suatu agama.

Agama Apa yang Pantas Bagi Pohon-Pohon? sesungguhnya adalah judul cerpen sekaligus judul buku kumpulan cerpen Eko Triono. Sa kira judul itu cukup untuk membuat penasaran dan sekaligus berhasil membuat kebingungan umat-umat yang gemar mendaku identias suatu agama.

Sa jadi membayangkan, umat-umat itu perlu merumuskan hukum dan sibuk mencari dalil-dalil untuk menentukan agama apa yang pantas untuk pohon-pohon. Bukan Cuma pohon, sih. Masih banyak hal lain yang dilegitimasi sebagai identitas atau perlambang suatu agama.

Masih belum tahu apa yang sa maksud?

Ok, jadi begini. Beberapa hari terakhir, isu rutinan kembali kumat di Indon. Sa mafhum dan maklum pula, kalau kita orang masih labil. Isu rutinan itu adalah persoalan pohon cemara yang disinggung sebagai pohon yang erat kaitannya dengan agama Nasrani.

Memang, jamaknya, pohon cemara adalah pohon yang sering dijadikan pohon natal. Betul, pohon cemara yang dibikin menjadi pohon natal ditujukan untuk ikut memeriahkan hari raya umat Nasrani. Dan itu sudah jadi tradisi. Dan kita mau menuntut apa pada tradisi??? Mau menuntut agar pohon cemara diganti sama debog pisang? Haduh... parah.

Ok, kalau situ masih ngotot pohon cemara itu hanya pantas untuk agama Nasrani, Sa sarankan untuk situ jangan pernah ngajak anak situ jalan-jalan ke puncak gunung. Sebab mengapa? Sa takut, si anak bakal kena semprot sama orangtuanya, ya situ sendiri sebagai orangtuanya. Cye ilehhh, masih belum paham.

Jadi begini; Naik-naik, ke puncak gunung tinggi-tinggi sekali// Naik-naik, ke puncak gunung tinggi-tinggi sekali// Kiri-kanan kulihat saja banyak pohon cemara// Kiri-kanan kulihat saja banyak pohon cemara//

Masih ingat betul lagu itu, bukan? Lagu legendaris ketika kita seusia anak-anak dan belum mengenal lagu Ayu Ting-Ting dan Zazkia Gothik kekinian. Apa iya, situ lalu tega mengatakan ke sang anak bahwa pohon cemara yang di kiri-kanan  puncak gunung beragama Nasrani? Sungguh, Sa ingin betul misuhi situ..., kalau tega melakukannya—tega menceramahi sang anak bahwa itu pohon agamanya ini-itu.

Sayang, orang Indon terlanjur yakin kalau pohon cemara itu beragama Nasrani. Sa semangkin syedih, jangan-jangan di lain sisi, ada yang percaya kalau Kurma adalah pohon yang beragama Islam. Karena itu apakah saudara nonmuslim jadi enggan makan buah kurma. Kalau iya, maaf, nanti saat bulan Ramadan tiba, Sa bisa bagi-bagi kurma gratis buat saudara nonmuslim. Hehehe

Ah, sa semakin bingung. Bingung dengan agama apa yang pantas bagi pohon-pohon?

Masak iya? Sa musti melabeli pohon pisang, singkong, rambutan, dan talok sebagai buah yang berlabel Atheis? Padahal, konon, salah satu buah tersebut yakni talok (di beberapa tempat disebut kersen) menjadi buah primadona anak-anak kampung yang “sok lapar” ketika lelah bermain. Buah itu bentuknya seperti beri tapi bulat, warnanya kalau sudah masak kemerah-merahan. Manis-manis gitu pokoknya. :D, semanis yang nulis tulisan ini. wkwkwk

Sa mengamati, anak-anak begitu semangat ketika memanjat pohon talok untuk memetik buahnya yang segar itu. Situ saat kecil juga pernah mencicipi buah talok, tho? Sekarang, bagaimana jadinya kalau pohon dan  buah itu belum memiliki agama? Apa situ, ya, ngotot untuk bilang ke sang anak, “jangan makan buah talok, le. Talok itu Atheis. Agama kita belum memberi hukum dan labelnya, le”. Haduh....

Sudahlah, tinggalkan kebingungan situ dalam menentukan “agama apa yang pantas bagi buah talok?”. Sa yakin, barangkali nanti akan ada aksi susulan dengan tajuk “aksi 171717” dari anak Indon menuntut talok untuk tidak dikriminalisasi..,Talok itu keniscayaan.

Hmmmmm. Masih tentang isu-isu kumatan tentang Natal dan tahun baru. Selain pohon cemara dan talok barangkali kita bisa bicara persoalan topi dan terompet. Sa ikut heran, kenapa isu-isu seperti ini menjadi sebuah isu kumatan (rutinan). Bukankah hari raya itu selalu ada...

Jadi begini, Sa paham, kalau apa yang situ pikirkan tentang topi dan Natal. Topi warna merah berbentuk kerucut berbulu putih memang identik dengan perayaan Natal. Sa kasih tahu, sebenarnya topi tersebut berasal dari dongeng masyarakat Eropa, iya betul Eropa, bukan Jerusalem, Nazaret, atau tempat kelahiran agama Nasrani.

Sa harap situ paham pula dengan konsep kebudayaan. Bahwa budaya pasti menghasilkan produk. Seperti kebudayaan Jawa yang melahirkan tutup kepala “Blangkon”, “Udeng” dalam adat Bali, atau “Sortali” sebagai ikat kepala orang Batak.

Kemudian apakah ada keterkaitan antara antribut Sinterklas (Santa Claus) dengan agama Nasrani ini? Hampir tidak ada. Hanya saja, dulu, ada seseorang yang baik hati yang gemar memberi hadiah kepada para anak kecil (barang kali anak situ juga dikasih, wkwk) dengan cara sembunyi-sembunyi, hingga ia meninggal dunia seseorang ini dikenang sebagai simbol cinta kasih.

Barangkali, kalau Sinterklas itu dari Jawa mungkin ia akan memakai Blangkon. Lantas situ mau bagaimana njuk wes ngono? Masak iya sinterklas pake blangkon situ punya...

Sa tidak mau membahas ayat tentang hukum menyerupai suatu kaum. Bukan tanpa alasan, kasus penistaan membuat sa jadi ngeri dan hati-hati kalau mau berpendapat tentang ayat. Bisa jadi sa yang kena. Saya husnudon situ paham konteks... Iya, konteks. Ada banyak orang ketika diberi gelondongan ayat atau hadis dan diberi tafsiran ini-itu tapi tidak paham ilmu tafsirnya akhirnya jadi jendela kabar hoak. Itu orang dengan mudah menyebarkan isu-isu yang mencomot hadis atau ayat tapi tidak “pakai” kontekstualisasinya. Tidak pakai metodologi—kalau bahasa orang kuliahan mah.

Sa perlu tekankan, yang menjadi “perhatian” adalah bagaimana situ bisa menyikapi kebudayaan dengan memahami konteks sejarah dan konteks maknawi dalam kehidupan. Sa tak perlu lagi debat kusir mempermasalah agama apa yang pantas bagi pohon, buah, atau blangkon. Tapi sa ingatkan, memahami orang lain yang memakai atribut dari budayanya masing-masing lantas jangan dibuat masalah.

Ketika kita orang berbeda dalam hal identitas dan produk kebudayaan, ihwal identitas dan produk kebudayaan itu jadi sesuatu yang sensitif. Jangan suka menyinggung, merendahkan, atau mencemooh seseorang karena identitas dan atribut yang ia pakai itu adalah ideologinya.

Artinya, terpenting –dalam konteks ini–bukan soal tentang apa labelnya, tapi soal “mawas diri” dengan apa yang “semestinya” kita “pakai”. Tentu dengan tidak mempermasalahkan yang orang lain pakai berbeda dengan apa yang kita pakai. Jelas kan..

Terakhir, jangan sekali-kali situ menuduh mie ayam adalah makanan berpaham komunis. Menuduh burung gereja otomatis lahir di gereja dan beragama nasrani, menuduh burung bangkok titah dari Budha, menyebut emprit kaji adalah muslim yang taat, ... haloooow???  Sungguh... Sa yakin, situ  pasti doyan ditraktir mie ayam.. wkwk

 

 

 

*Ahmad Alfi, Akun media sosial   : Ahmad Alfi (Facebook), A.Alfi (Instagram), @alwialfialpi (twitter),  www.katanyaalfi.blogspot.co.id -=- Semahluk Mahasiswa IAIN Surakarta, suka makan nasi dengan lauk membaca dan menulis. Cerpennya tergabung dalam antalogi bersama berjudul Ritual Lapaong Astral (2016), oleh Taman Budaya Jawa Tengah. Mungkin seperti itu, maklum.

 

 

 

 

 

 

  • view 436