Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Inspiratif 26 Agustus 2018   01:33 WIB
Sederhana dalam Sikap, Kaya dalam Karya (Uswah Pak Haedar Nashir)


Oleh: Ahmad Sholeh

Siapa yang tak mau punya banyak karya, baik berupa pemikiran, gagasan, maupun tawaran yang tertuang dalam tulisan-tulisan reflektif dan karya ilmiah. Terlebih, punya karier organisasi yang gemilang dengan radius pengikut jutaan umat. Pastinya, punya banyak karya dalam hidup ini menjadi keinginan setiap manusia. Karena sebagai manusia kita memiliki hasrat untuk mengaktualisasi diri, menampilkan diri sebagai yang terbaik, terlebih menebar manfaat kepada khalayak.

Namun, bejibunnya karya pasti diiringi dengan segudang tanggung jawab moral. Yang tak bisa main-main dan pasti menuntut manusia tersebut untuk bisa bersikap arif, sederhana, dan jujur apa adanya. Sesuai dengan apa yang dipikirkannya. Terlebih, untk menjadi uswah hasanah bagi orang di sekitarnya.

Tentu kita sudah jengah dengan maraknya pencitraan tokoh-tokoh politisi yang tiada henti menghiasi jagat media sosial dan juga media massa. Apalagi, saat ini sedang anget-angetnya pemanasan menuju pilpres 2019. Kita pun sudah disuguhi beberapa hidangan “citra baik” sang capres-cawapres baik kubu incumbent maupun penantang. Tentu saja rentetan citra baik yang dibangun juga beriringan dengan maraknya pembongkaran aib-aib dan kisah masa lalu, yang belum tentu benar adanya.

Di tengah kondisi politik yang demikian tidak mengenakkan, saya terkagum dengan sosok ketum ormas terbesar di Indonesia—bahkan Asia—yang satu ini, Pak Haedar Nashir. Seolah aksa dari “pencitraan” dan populisme pribadi, sosok ideolog Muhammadiyah yang lahir dari rahim IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) ini menampilkan kesahajaan yang luar biasa. Hal itu setelah beberapa waktu lalu sempat beredar foto seorang pria dengan rambut beruban tengah menunggu kereta. Ternyata pria dalam foto itu tak lain adalah Pak Haedar Nashir.

Pertama kali saya lihat kiriman foto tersebut diunggah oleh akun Instagram Deni Asy’ari, direktur Suara Muhammadiyah, pada 20 Agustus 2018. Tak lama kemudian akun Facebook Persyarikatan Muhammadiyah dan akun Instagram Lensamu mengunggah gambar yang sama. Tampak sekali kesederhanaan seorang Haedar Nashir yang bahkan tak merasa segan atau malu, seorang ketum ormas besar dengan jutaan anggota tersebut, mengantre di bangku tunggu stasiun. Tanpa pelayanan istimewa apa pun.

“Ketum @haedarnashirofficial saat menunggu kereta menuju Yogyakarta di Stasiun Kediri, selepas menghadiri peresmian gedung 8 lantai SMA Muhammadiyah 1 Taman Sidoarjo dan Gedung Rawat Inap RS Ahmad Dahlan Muhammdiyah Kediri,” tulis caption akun Instagram @lensamu dan Facebook Persyarikatan Muhammadiyah.

Padahal, tentu saja orang sekaliber Pak Haedar bisa meminta fasilitas mobil antar-jemput dan perlakuan istimewa lainnya dari Muhammadiyah. Dan itu pun saya yakin bukan hal yang sulit bagi Muhammadiyah yang punya ratusan amal usaha. Namun, inilah sosok sang ketum Muhammadiyah. Tak banyak gaya. Dia pun bukan sosok yang ingin dianggap paling berjasa atau mengartiskan diri. Nyatanya, meski beberapa waktu jauh sebelum foto itu beredar, telah tersebar juga foto Pak Haedar dan istrinya tengah tertidur kelelahan di stasiun sembari menunggu kereta, dia selalu membesarkan nama persyarikatan.

“Muhammadiyah melalui lembaga pendidikan dan kesehatan akan selalu berbuat untuk umat, bangsa, dan negara,” tulis akun IG-nya, @haedarnashirofficial, dengan gambar dia tengah menandatangani prasasti pengesahan gedung baru. Rupanya pesan KH Dahlan “hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah” itu betul-betul dia pegang.

Teladan lainnya yang dimiliki Pak Haedar, dia merupakan sosok intelektual yang punya segudang karya. Ratusan tulisan-tulisannya tersebar di berbagai media massa nasional. Dia juga menulis untuk majalah Suara Muhammadiyah, Republika, Kompas, dsb. Belum lagi buku-bukunya yang bejibun baik yang bertema umum maupun tentang gerakan Muhammadiyah. Sepertinya menulis memang sudah menjadi pilihan dakwahnya. Terlebih, menulis adalah kegemarannya sejak masih aktif di IPM (IRM) yang hingga kini terus ditekuninya.

Perlu dicatat, berbeda dengan para pejabat atau politisi yang jika menulis dibantu atau menugaskan staf dan bawahannya, Pak Haedar mengaku semua tulisannya adalah karya orisinilnya. Semua dia tulis sendiri. Karena baginya “tulisan adalah wujud pemikiran manusia atas respons terhadap realitas di luar dirinya”. Sehingga jika pemikiran seseorang dituliskan oleh orang lain, gagasan dan idenya tidaklah autentik.

Saya jadi teringat para pendahulu persyarikatan Muhammadiyah yang pernah saya baca. KH Ahmad Dahlan yang dijuluki the man of action karena gerakan-gerakan revolusionernya di bidang pendidikan dan kesehatan. Ki Bagus Hadikusumo yang membudayakan tradisi literasi dalam hidupnya, dia pula menjadi salah satu tokoh kunci perumusan dasar negara Indonesia. KH AR Fachruddin, sosok kiai yang luar biasa bersahaja dalam hidupnya, meski memiliki kedekatan dengan Presiden Soeharto pada masa itu dia tak pernah sedikit pun memanfaatkan kedekatannya untuk kepentingan pribadi. Dan tentunya masih banyak  teladan yang bisa kita gali dari para pendahulu.

Hikmah yang bisa kita ambil adalah “sederhana dalam sikap, kaya dalam karya.” Artinya, bersikap jujur apa adanya menjadi yang utama. Tanpa ada kepura-puraan atau dusta. Jangan sampai hanya karena jabatan, gengsi, atau popularitas lantas kita bertingkah sok hebat, sok artis, dsb. Atau sebaliknya, demi popularitas dan jabatan kita berpura-pura baik, berpura-pura merakyat, dan aneka tipu daya lainnya. Toh, Tuhan telah berjanji bakal meninggikan derajat orang berilmu dan beramal saleh. Apa lagi yang kita risaukan?  

Syahdan, saya sampaikan salam takzim dan terima kasih kepada Pak Haedar Nashir. Semoga Bapak selalu diberikan kesehatan dan keberkahan oleh Allah SWT. Begitu pun bagi kita (pembaca sekalian), semoga kita bisa menelurkan rimbunan karya buah pikiran dan kreativitas sambil terus menggali hikmah cum meneladani para pendahulu, baik di persyarikatan maupun pada pendahulu bangsa ini. Wallahu a’lam. []

Karya : Ahmad Sholeh