Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Puisi 14 Agustus 2018   23:46 WIB
masuk dari atap dan langit-langit yang runtuh

atap itu berdekapan saling kunci-mengunci

menguatkan satu sama lain

menahan berbagai hantaman dari langit

yang jatuh bertubi-tubi seperti hujan

dan rinduku yang tak juga kesampaian

 

aku coba menuruti kata-kata temanku

jangan bilang-bilang,

menyelinaplah ke kamarnya dan curi hatinya, katanya

aku pun mencoba masuk lewat atap

yang harus kubongkar satu per satu hingga terngagalah

lubang yang cukup untuk badanku

 

masuklah aku ke dalam kamarnya

rupanya ada langit-langit yang masih menahanku

malam itu pun aku serasa benar-benar menjadi seorang pencuri

aku ingin mencuri nasibmu, mencuri hidupmu

tapi sialnya kau malah enak-enakan tidur

di ranjang yang hanya muat buatmu sendiri

 

di atas langit-langit, gerimis muncul satu-satu di jidatku

dari celah yang sedikit aku bisa melihatmu

tengah memeluk bantal kesayanganmu

sambil mengisap jempol tangan kananmu

lucu sekali dan menggemaskan

 

ah, tapi aku harus fokus untuk mencuri hatimu

oh, tidak, nasibmu … hidupmu

baru kuinjak salah satu sisi langit-langit dari celah atap itu

lagit-langit malah runtuh, aku terjatuh

prak, bunyinya membuatku ngilu dan kau terlihat agak gusar

beruntunglah kau tidak segera bangun

rupanya mimpimu masih baru setengah jalan

 

satu hal yang aku lupa

tak satu pun belati kubawa

bagaimana caranya mencuri hatimu?

Jangankan mencuri hatimu

untuk membelek dadamu saja aku lupa membawa belati

 

tak patah arang,

aku pun mencari belati atau apa pun

di laci meja belajar di pojok kamarmu

oh, betapa sial

bukan belati kutemukan

tapi hatiku yang rupanya sudah kau curi duluan.

 

AS Fajrul
KG, April 2018

Karya : Ahmad Sholeh