AAMIR KHAN DAN ANGIN SEGAR FILM INDIA

AAMIR KHAN DAN ANGIN SEGAR FILM INDIA

Ahmad Sholeh
Karya Ahmad Sholeh Kategori Inspiratif
dipublikasikan 12 Juli 2018
AAMIR KHAN DAN ANGIN SEGAR FILM INDIA

Oleh: Ahmad Sholeh

Aamir Khan. Siapa yang tak kenal aktor kawakan India ini. Dia sudah menjadi idola para pencinta film India di Indonesia sejak bermain di film Mann bersama Manisha Khoirala pada tahun 1999, film bergenre romantis khas India yang kisahnya cukup menguras air mata. Jelas sekali, film India era 1990-an memang selalu mengangkat romantisme, yang tak jarang endingnya mudah ditebak. Di sini, saya tidak akan membahas soal film romantis India, melainkan tema-tema yang hadir setelahnya.

Aktor yang bisa dibilang sukses ini memang tak sesohor Shah Rukh Khan, si raja film romance Bollywood. Namun, yang menarik, film-film Aamir Khan di era 2000-an yang hadir dengan idealisme dan semangat yang berbeda dibanding film-film India era 1990-an. Jika umumnya film Bollywood mengusung ide-ide romantisme, permusuhan, balas dendam, pertentangan kasta, atau yang paling kuno adalah soal reinkarnasi, film-film Aamir Khan tak demikian, bak membawa angin segar bagi pencinta film India. Saya rasa itu bukan ungkapan berlebihan.

Ide cerita yang dibawa film-film Aamir Khan bisa dikatakan mendobrak tradisi perfilman India yang bertahan selama berpuluh-puluh tahun. Mengapa begitu? Aamir Khan hadir dengan mengusung ide-ide dan gagasan filosofis seputar pendidikan, keyakinan (agama), kesetaraan gender, dan keadilan. Setidaknya angin segar itu bisa kita temukan di beberapa film yang cukup booming; 3 Idiots, Taree Zameen Par, PK, Dangal, dan Secret Superstar.

Menggali hakikat pendidikan dalam 3 Idiots dan Taree Zameen Par

Pendidikan merupakan tema yang cukup sulit kita temukan dalam film. Tema ini bagi sebagian penonton dianggap berat dan membosankan. Mungkin bagi yang sudah pernah menonton Ron Clark Story atau Freedom Writer bisa merasakannya. Nah, terlebih dalam film-film Bollywood, ini merupakan kritik terhadap kondisi pendidikan secara umum dan mendasar. Kualitas pendidikan di India memang berada di atas Indonesia. Konon, dalam hal ilmu pegetahuan dan teknologi India mampu bersaing dengan Amerika Serikat. Bagaimana realitas dunia pendidikan itu dihadirkan dalam sebuah film? Bicara soal pendidikan dalam film India, maka tak lepas dari dua film yang dibintangi Aamir Khan yang patut kita simak, 3 Idiots dan Taree Zameen Par.

Film 3 Idiots merupakan hasil adaptasi dari novel Chetan Bhagat, Five Point Someone. Film yang mengangkat kritik filosofis tentang pendidikan di perguruan ini berkisah tentang tiga mahasiswa yang dilabeli “idiot” karena sering melakukan hal-hal konyol, bodoh, dan nakal. Film ini menekankan pada mahasiswa bernama Ranchoddas Shamaldas Chanchad (Rancho/Phunsukh Wangdu) yang diperankan Aamir Khan dan dua orang temannya, Farhan Qureshi (R Madhavan) dan Raju Rastorgi (Sharman Joshi). Kisah mereka bertiga diwarnai berbagai konflik. Meskipun dominan bergenre komedi, film yang dirilis pada Desember 2009 ini tetap menghadirkan sisi romantis dan haru. Yaitu dengan adanya kisah cinta antara Rancho (Aamir Khan) dengan Pia (Kareena Kapoor) yang merupakan putri bungsu Viru Sahastrabuddhe/Virus (Boman Irani)—direktur kampus Imperial College of Engineering (ICE) India.

Seperti saya ungkap tadi, hal yang paling menonjol dalam film ini adalah kritik terhadap sistem pendidikan perguruan tinggi yang hanya berorientasi pada nilai atau angka-angka. Bagi Ranchoddas sistem yang diterapkan Virus di kampusnya “bukanlah pendidikan, melainkan sebuah sirkus”. Mahasiswa “dicambuk” demi mendapatkan predikat nilai yang bagus, bukan dididik menjadi manusia yang berguna. Hal ini bisa dilihat dari tumpukan data mahasiswa gagal yang ditampilkan Virus sewaktu menerima mahasiswa baru. Jelas ini bertentangan dengan hakikat pendidikan yang seharusnya bisa menciptakan manusia dan memanusiakan manusia. Bukan robot mekanik dengan memberikan tekanan dan ketakutan kepada mahasiswa untuk menjadi penurut dan kehilangan nalar kritisnya. 

Berbicara soal keunggulan dan kesuksesan pendidikan di sini kita seolah disodorkan dua kutub berbeda, antara kutub Rancho yang berorientasi proses dan kutub Chatur Ramalingham yang berorientasi hasil. Tentu saja kita bisa melihat tokoh Chatur dan tunangan Pia, Suhas, yang mewakili manusia mekanik hasil dari pendidikan “sirkus” yang diterapkan Virus. Mereka berdua setidaknya menjadi symbol untuk meggambarkan manusia hasil dari pendidikan “sirkus”.

Di film ini juga disinggung soal budaya perploncoan dan senioritas di dunia kampus. Kita bisa melihat bagaimana aksi kocak ketika pertama kali Rancho tiba di asrama. Dia membuat seniornya kesal sekaligus ketakutan oleh tingkahnya yang tidak mau menurut kepada senior. Rancho juga membawa satu mantra ajaib yang katanya “bisa menenangkan hati”. Mantra itu adalah “all is well” sambil menaruh telapak tangan di dada, seolah memberi ketenangan kepada hati yang kerap dilanda ketakutan. Mantra ajaib itu pun menjadi salah satu senjata Rancho cs mampu bertahan melalui berbagai konflik.

Setidaknya dalam 3 Idiots kita bisa menangkap tiga pesan penting. Pertama, pendidikan yang berorientasi pada nilai dan ijazah untuk kerja belaka hanya akan menghasilkan manusia-manusia mekanik. Hal ini masih kerap terjadi dalam penerapan pendidikan di Indonesia. Sehingga bukanlah pembangunan karakter dan mental, tapi lebih kepada lulus ujian dan nilai yang bagus. Meskipun jika pada akhirnya mendapat nilai kurang bagus, kerap terjadi pembohongan atau manipulasi nilai agar “tercatat bagus” di rapor atau ijazah. Kedua, dalam mendidik tidak boleh menyisihkan siswa atau pelajar yang lemah. Semua manusia memiliki potensi dan bakat masing-masing. Pendidikan tidak tercipta hanya untuk yang “pintar” dalam kognitif atau hafalan saja. Kepintaran manusia terdiri dari tiga aspek: kognitif, afektif, dan psikomotorik. Ketiga aspek inilah yang seharusnya dikembangkan oleh seorang pendidik.

Ketiga, pesan manusia sebagai makhluk sosial yang tidak terlepas dari hubungan manusia lainnya. Kita bisa melihat bagaimana sosok Rancho mampu melakukan berbagai hal untuk orang lain. Membawa ayahnya Raju ketika sekarat ke rumah sakit, membuka pikiran Farhan untuk menekuni bidang yang memang menjadi kegemarannya yaitu fotografi, memberikan pendidikan yang layak kepada Milimeter—pesuruh di kampus, termasuk menolong Mona (anak pertama Virus) ketika hendak melahirkan padahal waktu itu dia telah diusir oleh Virus lantaran terpergok menyelinap ke kantornya.

Jika dalam 3 Idiots mengangkat tema filosofi pendidikan di perguruan tinggi, dalam Taree Zameen Par yang disutrradarai langsung oleh Aamir Khan bercerita tentang perjuangan seorang anak penderita disleksia (gangguan saraf pada otak yang menyebabkan seseorang membaca) bernama Ihsaan (Darsheel Safary). Haru campur sedih. Mungkin itu yang akan kita rasakan saat menonton film ini. Di film ini kita bisa menemukan kritik terhadap pendidikan orang tua terhadap anaknya. Ihsaan harus disisihkan lantaran disleksia yang dideritanya. Ia kerap dinilai “bodoh” dan “nakal” lantaran tidak bisa membaca dan menulis dengan benar dan sering membolo sekolah. Ditambah lagi diksriminasi daei sang ayah yang lebih mengunggulkan kakaknya, Yohan, lantaran Yohan lebih pintar dan memiliki prestasi gemilang di bidang akademik dan olahraga ketimbang Ihsaan. 

Singkat cerita Ihsaan yang tak mengalami kemajuan di sekolah lamanya itu pun akhirnya dipindahkan ke asrama (boarding school) yang letaknya jauh dari rumah, dengan harapan bisa mendapatkan hasil belajar yang lebih baik. Meskipun harus mengalami patah hati, patah semangat, dan kesedihan yang mendalam karena merasa di buang dari keluarga, Ihsaan bisa melaluinya berkat bantuan teman dan seorang guru bernama Ram Shankra Nikhumb. Beruntunglah Ihsaan bertemu dengan Ram Shankar Nikhumb (Aamir Khan). Nikhumb mengajari dan melatih Ihsaan menulis, membaca, melukis, dan berhitung dengan sabar setiap waktu. Dia mencoba mencari berbagai metode yang tepat untuk bocah dengan imajinasi tinggi itu. Sampai akhirnya dia menemukan bakat terpendam dalam diri Ihsaan, yaitu di bidang seni lukis. Pada suatu ketika, Nikhumb mengadakan perlombaan lukis di sekolah itu dengan harapan Ihsaan mau ikut dan menunjukkan bakatnya kepada orang-orang di sekolah. Sampai akhirnya Ihsaan pun menjadi juara dan membuktikan bahwa setiap anak memiliki bakat tersendiri dan istimewa.

Di film ini kita bisa menangkap dua aspek penting; peran orang tua/keluarga dalam pendidikan dan peran guru atau lembaga pendidikan. Pesan pertama adalah perhatian keluarga atau orang tua merupakan motivasi terbesar bagi seseorang untuk berkembang. Maka orang tua bukan hanya menekankan kehendaknya terhadap sang anak, melainkan juga mendengar keinginan dan memahami apa yang dialami si anak. Membimbing dan menemani setiap proses sang anak dalam belajar. Kedua, setiap anak memiliki keistimewaan tersendiri. Bisa berupa bakat terpendam, keahlian khusus, dan lainnya yang perlu diketahui oleh orang tua. Jika orang tua abai maka sang anak akan mengalami frustrasi dan cenderung bertingkah “nakal” atau memberontak. 

Dan yang terakhir adalah peran pendukung dari guru dan lingkungan sekolah. Jika guru memiliki perhatian lebih seperti yang dilakukan Nikhumb, guru bisa mengidentifikasi masalah yang diderita sang anak dan mengupayakan berbagai jalan keluar bagi masalah tersebut. Maka guru harus bersikap empati terhadap peserta didiknya. Tidak menjadikan murid sebagai robot mekanik. Murid adalah subjek yang mampu berdialog dan membawa pengetahuan serta potensi yang perlu dikembangkan oleh guru. Begitu pun dengan lingkungan sekolah, harus mendukung terhadap adanya proses yang demokratis, tidak diskriminatif, dan peduli pada siswanya.
 
Komersialisasi agama dan reaksi sosial dalam film PK

Penyuka film India pasti tahu film PK. Film jenaka yang mengangkat masalah cukup berat ini sempat mendapat perlawanan dan pencekalan di negerinya sendiri lantaran dianggap menyinggung salah satu komunitas agama di India. Dalam artikel PB Sugiyono di Lingkar Studi Filsafat Cogito (lsfcogito.org) disebutkan bahwa pokok dari film PK ada tiga pesan utama: (1) kritik terhadap agama-agama dan praktik keagamaannya; (2) penekanan ‘Tuhan tidak perlu dibela’; (3) kritik terhadap pemimpin (komunitas) agama.

Di film ini kita bisa melihat bagaimana seorang alien yang kemudian disebut peekay (mabuk) atau PK ini mencoba mencari jalan pulang, setelah remote pemanggil ufonya dicuri oleh orang tak dikenal, mengalami berbagai reaksi sosial yang berujung pada kalimat penuh tanda tanya baginya: “Hanya Tuhan yang bisa menolongmu”. Kemudian dia mencari siapa Tuhan itu sebenarnya. Berbagai agama pun dia ikuti, mulai dari Sikh, Hindu, Islam, dan Kristen. Berbagai ritual pun dia lakukan dengan harapan bisa menemukan Tuhan. Saking merasa “Tuhan berutang” padanya, karena pada saat memohon di kuil hindu dia membayar sejumlah uang untuk berdoa, dia menyebarkan selebaran bergambar dewa-dewa dengan tulisan “missing”.

PK yang diperankan Aamir Khan itu akhirnya bertemu dengan seorang jurnalis bernama Jaggu Jaggat Jaggani yang diperankan Anushka Sharma. Jaggu mencoba mengangkat keunikan tokoh PK dalam program televisinya. Pertanyaan-pertanyaan menggugah nalar yang dilontarkan PK cukup menarik dan mempertanyakan keyakinan. Sampai pada pangujung film, PK dan Tapashwi (tokoh pemimpin agama Hindu) melakukan debat terbuka di televisi. Di sinilah penekanan tentang “Tuhan tak perlu dibela”, “praktik agama manakah yang paling benar”, “pemimpin agama bisa menyebabkan wrong number”, dan “agama adalah jalan menuju Tuhan yang sejati” bisa kita temukan secara jelas.

Ya, kritik dalam film ini memang ditujukan kepada siapa pun, beragama apa pun, untuk tidak menuhankan agamanya, tidak menuhankan ritual sesembahannya, dan tidak menuhankan symbol-simbol agamanya. Karena dalam berbagai fenomena yang dialami PK saat mencari Tuhan, banyak “wrong number” dalam praktik keagamaan lantaran kesalahan pemimpin komunitas agama dalam menerjemahkan “jalan menuju Tuhan” itu dan bahkan cenderung memanfaatkannya sebagai lahan bisnis.
 

Ambisi dan kesetaraan gender dalam film Dangal dan Secret Superstar

Ambisi. Dalam setiap film pasti ada ambisi si tokoh untuk mencapai tujuannya. Terkadang ada yang mengubur ambisinya demi mengikuti arus, dan ada juga yang melawan arus demi ambisinya. Inilah yang menjadikan konflik film menjadi menarik untuk disimak. Apalagi dengan sentuhan isu kesetaraan gender. Pada dasarnya, kesetaraan gender adalah perjuangan meraih keadilan, melawan tradisi yang menindas kaum perempuan, mendobrak budaya dan kebodohan yang mengungkung kaum perempuan, melawan budaya patriarki yang cenderung menganggap laki-laki lebih unggul dibanding perempuan. Sehingga misalnya ketika seorang perempuan mengerjakan “pekerjaan lelaki” dianggap suatu hal yang tak biasa, tak lazim, dan aneh.

Dalam film Dangal, yang dirilis tahun 2016, kita bisa melihat ambisi seorang mantan pegulat Mahavir Singh Phogat yang diperankan Aamir Khan yang ingin memiliki keturunan seorang pegulat untuk meneruskan mimpinya memenangkan kejuaraa dunia. Dia sangat menginginkan kehadiran anak laki-laki. Karena pada saat itu gulat dianggap olahraga kaum lelaki. Sampai-sampai bermacam ritual dia lakukan. Namun, takdir berkata lain. Dia justru dianugerahi anak perempuan. Mahavir yang makin tua pun berharap dengan kelahiran anak keduanya. Namun, lagi-lagi dia dianugerahi anak perempuan. Dia pun sempat putus asa dan mengubur ambisinya untuk memiliki anak pegulat. Sebab, bagi masyarakat India, gulat adalah “olahraga lelaki” bukan untuk perempuan dan perempuan tidak umum melakukan olahraga ini. 

Hingga pada suatu ketika Mahavir mendapati kedua anak perempuannya itu memukuli tetangganya saat bermain hingga babak belur. Dari kejadian itulah keyakinan dan asa yang telah dia kubur muncul kembali. Dia pun memaksa kedua anaknya untuk berlatih keras setiap hari. Tak lain untuk menjadikan mereka pegulat. Hingga anak pertamanya Geeta Phogat (Fatima Sana Shaikh) akhirnya mengikuti kompetisi gulat. Sempat ditolak oleh panitia, tapi akhirnya panitia mengizinkan peserta perempua untuk ikut kompetisi itu dengan sedikit paksaan. Seiring berjalan waktu, ternyata Geeta menunjukkan kehebatannya. Dia pun terus menggeluti olahraga gulat hingga berhasil lolos ke pelatnas untuk mewakili India di kejuaraan dunia. Mengikuti jejak kakaknya, Babita Kumari (diperankan Sanya Malhotra) pun menjadi pegulat profesional. Beragam konflik mereka alami, mulai dari konflik batin hingga konflik yang terjadi antara Mahavir dengan Geeta.

Film Aamir Khan berikutnya adalah Secret Superstar yang dirilis tahun 2017. Film ini mengisahkan tentang perjuangan seorang anak perempuan bernama Insia (diperankan Zaira Wasim) dalam mewujudkan impiannya menjadi seorang penyanyi. Insia adalah gadis berusia 14 tahun yang memiliki bakat terpendam dalam beryanyi. Namun, dia tak bisa mewujudkan mimpinya lantaran sang ayah Farookh (Raj Arjun) melarangnya dengan keras. 

Farookh digambarkan sebagai seorang pekerja keras yang tempramen dan kerap menyiksa istrinya, Najma (Meher Vij). Farookh memiliki waktu yang tak banyak untuk keluarganya, hampir seluruh waktunya dia habiskan untuk pekerjaannya di luar rumah. Meski begitu kehidupan keluarganya tetap pas-pasan. Suatu ketika, Najma memberikan hadiah ulang tahun berupa laptop kepada Insia. Insia begitu senang. Dengan laptop itu dia merekam aksinya bernyanyi dan mengunggahnya di Youtube. Tak disangka video yang dia unggah viral, meskipun di video itu Insia menutupi identitasnya dengan mengenakan cadar.

Video Insia yang viral itu menarik perhatian seorang musisi bernama Shakti Kumar (Aamir Khan). Dengan bantuan Chintan (Thirt)—teman sekelasnya—Insia akhirnya bisa menghubungi dan menemui Shakti Kumar. Singkat cerita, Farookh mendapat tugas untuk pindah kerja ke luar negeri. Yang artinya mereka sekeluarga harus ikut pindah dan mimpi Insia untuk menjadi penyanyi di India harus kandas. Namun, dengan kekuatan cinta seorang ibu, Najma akhirnya membawa Insia ke Mumbai untuk menemui Shakti Kumar. Seorang secret superstar Youtube yang selama ini tak diketahui identitasnya pun akhirnya bisa mewujudkan mimpinya menjadi seorang penyanyi. Dari kedua film itu kita bisa melihat adanya ambisi. Yaitu ambisi untuk mewujudkan keinginan dan mimpi. Berbagai cara dilakukan sepenuh hati untuk mencapai tujuannya itu.

Mahavir dalam film Dangal ketika menginginkan anak laki-laki, dia melakukan berbagai hal, bahkan sesuatu yang bisa dikatakan mitos warga setempat pun dia lakukan. Ambisi kedua adalah ketika Mahavir melatih anak-anak perempuannya untuk menjadi pegulat profesional. Proses memang tidak pernah membohongi hasil. Mungkin ini pesan yang ingin disampaikan. Kegigihan dan kerja keras Geeta dan Babita membawa mereka ke gelanggang turnamen gulat dunia.

Di film Secret Superstar juga kita melihat ambisi Insia yang ingin mengejar mimpinya mejadi penyanyi. Beberapa kali dia mengambil risiko besar dengan kabur dari sekolah untuk pergi ke Mumbai menemui Shakti Kumar. Perjuangan berikutnya ditunjukkan oleh Najma. Sebagai seorang ibu yang polos, bahan bodoh dan lugu, Najma mampu memberikan pengorbanan yang begitu besar demi mewujudkan cita-cita Insia. Pertama dia menjual seluruh perhiasannya untuk membelikan Insia laptop. Kedua dia menggugat cerai Farookh yang selalu menentang dan membatasi keinginan dan cita-cita anaknya. Dan, lagi-lagi kita seolah disadarkan bahwa kekuatan cinta sejatinya mampu melawan berbagai hal.

Kedua film ini juga menyuarakan kesetaraan gender. Gender menurut Mansour Faqih (2007) adalah “suatu sifat yang melekat pada laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural. Misalnya bahwa perempuan itu lemah lembut, cantik, emosional, dan sebagainya. Sementara laki-laki dianggap kuat, rasional, jantan, perkasa, dan tidak boleh menangis. Ciri dan sifat itu sendiri merupakan sifat-sifat yang dapat dipertukarkan.” Pandangan yang terkonstruk di masyarakat tersebut bisa mengakibatkan adanya ketidakadilan entah dalam segi sosial, politik, maupun budaya. Sehingga peran perempuan dan laki-laki dibeda-bedakan. Maka upaya memperjuangkan kesetaraan gender adalah upaya melawan pandangan-pandangan tersebut sekaligus upaya menegakkan keadilan.

Di film Dangal bisa kita temukan adanya perlawanan terhadap budaya dan pandangan lingkungan masyarakat yang memandang perempuan “tak layak—karena terlalu lemah” untuk melakukan olahraga “laki-laki”. Awalnya Mahavir juga memiliki pandangan demikian, hingga suatu ketika dia tersadarkan. Yaitu ketika Geeta dan Babita memukuli dua anak lelaki sampai babak belur. Akhirnya Mahavir tak ragu lagi dengan kedua anak perempuannya. Bahwa mereka bisa melakukan bahkan memenangkan pertandingan gulat dengan lawan lelaki sekalipun.

Dalam Secret Superstar memang tak begitu kental nuansa kesenjangan gendernya. Tapi jika kita memperhatikan sosok Farookh sebagai ayah, kita bisa menemukannya dalam lingkup keluarga. Farookh memandang perempuan itu tak bisa lebih pintar dari lelaki, di sini kita melihat adanya ketidakadilan terhadap Insia dan Najma. Insia dibatasi hanya untuk sekolah dan belajar, padahal dia memiliki bakat lain yang potensial untuk dikembangkan. Sementara Najma saban hari harus menghadapi sikap Farookh yang tempramen, pemarah, dan kerap melakukan kekerasan. Di sini kita bisa melihat bagaimana Najma dan Insia membuktikannya dengan mewujudkan bakat yag dimiliki Insia, yaitu bernyanyi.

Demikianlah kira-kira angin segar yang dihadirkan Aamir Khan dalam film-filmnya. Bagi para penikmat film Bollywood atau India, tentu ini merupakan sesuatu yang berbeda dengan tradisi film India pada umumnya. Warna berbeda dengan membawa visi baru ini menjadikan film India tidak sekadar soal cinta-cintaan, dendam, atau tari-tarian, melainkan ada visi kemanusiaan, perjuangan keadilan, gugatan tradisi dan budaya di dalamnya. Selain film-film yang saya sebutkan tadi tentunya masih banyak lagi film India keluaran setelah tahun 2000-an yang juga menarik untuk dikaji. Mungkin saya akan bahas dalam tulisan lain. Mohon dimaklumi bila ulasan saya kurang mendalam. Semoga bermanfaat.[]

**Pernah diunggah di blog Ulul al-Bab Institutes

  • view 44