Review: Krisis Arab & Masa Depan Dunia Islam Karya Buya Syafii

Ahmad Sholeh
Karya Ahmad Sholeh Kategori Agama
dipublikasikan 12 Juli 2018
Review: Krisis Arab & Masa Depan Dunia Islam Karya Buya Syafii

Oleh: Ahmad Sholeh

Barangkali ini sudah kesekian kali saya membaca buah karya Buya Syafii yang berbentuk buku, selain tentunya tulisan-tulisan singkatnya di Resonansi harian Republika, media online, maupun majalah Suara Muhammadiyah. Ketika membaca tulisan Buya, tak henti-henti saya takjub dengan gaya bahasanya yang khas. Terlebih, bobot tulisannya yang dalam, reflektif, kritis, dan tajam, bahkan kadang menohok kita sebagai kaum Muslim maupun sebagai manusia.

Di dalam buku Krisis Arab & Masa Depan Dunia Islam ini, saya menemukan pikiran-pikiran, kritik, wacana kritis, dan juga solusi terhadap situasi keislaman global dan juga nasional. Awalnya, saya pikir buku ini semacam berisikan larangan: "Jangan melulu Islam berkiblat ke Arab!" Tapi, setelah membacanya secara utuh, anggapan saya itu runtuh.

Oh, rupanya lebih dalam. Dalam buku yang berisi esai-esai singkat, makalah, dan artikelnya ini Buya mencoba menggali setiap kejadian di dunia Arab. Termasuk juga membahas mengenai Arab Spring ataub Musim Semi Arab. Isu Sunni, Syiah, dan Khawarij yang dalam pandangannya tak lebih dari urusan perebutan kekuasaan belaka.

Latar belakangnya sebagai sejarawan--Buya Syafii Maarif lebih menyebut dirinya peminat sejarah, membuatnya tak sedikit mengungkit sisi historis. Baginya, sejarah harus memberikan refleksi kepada kita di masa ini. Sehingga, ada semacam ungkapan, "Jangan buta sejarah, tapi jangan juga jadikan sejarah sebagai berhala". Ia punya sisi reflektif, hikmah, yang bisa kita ambil untuk kehidupan saat ini dan ke depan.

Ditambah lagi dengan pikiran-pikiran cemerlangnya yang kembali mengangkat isu 'ukhuwah' ke tengah-tengah kita. Isu yang selama ini sudah jauh ditinggalkan bangsa Arab, terutama oleh kelompok-kelompok yang berebut kekuasaan. Yang tak ayal menimbulkan peperangan, saling bunuh, saling injak tengkorak saudaranya sendiri. Tak hanya itu, dalam buku yang baru terbit bulan lalu ini, Buya juga mendaras beberapa pemikiran tokoh seperti Abou El Fadl dan Gilad Atzmon.

Mengutip paragraf terakhir dari di buku ini: "Serbakeanehan telah berlaku pula di negeri ini: Arab semakin menjadi Barat, sedangkan sebagian warga Indonezia bertingkah kearab-araban!" (hlm. 205). 

Di sini, Buya Syafii seolah memberi rambu kepada kita, untuk bisa memisahkan antara keislaman (nilai dan ajaran Islam) dengan kearaban (budaya Arab). Wallau a'lam Bissawaab.[]

  • view 46