Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Inspiratif 12 Juli 2018   19:35 WIB
Membaca Perjalanan Rasa Fahd

Oleh: Ahmad Sholeh

“Belajarlah. Jika kau belum mengerti, kau akan melakukan kesalahan lagi. Tetapi itu wajar. Sebab tak ada satupun manusia yang bisa berjalan tanpa terlebih dahulu terjatuh, bukan? Tetapi, teruslah berjalan. Kapan pun kau merasa pintar, kau akan terjatuh—melakukan kesalahan. Maka teruslah merasa bodoh, sebab kau harus terus belajar.”―Fahd Pahdepie

Memori yang terserak. Mungkin itu frasa awal yang muncul di kepala saya ketika membaca secara sekilas daftar isi dari buku Perjalanan Rasa karangan Fahd Pahdepie ini. Ya, buku ini kurang lebih berisi memori kenangan penulisnya, Fahd Pahdepie. Di buku yang berisi kumpulan tulisan singkat ini, penulisnya menceritakan tentang apa saja yang membuatnya seolah ingin mengungkapkan, "Perjalanan rasa inilah yang membuatku jadi seperti ini, saat ini."

Jika dilihat secara runtut, daftar isinya dimulai dengan "Mama" dan terakhir penulisnya menceritakan kisahnya bersama "Ayah". Secara isinya, saya kira buku ini cukup baik. Setiap kisah yang diungkapkan penulisnya mampu membawa pembaca pada tiap-tiap plot tentang rasa, yang meski tak saling terhubung.

Namun, ada kata kunci dari tiap akhir tulisan yang kembali dikisahkan ke dalam kisah selanjutnya. Kadang melompat-lompat, kadang juga memperdalam makna tulisan sebelumnya.

Ya, kira-kira secara garis besar saya rasa buku ini ingin mengajak kita merenungi, "Betapa beruntungnya bisa memiliki keluarga, orang tua, teman, pengalaman, dan kenangan-kenangan." Yang kesemuanya itu turut membentuk pola pikir dan pola tindak kita. Syahdan, buku ini tidak terlalu larut dalam dramatisasi kisah-kisahnya.

Jadi, tak perlu khawatir atau terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa buku ini buku orang lebay, melankolis, maupun romantis. Nyatanya, buku ini mampu membawa wawasan baru buat pembacanya yang dihadirkan melalui medium bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti.

Selain masalah isinya. Tentu saja tampilan buku pun patut menjadi perhatian. Secara visual, tampilan buku ini agak feminine atau terkesan perempuan. Apalagi dengan kombinasi warna-warna soft seperti pastel, biru langit, dan sebagainya. Namun, jangan terlalu dirisaukan, justru dengan desain seperti itu kita bisa sangat menikmati buku ini.

Desain layoutnya yang kekinian, dengan jenis huruf yang nyaman dibaca, gambar-gambar sederhana, dan kutipan-kutipan yang dibuat grafis menarik, buku ini menjadi amat nyaman untuk dibaca.

Untuk bisa tahu seberapa menariknya buku ini, saya menyarankan kawan-kawan sekalian segera membelinya. Agar kawan-kawan pembaca sekalian bisa memberikan penilaian sendiri terhadap buku Perjalanan Rasa karya Fahd Pahdepie ini.

"Kita bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, sampai kita mewakili pikiran dan perasaan kita sendiri!" --Fahd Pahdepie.

**bisa juga baca di Sajingga.

Karya : Ahmad Sholeh