SURAT ARMAN (Bagian I)

Ahmad Sholeh
Karya Ahmad Sholeh Kategori Project
dipublikasikan 17 November 2017
Tunggu, Aku Datang

Tunggu, Aku Datang


Kumpulan cerpen

Kategori Fiksi Umum

1.2 K Hak Cipta Terlindungi
SURAT ARMAN (Bagian I)

 

: Ahmad Sholeh

Malam itu, pertengahan bulan Rajab, bulan sedang terang-terangnya. Aku merasakan semilir angin malam tengah mengendus jari-jari kakiku yang sedang duduk di teras kobong1 tempat biasa aku dan teman-temanku beristirahat dan belajar. Surat itu pun aku terima. Amplop lusuh berwarna kecokelatan membungkus rapi secarik kertas berisi tulisan dari dia, sang pujaan hati. Dia bernama Arman. Lelaki pintar, taat beragama, dan baik hati. Ah, senangnya bukan kepalang.

Kalau dipikir-pikir, aku yang cuma anak desa ini rupanya beruntung sekali bisa dapat surat dari Arman. Jujur saja, aku mulai kesengsem. Siapa yang tidak bakal kesengsem sama lelaki macam Arman. Begitu langka lelaki macam itu, meskipun di pesantren seperti ini. Mungkin seratus banding satu. Dan aku yakin sekali suatu saat bisa mendapatkan perhatiannya. Buktinya ini dia mengirim surat buatku. Meskipun, sebenarnya aku takut. Aku tak tahu bagaimana jika bapak tahu. Pasti bapak marah. Pikirku. Tapi aku juga yakin selama aku masih berada di sini dan tidak berbuat macam-macam, bapakku tentu takkan marah. Yang penting jangan sampai salah langkah.

“Oh Tuhan, mengapa Engkau beri aku cobaan sedahsyat ini saat ini, dan di sini pula,” gumamku sembari melihat bulan yang hampir bundar total itu.

Malam ini memang tak seperti biasanya. Pondok begitu terasa sunyi dan sepi. Ya, sepertiga malam begini paling cuma satu-dua santri yang masih bangun untuk shalat malam. Maklum saja, sejak sepekan lalu para santri sudah disibukkan dengan beragam aktivitas tahunan pesantren. Kami menyebutnya Rajaban2. Yang di antaranya adalah pelepasan santri-santri senior yang sudah khataman. Dan tadi sore adalah acara puncaknya. Pengumuman pemenang lomba dan parade tilawah dari para khatmil Quran. Lumayan meriah dan menguras tenaga. Jadi wajar saja kalau sekarang banyak yang memilih untuk tidur.

“Nay, belum mau tidur tah?” tanya seorang teman tetangga kobongku. Dia bernama Lia, asalnya satu kota denganku. Hanya saja aku tinggal di desa, sedang dia di daerah perkotaan.

“Belum, nanti saja,” jawabku singkat. Jujur saja aku tak mau siapa pun mengangguku malam ini. Sekalipun itu setan ataupun malaikat. Aku cuma mau duduk di sini, sendiri. Menatap rembulan dari celah jendela sambil merasakan belaian angin dan getaran di balik amplop dari Arman ini.

Rasanya, aku tak boleh membukanya sekarang. Aku takut isi surat itu justru membuatku jatuh lebih dalam kepada rasa itu. Mungkin saja itu dari setan yang mau mengganggu niat belajarku di pondok. Terlebih, aku masih terlalu dini untuk mengenal lelaki. Meskipun dia memang sosok idamanku. Dan mungkin idaman setiap santriwati di sini. Ah, betapa sialnya aku didera dilema di malam yang sudah kepagian begini.

Lebih baik aku meminta kepada Tuhan. Mungkin saja Tuhan bisa memberiku kekuatan untuk tidak membuka surat itu saat ini. “Ya, sudah kuputuskan. Aku akan menyimpannya, sampai nanti waktu yang tepat dan aku siap membacanya, baru akan kubuka,” gumamku. Aku pun menyelipkan surat dari Arman itu di dalam sebuah kitab dan menaruhnya di lemari, tepat di bawah tumpukan pakaian. Semoga saja tidak lapuk di makan rayap.

Angin pun berembus. Lebih dingin. Inilah udara pukul tiga dini hari. Aku beranjak menuju mushala. Air wudhu pun terasa menusuk tulang. Dan aku, seorang perempuan, masih terjaga di malam yang hening begini. Apalah dayaku, kalau bukan untuk meminta petunjuk dari Tuhan untuk persoalan hati ini. Aku takut salah langkah. Aku takut. Aku juga takut kehilangan jejak Arman. Oh, Tuhan.

***

Enam bulan berlalu. Semenjak aku menerima surat itu, sampai detik ini aku masih bisa menahan diri untuk tidak membacanya. Surat itu masih tersimpan rapi. Mungkin enam bulan bukanlah waktu yang lama. “Tapi bagiku, apa kau tahu? Ini sangat sulit, tak sehari pun aku lewati tapa keinginan untuk membuka amplop lusuh itu,” gumamku. Tapi, aku masih bisa menahan diri.

“Nay, kamu tahu Arman bakal keluar dari pondok?” kata Lia yang sedari tadi mondar-mandir tak karuan di pelataran kobong. Aku sedikit kaget mendengar apa yang dikatakan Lia.

“Yang benar Li? Kenapa?” tanyaku.

“Lho, memangnya kamu tidak tahu? Hampir semua santri di sini tahu, apalagi para penggemar Arman. Tapi aku tak tahu Nay, dia bakal pergi ke mana. Aku kira dia memberitahumu, ternyata tidak?”

Jawaban Lia itu tak berhasil menjawab pertanyaan yang ada di otakku. Dia hanya masih menduga-duga. Tapi, apa betul Arman akan pergi secepat itu. Apa dia takkan kembali lagi ke sini?

“Sudah lah, Li, lanjutkan saja hafalanmu. Jangan bahas Arman. Nanti hafalan kita buyar, ha ha,” kataku. Padahal sebenarnya aku masih penasaran. Aku, Lia, dan teman-teman santri lain pun sibuk dengan kitab masing-masing sambil sesekali terdengar sahut-menyahut hafalan kitab.

Sejak saat itu pun kabar soal Arman yang bakal pergi tak terdengar lagi. Aku diam-diam menyelidiki kabar yang kudapat dari Lia itu. Karena kami berada di pondok putri, terpisah dari pondok tempat Arman memondok. Kebetulan aku punya salah satu teman di pondok putra yang sesekali sempat bertemu saat pergi ke pasar. Pergi ke pasar menjadi salah satu keistimewaan bagi santri yang memegang urusan dapur. Dan itulah yang kualami saat ini. Menjadi penanggung jawab untuk urusan logistik dapur asrama yang terdiri dari beberapa kobong.

Suatu hari aku pergi ke pasar, tidak begitu jauh dari pondok. Cukup naik angkutan umum sekali saja. Dialah Irfan, seorang santri yang kebetulan satu asrama dengan Arman. Saban kali aku pergi ke pasar selalu bertemu dia. Ya, semuanya tanpa sengaja, meski sebenarnya kami hampir hafal dan sudah seperti punya kontak tersendiri bahwa akan bertemu. Tapi itu tak begitu penting. tak bertemu dia pun tak ada masalah. Yang penting bagiku saat ini adalah mengonfirmasi kepergian Arman. Menanyakan betul atau tidaknya.

“Fan, betul Arman akan keluar dari pondok?” Irfan diam saja, tak menjawab. Mungkin karena kami sedang di angkot, Irfan lebih memilih diam. Tapi kalau kulihat dari tatapannya dia seperti menyembunyikan sesuatu. Mungkinkah dia tahu sesuatu hal tentang Arman? Sampai-sampai Arman mengirimiku surat enam bulan lalu.

Sesampai di pasar kami pun turun dari angkot. “Belanja apa hari ini Nay?” tanyanya, kukira dia bakal menjawab pertanyaanku tadi. Aku berharap sekali dia memberitahuku soal Arman.

“Nay!” teriak Irfan, membuyarkan lamunanku.

“Eh, iya.. seperti biasa Fan. Belanja kebutuhan dapur buat asrama. Tapi kayaknya lumayan banyak nih, soalnya dapur lagi kosong bumbu-bumbunya,” jawabku.

Kami pun menyeberang jalan untuk menuju pasar rempah. Menurutku Irfan memang orang yang baik. Aku yakin banyak yang suka padanya. Terlebih dia juga tak kalah ganteng dan kalemnya dengan Arman.

“Makan dulu yuk, Nay,” ajak Irfan, aku cuma mengangguk. Pagi itu pun kami sempatkan untuk sarapan di warung makan sebelah pasar rempah. Aku ingin sekali menanyakan kembali soal Arman tadi, tapi aku takut merusak suasana pagi itu. Kelihatannya Irfan memang sedang tak mau bahas apa-apa soal temannya itu. BERSAMBUNG.

------------

1 Kobong: kamar istirahat santri di asrama pesantren tradisional.

2 Agenda tahunan yang biasanya diadakan dalam rangka khataman dan pelepasan santri.

 

  • view 333