PEMBELAJARAN SASTRA ANTIKORUPSI

Ahmad Sholeh
Karya Ahmad Sholeh Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 07 November 2017
PEMBELAJARAN SASTRA ANTIKORUPSI

 

:Ahmad Sholeh

Istilah sastra berasal dari bahasa Sanskerta yaitu susastra yang terdiri dari kata su dan sastra. Su berati indah, dan sastra yang berarti tulisan. Maka, susastra berati tulisan yang indah atau tulisan yang mengandung keindahan, baik dari kata-katanya maupun makna yang terkandung di dalamnya.

Sastra menjadikan bahasa sebagai medianya, oleh karena itu sastra dapat dijadikan sebagai sarana untuk menyampaikan perasaan, gagasan, visi, harapan, dan ajakan kepada pembacanya. Dalam perkembangannya, sastra terbagi menjadi dua, yakni sastra lisan dan sastra tulisan.

Bagi pembaca, karya sastra dapat menjadi hiburan, namun juga sastra dapat menjadi tempat untuk menggali hikmah atau pelajaran. Dengan membaca karya sastra, pembaca dapat menyingkap nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Hal ini tentu menjadi salah satu pelengkap kebutuhan manusia, sebagai pemenuh dahaga spiritual.

Dewasa ini, perilaku manusia lebih bersifat materialistis dalam memandang hidup. Hal tersebut disebabkan oleh keringnya batin manusia. Sehingga menimbulkan perilaku-perilaku yang melenceng dari moralitas, seperti perilaku korupsi, sontek-menyontek, seks bebas, dan hal-hal yang bersifat duniawi lainnya. Tentunya ini mengancam aspek-aspek krusial dalam kehidupan, seperti aspek sosial, politik, ekonomi, dan budaya.

Pembelajaran sastra

Pembelajaran sastra Indonesia di sekolah masuk dalam bagian mata pelajaran Bahasa Indonesia. Sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia, sastra tentunya perlu dilestarikan dan digiatkan. Sebagai bentuk kecintaan terhadap bahasa Indonesia, sastra Indonesia perlu dipelajari mulai dari tataran SD sampai SMA. Dalam pembelajaran sastra, biasanya dikenal istilah apresiasi sastra atau memberikan penghargaan terhadap karya sastra.

Kegiatan apresiasi sastra di sekolah melingkupi kegiatan membaca, mencipta, menghayati (mengambil pelajaran), dan melakukan kritik atau perbandingan terhadap karya sastra. Apresiasi karya sastra tentunya merupakan hal yang penting dalam pembelajaran sastra di sekolah. Karya sastra sebagai suatu karya cipta manusia perlu diapresiasi sebagai bentuk penghargaan.

Pembelajaran apresiasi sastra di sekolah, tentunya perlu melibatkan peran aktif siswa dalam menikmati dan menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra. Maka dari itu, pembelajaran sastra hendaknya menggunakan karya sastra asli. Misalnya, jika membahas novel maka guru harus menyiapkan novel yang asli, bukan sebatas sinopsis.

Dengan demikian, proses apresiasi akan berjalan efektif dan reflektif. Sehingga proses pembelajaran tidak hanya bersifat knowledge transfer saja, tapi juga bisa merefleksi atau menghayati dari pembelajaran yang diberikan.

Karakter antikorupsi 

Tujuan pembelajaran sastra ada dua, yaitu memberikan pengetahuan tentang sastra dan memberikan pengalaman dan pengamalan bersastra. Hal ini jika kita kaitkan dengan tujuan pendidikan, yaitu membangun dimensi karakter dan kepribadian siswa, maka pembelajaran sastra dapat menjadi salah satu pendukung tujuan luhur pendidikan tersebut.

Melalui karya sastra siswa dapat menggali nilai-nilai kehidupan. Tidak hanya itu, dengan diajarkan atau diberikan pengalaman bersastra, mental dan nalar kreatif siswa akan muncul dengan sendirinya.

Dewasa ini karut-marut dan kegaduhan kasus di meja hijau masih belum juga reda. KPK sebagai badan khusus yang bertanggung jawab terhadap penyelidikan dan pengusutan kasus korupsi, masih terus menjaring para pejabat yang diduga melakukan tindak korupsi. Bukan tidak mungkin, tindak korupsi yang saat ini merebak adalah karena tidak ditanamkannya nilai kejujuran sejak masih kecil.

Dalam pendidikan, menanamkan sifat kejujuran dan berani mengungkap kebenaran adalah suatu kewajiban karena itu merupakan tanggung jawab moral. Pembentukan karakter dan kepribadian siswa perlu digalakkan dari berbagai aspek pendidikan. Hal ini ditujukan agar tercapainya tujuan-tujuan dalam pendidikan itu sendiri.

Sastra yang baik adalah sastra yang dapat memberikan hikmah atau pelajaran kepada pembacanya. Jika ingin menanamkan karakter antikorupsi kepada siswa, karya sastra yang digunakan bisa disesuaikan dengan kebutuhan akan hal itu. Misalnya, karya sastra novel atau roman yang berisi kisah orang yang jujur, puisi tentang kritik sosial, maupun dengan cerita-cerita yang menggugah kesadaran kemanusiaan dan kesadaran transendental.

Sehingga dari karya itu bisa diambil nilai-nilai kebaikan. Setelah itu belajar menciptakansebagai wujud mengajarkan pengalaman bersastra. Dan yang terakhir adalah pengamalan, yaitu nilai-nilai dalam karya yang diapresiasi dan diciptakan tidak hanya dipahami, melainkan juga dijadikan basic nilai terhadap perbuatan anak.  

Sebagai fondasi fundamental, keimanan dan moralitas pun perlu ditanamkan. Penanaman karakter ataupun pembangunan kepribadian tentunya memerlukan proses yang tidak mudah. Namun demikian, dalam pembelajaran sastra, proses mengahayati adalah salah satu jalan untuk mencapai pada penanaman karakter antikorupsi pada diri siswa. Untuk mampu menghayati suatu karya sastra, tentunya langkah pertama yang harus dibangun adalah menumbuhkan rasa cinta terhadap karya sastra. Dengan rasa cinta tersebutlah siswa akan menggali setiap nilai yang terkandung dalam karya sastra. Wallahu ’alam.

  • view 101