DIBAKAR MASSA

Ahmad Sholeh
Karya Ahmad Sholeh Kategori Project
dipublikasikan 07 November 2017
Tunggu, Aku Datang

Tunggu, Aku Datang


Kumpulan cerpen

Kategori Fiksi Umum

1.2 K Hak Cipta Terlindungi
DIBAKAR MASSA

: Ahmad Sholeh

Entah kemalangan apa lagi yang akan aku lihat setelah hari ini. Tapi firasatku berkata ada sesuatu yang tak beres. Seperti manusia yang lainnya juga. Hidup di pinggiran kota besar memang tidak selalu menyenangkan. Ada saja kejanggalan demi kejanggalan yang terjadi.

 

Sebelumnya hari-hariku biasa saja. Aku menjalani hidup layaknya seorang suami bagi istriku juga ayah bagi anak-anakku. Tati, istriku, dia orang yang sabar. Bahwa semenjak menikah dia tak pernah surut memberiku semangat dan doa. Seperti halnya pasangan suami-istri baru. kami pun punya banyak mimpi-mimpi yang sudah kami catat dan akan kami perjuangkan. Salah satunya adalah Riyan, anak kesayangan kami yang kini baru berusia tiga tahun.

Kabar baiknya, meski hidup kami sederhana, nyatanya Tuhan memberikan kami anugerah kedua. Ya, si jabang bayi yang sudah empat bulan dikandung Tati. Rupanya Tuhan masih mempercayai kami menjadi orag tua. Tati begitu sabar menghadapiku. Hidup kami yang tidak terlalu mujur ini membuatku harus pontang-panting ke sana kemari mencari uang untuk makan dan sekadar menabung, menyiapkan masa depan. Tapi, Tati masih setia. Tak sepatah kata pun dia mengeluh. Justru iringan doanya selalu kudengar setiap pagi, kala aku berangkat mencari nafkah.

Semangat ya Pak, semoga hari ini kita dapat rezeki lebih buat si jabang bayi dan Riyan,” katanya. Kata-kata itu bagiku bukan hanya cara dia menghargai perjuangan seorang suami, tapi juga menjadi penyemangat.

Dan hari-hari kami hampir selalu seperti itu. Pernah suatu ketika aku pergi pagi hingga pulang pada sore hari, menjelang Maghrib, tak sepeser pun aku dapatkan uang. Waktu itu aku ragu untuk pulang. Malu rasanya tak bisa membawa apa-apa ke rumah, sementara mereka pasti berharap aku pulang dengan membawa makanan, atau minimal uang untuk membeli sarapan esok pagi.

Ya, begitulah hidupku yang cuma punya pekerjaan sebagai tukang ojek. Sebenarnya aku punya keahlian menyervis barang-barang elektronik. Tapi aku urung menjadi tukang servis.

Lebih baik aku ngojek saja ya Mah,” aku bicara kepada istriku. “Meskipun aku punya keahlian lain, aku takut seperti yang terjadi di daerah Bekasi itu,” kataku. Istriku mendengarkan sambil memandangiku. Aku tahu dia sedang berpikir apa hendak dia katakan. Dan aku yakin yang dia katakan nanti bukanlah sebuah keluhan. Mengeluh bukanlah sifatnya. Aku tahu betul itu.

Aku percaya Pak, Allah pasti sayang dan peduli sama orang-orang yang berusaha dan tidak menyerah,” tuturnya. Dia memegang tanganku, seolah meyakinkan bahwa dia akan terus bersamaku apa pun yang terjadi. “Rezeki kita sudah diatur, kita tidak jadi orang kaya mungkin karena kita belum cukup amanah untuk memegang banyak harta,” katanya.

Dia pun meyakinkanku bahwa setiap usaha pada akhirnya akan mendapat balasan yang setimpal. Tidak ada usaha yang sia-sia, balasan yang tidak didapat di dunia akan didapat di akhirat. Itu kata-katanya yang membuatku tak pernah berhenti berjuang. Aku pun megusap perut buncitnya sambil berbisik.

Bismillah, ya Nak. Kamu baik-baik di sana, bapak ibu sedang berjuang untukmu” bisikku disambut senyum sang istri.

***

Kemarin ketika kejadian nahas itu terjadi, kebetulan aku sedang berada di sekitar kejadian. Ya, ada peumpang yang kebetulan minta diantar ke daerah Bekasi. Kala itu, aku melihat kerumunan warga. Aku tak tahu apa sebab musababnya. Dengar-dengar, katanya dia itu maling ampli di mushola. Kira-kira selesai shalat Ashar, dia keluar membawa kresek hitam berisi ampli.

Seorang warga yang melihat itu tanpa pikir panjang berteriak, “Maliiiiing…” sontak, dia panik dan mencoba menghindar dari warga. Dia pun berlari. Larinya terengah. Napasnya senin-kamis. Motornya dia tinggal begitu saja di pelataran mushola.

Cerita itu pun berakhir saat dia tertangkap. Menyerah tak berdaya. Dipukuli, dihakimi, dihantam balok, dipukul batu, ditendang, dia telah hilang. Bahkan ketika nyawanya meregang, seorang warga dating membawa sebotol bensin dan sejentik api yang membuatnya hangus. Hangus bersama ketidakpastian, apakah dia maling atau hamba Tuhan yang baru saja selesai berdoa untuk anak istri, bahkan mungkin untuk warga sekitar mushola itu.

Aku tak habis pikir. Entah, adakah manusia di sana pada waktu itu. Mendengarnya saja aku takut, mengerikan. Aku pikir warga pada saat itu hendak memberikan hukum jera kepada orang yang belum tentu salahnya. Tapi dia kadung diteriaki maling.

Main hakim sendiri sudah seperti budaya warga sini Mas,” kata seorang warga yang bercerita. Aku lupa bertanya siapa namanya.

Entah dari mana mereka mendapat hukum ‘bakar hidup-hidup’ itu. Seandai pun dia adalah maling, apa pantas dibakar? Pikiranku terus bertanya-tanya.

***

Aku hanya mengelus dada melihat perilaku manusia yang tidak manusiawi itu. Dan mirisnya itu terjadi di sini. Di negara kita. Negara hukum. Harusnya, main hakim sendiri sudah bukan zamannya. Ah, tapi paham apa aku soal hukum.

Sewaktu Maghrib aku hendak pulang, aku mampir di sebuah mushala. Bersyukur, masih sempat aku shalat berjamaah. Di mushola itu kebetulan ada pengajian selepas Maghrib. Aku mengikutinya hingga menjelang Isya. Setelah shalat Isya berjamaah aku pun berniat pulang. Kebetulan aku bawa ampli punya si Dodi. “Tolong benerin ya, Kang,” katanya tadi sewaktu memberikan ampli itu.

Setelah aku menyalakan motor, aku tak tahu lagi apa yang terjadi. Aku cuma bisa mengira warga yang kemarin kini berkerumun lagi. Dan sayup-sayup terdengar suara teriakan, “Maliiiing…”. TAMAT.

 

  • view 173