MUKA KEBERAGAMAN

Ahmad Sholeh
Karya Ahmad Sholeh Kategori Project
dipublikasikan 07 November 2017
Tunggu, Aku Datang

Tunggu, Aku Datang


Kumpulan cerpen

Kategori Fiksi Umum

1.2 K Hak Cipta Terlindungi
MUKA KEBERAGAMAN

 

:Ahmad Sholeh

"Kini, banyak harapan yang diterbangkan ke Langit. Berharap merdeka itu benar-benar hadir dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Merdeka dari kemiskinan, merdeka dari kebodohan, merdeka 100 persen," kata Ali mengakhiri pidatonya pada lomba kemerdekaan, disambut riuh tepuk tangan dan wajah haru dewan juri dan para santri Ponpes Miftahul Jannah, Depok.

 

Keren Li, aku ngefans lah sama kamu!” kata Paijo, teman sekobong1 Ali, saat menyambut Ali turun dari mimbar.

Biasa saja Jo, doakan semoga menang. Nanti kita makan-makan,” timpal Ali yang gagah mengenakan jas cokelat dan kopiah hitam. Paijo pun mengangguk tanda setuju. “Li, ada orang tuamu, tadi baru datang pas kamu naik mimbar,” katanya. Ali pun sibuk menegok ke sana kemari, mencari orang tuanya yang ternyata sedari tadi duduk di dekat Ustaz Hanafi, pendamping kobong sekaligus guru mengajinya.

Rupanya orang tua Ali sudah mendapat cerita dari Ustaz Hanafi tentang Ali yang memiliki rasa ingin tahu tinggi dan nalar yang kritis. “Ali juga suka sekali ke perpustakaan Pak, Bu. Yah, untuk anak seusia dia di zaman sekarang ini hal itu sangat bagus,” kata Ustaz Hanafi kepada kedua orang tua Ali.

Obrolan mereka pun terus berlanjut sambil sesekali ditimpali bapak Ali. “Sejak kecil memang dia seperti itu Ustaz. Kadang buku bacaan saya malah dia yang khatamkan. Setelah itu banyak pertanyaan muncul,” ujarnya sambil menoleh kepada ibu Ali seolah meminta dukungan atas pernyataannya.

Sepekan sebelum lomba pidato itu digelar, Ali dan dua temannya, Paijo dan Ridwan, merantau ke permukiman di daerah Jakarta Utara. Kegiatan itu memang dirancang pondok pesantren untuk memberikan pengalaman hidup bermasyarakat kepada santri-santrinya. Di sana, Ali dan dua temannya singgah di sebuah mushala di tengah permukiman. Sebenarnya bisa saja mereka tinggal di kantor lurah atau camat, tapi mereka lebih memilih berada di mushala kecil bernama mushala Al-Istiqomah, tak jauh dari kantor kecamatan.

Tidak apa-apa Pak, kami di sini saja, kebetulan tadi sudah bertemu juga dengan marbotnya sewaktu shalat Zuhur,” kata Ali saat melapor kepada Pak Lurah.

Pak Lurah pun mengabulkan. “Tapi kalian harus jaga kebersamaan dengan warga, jaga prilaku,” pesannya. Masyarakat di sana sebagian besar memang perantau. Tak aneh jika beragam suku pun bisa berbaur dengan guyub. Meskipun sesekali terjadi konflik, semua bisa diselesaikan dengan musyawarah. Tidak ada yang merasa paling benar. Di sana semua berdasarkan kebersamaan.

Di mushala itu, Ali, Paijo, dan Ridwan menggelar pengajian untuk anak-anak dan orang tua yang buta Alquran. Selama mereka di sana, pengajian itu berjalan baik, mendapat sambutan hangat dan antusias anak-anak.

Tiga hari lagi dek,” kata Paijo kepada anak-anak yang bertanya berapa lama mereka di sana.

***

Brak!!! Suara itu terdengar sangat keras dari dalam mushala. Bising suara teriakan warga pun terdengar. “Maling, maling!” teriak salah satu warga. Sontak Ali dan dua temannya keluar.

Di depan mushala itu seorang pria terlihat tersungkur. Pria itu dihantam oleh beberapa warga yang kadung emosi melihat pria itu mencuri. Sekitar tujuh orang warga mengerumuni. Disusul beberapa warga yang panasaran. Suasana yang masih pagi buta itu sontak menjadi ramai dan menegangkan.

Paijo, kamu di sini ya. Aku sama Ridwan mau melapor ke Pak Lurah. Jaga, jangan sampai warga main hakim sendiri,” kata Ali diringi anggukan Paijo yang terlihat sedang memasang wajah bingung.

Ayo Pak, Mas, kita amankan saja di pelataran mushala, teman saya sedang memanggil Pak Lurah,” ajaknya kepada warga yang sudah membekuk pria terduga maling itu. Beruntung emosi warga masih terkendali, tak terjadi yang saya khawatirkan, gumam hati Paijo.

Tak berapa lama Ali dan Ridwan datang bersama Pak Lurah. “Sekarang semuanya tenang, saya sudah panggil polisi, biar polisi nanti yang memberinya hukuman. Beberapa dari kalian harus ikut untuk jadi saksi,” ucap Pak Lurah di tengah kerumunan warga. Polisi pun datang dan langsung memborgol pria yang sudah babak belur itu.

Saya nyesal dek, anak istri saya bagaimana sekarang, saya kalap, terdesak kebutuhan, anak saya harus sekolah. Andai saja kita sudah betul-betul merdeka,” kata pria itu kepada Paijo sewaktu ditahan di pelataran mushala. Kini borgol menggelangi tangannya, penyesalan pun tak bisa dia hindari.

Keberagaman memang penting dijaga. Dan itu sudah. Tapi, keadilan sosial juga harus ditegakkan Jo, kita ini negara hukum,” kata Ali saat Paijo menceritakan apa yang diucapkan pria itu. TAMAT.

 

1 Kobong: kamar asrama pesantren.

 

 

  • view 166