TUNGGU, AKU DATANG

Ahmad Sholeh
Karya Ahmad Sholeh Kategori Project
dipublikasikan 07 November 2017
Tunggu, Aku Datang

Tunggu, Aku Datang


Kumpulan cerpen

Kategori Fiksi Umum

220 Hak Cipta Terlindungi
TUNGGU, AKU DATANG

 :Ahmad Sholeh

Brakk! Motor Supra yang dikendarai Gilang sore itu ringsek sudah. Bahkan tak bisa lagi dikendarai, mobil yang menabraknya pun kabur, ya mobil dengan pelat nomor B 7655 CA itu tak mau bertanggung jawab atas kejadian naas yang menimpa Gilang itu. Kerumunan orang begitu ramai, jalanan menjadi macet tak karuan, bunyi klakson terus mengiang-ngiang membuat suasana Kampung Melayu sore itu semakin tak karuan.

 

Sementara itu, di rumah Mira sedang sibuk-sibuknya menyiapkan segala masakan untuk menyambut kehadiran Gilang. Sore itu, Gilang memang sudah merencanakan untuk pergi ke rumah Mira – calon istrinya, untuk memenuhi undangan buka bersama orang tua Mira. Gilang memang sudah berulang kali janji kepada Mira untuk main ke rumahnya, namun selalu saja ada halangan baginya untuk menunaikan janjinya itu. Gilang merasa sangat berhutang pada Mira, Mira selalu menyempatkan dirinya untuk berkunjung ke rumahnya, orang tuanya pun sudah sangat dekat dengan Mira. Mira memang gadis baik, aku beruntung pernah mengenalnya, gumam hati Gilang sebelum berangkat ke rumah Mira sore itu.

Hari itu hari ke 20 bulan Ramadhan, begitu besar ekspektasi di tahun ini. Beberapa harapan yang Gilang targetkan telah tercapai, termasuk mengumpulkan biaya untuk melamar Mira. Setelah lama ia berkenalan dengan Mira, kurang lebih dua tahun lamanya, akhirnya niat baik Gilang bisa tertunaikan dengan tabungan gaji hasil kerjanya di kantor penerbitan majalah lokal di sekitar Matraman. Cukup lama ia bekerja di sana, mulai dari wartawan, asisten editor dan saat ini posisinya semakin meningkat, menjadi editor kolom feature dan serba-serbi.

Gilang bangkit, setelah kurang lebih lima belas menit ia tersungkur di tepi jalan. Ia kaget melihat puluhan pasang mata memandangi dirinya. Astaghfirullah, kenapa aku seceroboh ini, gumamnya dalam hati. Gilang berdiri, ia melihat motornya sudah tak jelas rupa, beberapa Polantas mengatur jalanan yang semakin tak karuan, dan beberapa lagi mencoba membubarkan massa yang ramai memadati jalan. Gilang berdiri, merasakan tubuhnya, ia tak merasakan ada luka yang parah, hanya sedikit nyeri di pergelangan tangan dan agak pusing karena ia lupa memasang pengikat dagu pada helmnya. Ia tak pedulikan motornya yang sudah rusak itu, helmnya pun entah kemana, ia hanya meraih tas selempang yang ia bawa, karena di dalamnya ada kain batik yang ia beli khusus untuk Mira dan ibunya ketika melakukan kunjungan ke penerbit majalah di daerah Jawa Timur.

Lega, untung tas ini tak kemana-mana, ujarnya dalam hati. Gilang meraih tas yang baginya sangat berharga itu tak jauh dari tempatnya terbaring tadi. Ia pun segera bergegas, tak lagi mempedulikan orang-orang yang perlahan meninggalkan tempat kejadian itu, ia segera mencari angkutan umum berharap masih sempat untuk buka bersama orang tua Mira melihat senja yang semakin memerah.

Hari itu memang motor Supra milik Gilang terasa kurang enak dikendarai, maka dari itu ia pergi ke bengkel AHASS di daerah Jatinegara, kebetulan motornya masih baru dan masih memiliki masa servis gratis. Gilang sengaja pulang lebih cepat tak seperti, mengingat jalanan yang semakin macet dan padat, ditambah angkot yang berhenti di sembarang tempat, ia pikir dengan berangkat lebih awal akan menghemat waktunya, karena ia harus menyervis motornya terlebih dulu, biarpun harus mengorbankan waktu kerjanya.

***

Pukul 05.58 adalah waktu adzan magrib untuk hari ini, sesuai dengan jadwal imsakiyah yang diumumkan MUI. Masih ada waktu sekitar 25 menit lagi, aku takkan terlambat, katanya dalam hati. Gilang melihat jam tangannya yang masih menunjukkan pukul setengah enam sore. Dan kini ia berada di angkot jurusan Kampung Melayu–Gandaria, jalanan sore itu tak begitu macet parah, hanya angkot saja yang berjalan lambat karena sepi penumpang, dan harus berhenti agak lama di setiap perempatan. Gilang ingin menghubungi Mira, untuk memberitahunya bahwa ia sebentar lagi akan sampai, tapi saat ia merogoh kantong jaketnya, tak didapatinya ponsel jadulnya itu, mungkin terjatuh ketika aku kecelakaan tadi atau ada yang diam-diam menguntitnya, hatinya menggerutu agak kesal. Tak ada yang lain di otaknya, selain cepat sampai ke rumah Mira dan segera bertemu dengan orang tua Mira.

Waktu semakin terasa begitu cepat, angkot biru telur asin itu pun semakin terasa melambat, semakin tak sabar Gilang menemui Mira, seperti ada yang sangat ingin disampaikannya. Di tengah perjalanan supir angkot menyetel lagu-lagu Meggy Z dan Irfan Mansyur yang mungkin agak sedikit kampungan dan kuno bagi orang-orang modern zaman sekarang, tapi bagi Gilang lagu dangdut lawas itu cukup menenangkan hatinya. Karena baginya lagu-lagu dangdut zaman dulu, jauh lebih bermaratabat dari pada lagu dangdut zaman sekarang yang hanya pamer keseksian tubuh penyanyinya saja.

Dua lagu sudah habis diputar, sekarang masuk lagu ketiga. Gilang semakin lega, karena masih banyak waktu, dan jarak tempuhnya pun semakin dekat. Gilang terus menatapi jam di pergelangan tangannya, sesekali ia menatap ke luar jendela angkot, dilihatnya langit semakin gelap. Tandanya sebentar lagi adzan maghrib berkumandang.

***

Sementara itu, di rumah Mira pun sudah tidak sabar menanti kehadiran Gilang. Masakan sudah tersaji di meja makan keluarga, dari es buah, kolak, sampai pepes ikan mas semuanya sudah tersedia. Mira pun berdandan cantik-cantik, karena pujaan hatinya segera kan datang, dan mungkin akan melamarnya. Sabar, Mira, kekasihmu pasti akan datang, gumam hatinya yang senang tak karuan.

Mira, Gilang sudah sampai mana, dia belum mengabarimu juga tho Ndok?” tanya ibunya yang agak medok jawanya itu.

Belum bu, nomornya di luar jangkauan, mungkin ponselnya lowbatt, kan dia keluar kantor sejak siang tadi.” jawab Mira sambil bersolek di depan kaca rias di kamarnya. Kemudian ia, melihat foto Gilang yang ia pajang di depan meja rias itu, foto yang diambil ketika Ramadhan tahun lalu, ketika ia dan Gilang jalan-jalan ke masjid At-Taawuun, Cisarua-Bogor. Dipandangnya dalam-dalam foto itu, wajah yang selalu membuatnya merasa lebih baik setiap harinya, yang membuatnya selalu berusaha tersenyum sepahit apapun masalah yang dialaminya.

Tak selang berapa lama, telepon rumah Mira berdering. Ia sangat berharap itu dari Gilang. Mira segera bergegas mengangkat teleponnya yang berdering itu. Ternyata setelah diangkat yang terdengar adalah suara Dina – adik Gilang. Suara Dina sesenggukan, sesekali artikulasinya tak begitu jelas, seperti ada yang membuatnya menahan tangis. Mira hanya diam tak bisa berkata apa-apa. Lalu ia berteriak, “Ibuuuuu !!!”

***

Gilang keluar dari angkot, ia meregangkan otot-ototnya yang sejak tadi seperti terjebak dalam peti yang sempit. Ketika ia ingin membayar ongkos, angkotnya ngeloyor begitu saja, ya sudahlah kalau tak mau !, pikirnya. Yang penting aku sampai dengan selamat, ujarnya dalam hati.

Ia melangkah menuju rumah Mira. Lima menit lagi adzan maghrib berkumandang, ia percepat langkahnya, sambil melihat lagi isi tas selempangnya itu, masih lengkap, katanya. Sampai di depan rumah Mira, ia agak sedikit kaget karena melihat keluarga Mira begitu banyak, aku tak menyangka Mira mengundang saudaranya juga, gumamnya. Sesampainya di depan pintu, ia mengucapkan salam, namun tak ada yang menjawab, hanya terdengar sayup suara isak-tangis Mira. Ada apa ini, hatinya semakin bertanya-tanya. Ada apa ini, Mira? Pertanyaannya tak urung juga dijawab. Ia melihat Mira menangis, sangat sedih. Namun apa yang ia tanyakan tak ada yang menjawab.

Sudah Mira, kita harus ikhlaskan dia Ndok,” kata ibunya coba menenangkan Mira, yang sedari tadi sesenggukan. Mira tak menjawab, hanya air mata yang menjadi jawaban kejadian pilu yang dialaminya itu.

Dina bilang, dia sudah pergi bu, sudah pergi, kenapa dia pergi bu,” suara Mira yang sudah tak kuat untuk bicara.

Sudah, Ndok, sudah, ini sudah jadi ketentuan-Nya, kita Cuma perlu ikhlas,”

Tak lama setelah mendengar percakapan itu, Gilang semakin bertanya-tanya, apa gerangan yang terjadi, kenapa Mira sesedih itu, kenapa. Lalu sesaat ingatan Gilang kembali pada kejadian tadi sore, saat ia terbangun dari kecelakaan itu. Ia melihat kerumunan orang yang mulai bubar itu menggotong satu orang, yang tak begitu jelas. Gilang tak menghiarukan itu, karena ia sudah sangat terburu-buru untuk menemui Mira.

Apakah tubuh yang digotong itu aku? berarti aku.. ah tidak mungkin, buktinya aku sampai di sini dengan selamat, walau motorku sudah rusak berat, kebingungan terus melanda hatinya. Lalu ia pergi ke teras rumah Mira, ia terduduk dan merenung, mengingat-ingat lagi kejadian sore tadi.

Seingatku, tadi aku berangkat dari kantor sekitar pukul dua siang. Aku memang agak tergesa-gesa, karena hari ini bagiku sangat berharga. Aku pakai helmku, dan mulai menancap gas, ke bengkel AHASS di Jatinegara, di sana cukup lama, karena antrean panjang yang menyervis motor di sana. Karena sudah terlalu sore, aku hanya sempat menyervis mesin, saat mekanik tanya apa remnya harus diservis juga, aku bilang tak usah, waktuku tak cukup kalau harus menunggu ban belakangku dibongkar lagi untuk servis rem. Motorku memang sudah agak blong remnya, tapi aku pikir itu tak masalah. Lalu setelah itu aku berangkat, masih tergesa-gesa karena aku yakin Mira dan keluarganya sudah menunggu kehadiranku, dan aku tak mau mereka lama menunggu. Ku pakai helmku dan mulai tancap gas lagi, melewati jalanan yang mulai padat. Karena terburu-buru aku lupa memasang pengikat dagu helmku. Sungguh, saat itu waktu bagiku sangatlah berharga.

Tak lama setelah ia merenung dan tertunduk, ia melihat cahaya yang sangat terang, ia mengangkat kepalanya, cahaya itu sangat menyilaukan mata. Gilang tak bisa melihat apa-apa, peglihatannya dipenuhi oleh cahaya yang sangat terang itu. TAMAT.

 

  • view 29