Pengalaman Menulis Buitenzorg

Ahmad Sholeh
Karya Ahmad Sholeh Kategori Inspiratif
dipublikasikan 07 November 2017
Pengalaman Menulis Buitenzorg

:Ahmad Sholeh

 

Tampias

 

Ia dan gigil begitu lekat

bahkan di langit kini pekat

secangkir kopi yang kian menghangat

di sini dia hidangkan lagi serumpun kenangan

yang kini bergeming di kening

aku kira ini hujan di Kota Hujan

ternyata ini cuma tampias kerinduan

yang tumpah di kota penuh kenangan

 

Mei 2017

 

Puisi di atas adalah puisi yang saya kirimkan kepada panitia sayembara puisi Kota Bogor dalam rangka HUT Kota Bogor bulan Mei lalu. Menurut panitia dalam syarat puisinya yaitu karya harus menggambarkan sesuatu hal yang berkaitan dengan Kota Bogor, entah itu orangnya, daerahnya, lingkungannya, atau kenangan kita ketika berada atau singgah di Kota Bogor. Begitu luas dan bebas, yang penting semua tentang Kota Bogor.

Sayembara ini bukanlah lomba, karena setiap penulis mengirim karyanya secara sukarela. Tidak bayar, tidak pula dibayar. Meski begitu ada tahap yang mesti dilalui agar karya yang dikirimkan itu bisa terpilih dan diterbitkan dalam sebuah buku antologi. Akhirnya, saya kirimkan dua buah karya yang saya buat seketika itu juga. Tidak sampai 30 menit setelah saya membaca info sayembara itu saya kirimkan puisi saya via surel.

Saya membuat dua puisi. Salah satunya yang saya tampilkan di atas. Puisi pendek dengan pilihan kata yang sederhana. Tapi apa maksud puisi itu, saya serahkan kepada pebaca untuk menafsirkannya. Yang jelas ketika membuatnya saya hanya membayangkan Kota Bogor itu sebagai tempat yang enak untuk ngopi-ngopi kemudian ada sajian rebusan umbi-umbian yang hangat dan gemericik hujan. Sekiranya itu mungkin terlalu sempit untuk menggambarkan keindahan Kota Bogor, tapi itulah yang dapat saya rasakan dan tuangkan dalam kata-kata setelah beberapa kali pernah menyambangi Kota Hujan itu.

Sedangkan puisi yang satu lagi tidak lolos dari penyaringan tim penyusun. Saya memberinya tajuk “Bogor yang Khas”. Lebih jelasnya berikut saya lampirkan:

 

Bogor yang Khas

 

Bogor begitu dekat dengan Ibu Kota

masyarakatnya banyak yang hijrah

dan mengais rezeki di sana

tapi tak jarang kerinduan kembali berlabuh

di Kota Hujan nan teduh

 

temanku ada yang asli dari Bogor

katanya biar merantau, jadi apa pun asal kasohor

rupanya seperti umbi dan talas yang khas

tumbuh dan besar di Kota Hujan

jadi buah tangan dan hidangan pilihan

 

Bogor masih bagian Jawa Barat

persaudaraan masih begitu erat

di manapun berjumpa serasa saudara

da atuh urang mah asli ti Sunda

 

Mei 2017

 

Di puisi kedua ini saya mencoba mengeksplorasi penggunaan diksi. Saya mencoba menyelipkan bahasa Sunda di dalamnya. Bahkan di kalimat terakhir saya gunakan bahasa Sunda “da atuh urang mah asli ti Sunda” sebagai penutup. Saya tidak tahu apakah karena bahasa saya yang campuran ini yang membuatnya tidak lolos. Atau memang karena bahasanya kurang puitis, pesannya terlalu dangkal, atau alasan yang lainnya. Atua mungkin juga interpretasi yang salah dari jargon Bogor Kasohor yang saya coba tampilkan dalam puisi ini.

Ya, tulisan ini bukan untuk membela diri. Memang puisi ini saya refleksikan dari seorang teman dan pengalaman saya setiap bertemu dengan orang pelat F –atau bahkan Jawa Barat- di manapun. Intinya, ikatan kesukuan –yaitu Sunda- kerap menjadi alasan mendasar seseorang menjadi ramah, baik, seperti saudara sendiri.

Terlepas dari diterima atau tidaknya karya saya dalam buku antologi tentu saja yang terpenting adalah melihat antusiasme berkarya untuk Kota Bogor yang perlu diapresiasi. Karena ternyata buku antologi yang diberi tajuk “Buitenzorg” itu memuat karya-karya bukan dari sembarangan orang. Mayoritas di antaranya adalah sastrawan atau penyair nasional yang sudah berkiprah di berbagai tempat. Itulah hal yang mejadi suatu kebanggan tersendiri bagi saya. Ketika karya saya bisa masuk dan terselip di antara penyair-penyair nusantara itu.

Biarpun mungkin puisi saya itu terasa kurang bagus jika dibandingkan dengan puluha karya lain di dalam buku antologi itu. Jelas saja, puisi lainnya begitu menarik dan mengambil tema yang kuat. Seperti sejarah Kota Bogor, legenda, makanan khas, lokasi-lokasi yang memiliki kenangan tersendiri bagi si penulis, dan ihwal lainnya.

Misalnya puisi berikut ini yang berisi cerita legenda tanah Sunda berikut ini:

Aku membaca waktu setelah bertahta.

Kuberikan pada putra Sunda:

Prabu Surawisesa sebagai Ratu Sangiang.

Tahta menuju Ratu Dewata dan Ratu Sakti.

Jejak langkah menuju Nilakendra Tohaan di Majaya.

Maka gurat urat menutup tali asih, tali asah dan tali asuh.

Ragamulya Suryakancana menutup riwayat

menuju Niskala Sakabuana.

(Ace Sumanta – Surat untuk Sri Baduga Maharaja)

 

Atau puisi karya Edrida Pulungan berikut ini yang melakukan eksplorasi degan selipan sebait bahasa asing:

Di Buitenzorg ini

Kelak tugasku selesai kita akan pulang

Buitenzorg, tempat peringgahan cinta kita

Kukabarkan cintaku melalui angin

Hingga sejuknya dirasakan semua orang yang hadir

di sekitar kita

ketika ingatanku utuh ataupun runtuh

atau hanya dalam penggalan-penggalan rindu

maka monument ini akan menyakralkan cintaku

 

oh thou whom neer my constant heart;

one moment hath forgot;

tho fate hath bid us past;

yet stil –forget me not

(Edrida Pulungan – Buitenzorg, Raffles dan Persinggahan Cinta)

 

Dan masih banyak karya lain yang menarik untuk digali. Baik dari segi bahasa maupun latar peristiwa di dalamnya.


Sedikit saya paparkan penjelasan mengapa Butenzorg dipilih menjadi judul buku antologi ini. Hal itu tidak terlepas dari sejarah Kota Bogor yang konon menjadi tempat penting dalam sejarah Indonesia. “Bogor adalah sebuah tempat yang penting dalam sejarah Indonesia. Salah satu tonggaknya adalah Istana Presiden yang dibangun pada masa pemerintaha Guberur Jenderal Baron van Imhoff (1740).” Itu disebutkan dalam pengantar buku antologi puisi ini.

Bahkan dalam pengantar itu dikatakan bahwa pada masa itu, Bogor dikenal dengan nama Buitenzorg (boit’n-sorkh’). Yang berarti tempat yang aman, nyaman, dan tenteram. Maka dari itu, karya ini menjadi kaya akan sejarah dan legenda Kota Bogor juga perasan-perasaa yang bertautan dengan Kota Hujan itu. Sehingga Buitenzorg bukan cuma menjadi antologi puisi biasa, melainkan ringkasan dari khazanah ilmu pengetahuan ihwal Kota Bogor yang dikenal kasohor.

Melalui tulisan ringkas saya ini, saya menghaturkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada panitia sayembara dan tim kurator serta penyusun. Karena dengan sayembara ini saya mendapat pengalaman baru, pengetahuan baru, sekaligus kebanggaan bisa menaruh –menyelipkan- karya di antara puluhan penyair nusantara –meskipun tidak semua saya kenali. Terima kasih karena telah mengapresiasi karya sederhana yang saya kirimkan.

Waba’du, pengalaman ini pula menjadi bekal bagi saya dan mungkin kawan-kawan yang membaca tulisan ini, untuk bisa lebih baik lagi dalam berkarya maupun mengapresiasi suatu karya. Karena berkarya adalah salah satu wujud ungkapan perasaan dan kegelisahan manusia dalam melihat berbagai fenomena di sekitarnya.

 

Puisi bisa menjadi senjata revolusi

Puisi bisa menjadi ungkapan isi hati

Puisi juga bisa menumbuhkan empati

 

  • view 155