MANUSIA TERBAIK, MANUSIA YANG BERMANFAAT

Ahmad Sholeh
Karya Ahmad Sholeh Kategori Project
dipublikasikan 06 November 2017
Renungan-Renungan Perihal Keislaman Kita

Renungan-Renungan Perihal Keislaman Kita


Project ini merupakan pengumpulan naskah-naskah yang pernah dipublikasi sejak kurun waktu 2015-2017. Sebelumnya naskah-naskah tulisan ini tersebar di blog, fcebook, dan media massa online.

Kategori Spiritual

154 Hak Cipta Terlindungi
MANUSIA TERBAIK, MANUSIA YANG BERMANFAAT

:Ahmad Sholeh

“Khairuunnas ‘anfauhum linnaass…”

Itu adalah perkataan Rasulullah SAW untuk mengategorikan mausia dengan titel ‘terbaik’. Hal ini tadi sempat disampaikan dalam khutbah shalat Jumat oleh seorang khatib. Jika kita mengambil faedah dari perkataan tersebut, ada dimensi social agama yag tersirat. Bahwa manusia atau umat terbaik adalah mereka yang bisa menghadirkan manfaat bagi sekelilingnya. Bermanfaat bagi saudara, kerabat, tetangga, maupun lingkungan atau alam di sekitarnya.

Bahkan dalam hadisnya, Rasulullah menyeru kita untuk bisa memberikan manfaat mulai dari hal-hal kecil. Semisal sedekah. Sedekah bukan hanya dimaknai dengan memberikan sebagian harta dalam bentuk uang, makanan, baju, atau benda-benda lainnya. Tapi, sedekah juga bisa kita maknai dengan hal-hal sederhana.

Misalnya menggunakan anggota tubuh untuk berbuat hal-hal kecil can bermanfaat. Semisal menyingkirkan benda-benda di jalanan, seperti batu, paku, kelereng, atau benda berpotensi berbahaya lainnya. Atau memungut sampai yang berserakan, memetik daun yang sudah kering dari pohonnya, dan masih banyak lagi. Tapi hal itu tentu tidak mudah. Kecuali kita terbiasa melakukannya untuk dalam kehidupan kita sehari-hari.

Yang perlu kita ingat dalam meraih kebermanfaatan itu yang pertama adalah orientasi atau niat. Tujuan melakukan sesuatu itu harus tulus, ikhlas, dan tidak menunjukkan sikap pamer, ingin dilihat, ingin dipuji dan lain sebagainya. Alih-alih menjadi manusia bermanfaat, kita justru malah manjadi riya' karena sifat ingin pamer tadi.

Lantas bagaimanakah meneguhkan niat dalam diri kita untuk melakukan sesuatu dengan ikhlas tanpa berharap balas jasa? Terkadang kita berbuat baik memang agar orang lain juga berbuat baik terhadap kita. Misalnya kita menghargai orang agar orang itu bisa menghargai kita. Hal itu tidak sepenuhnya salah. Kenapa? Karena sudah menjadi sifat dasar manusia sebagai mahkluk sosial untuk ingin menghargai dan dihargai. Ingin dimanusiakan dan ingin memanusiakan. Dan seterusnya.

Namun, dalam konsep ikhlas, kita harus menyerahkan segala sesuatu hanya kepada Pencipta. Ya, hanya mengharap ridhanya, titik. Ketika kita berharap ridha dari sang pencipta, percayalah segala sesuatu itu akan dating kepada kita. Siapa menanam dialah yang mengetam. Menanam kebaikan sebesar biji zarrah (QS Az-Zalzalah: 7-8), akan menuai kebaikan pula, lebih banyak dari itu. Bahkan Sang Pencipta pun menjanjikan balasan yang besar untuk perbuatan baik kita. Baru dalam pikiran saja, misalnya baru berniat akan membantu orang lain, jika itu tulus ikhlas, maka akan dicatat sebagai satu kebaikan. Apalagi benar-benar bisa membantu orang lain.

Mengenai keikhlasan, ada pula yang mengatakan bahwa janganlah kita berharap aka mendapat sesuatu, berharaplah ridha Allah saja. Dan apabila kita mendapat sesuatu itu anggap saja bonus dari Allah. Misalnya seorang guru yag setiap hari mengajar, meskipun gajinya tak seberapa besarnya setiap hari seorang guru harus rela meghabiskan waktu hamper seharian di sekolah. Bayangkan saja, jika hanya karena berharap pada gaji atau uang yang akan didapat, itu sungguh sia-sia.

Mengapa saya katakan sia-sia. Sekolah itu ladangya pahala, ladangnya dakwah, ladangya menanam manfaat dan kebaikan. Dan apabila kita percaya pada kekuasaan-Nya kita tidak perlu khawatir dengan gaji atau rezeki yang sudah Dia atur. Kita wajib berusaha, hasilnya Allah yang akan mengganjar kita sesuai dengan seberapa besar usaha kita. Dan ikhlas itu harus kita lakukan saat mengerjakan pekerjaan itu juga saat menerima hasil dari pekerjaan itu.

Contoh lainnya bisa kita amati dari kebermanfaatan seorang tokoh publik. Misalnya ustaz yang memiliki banyak penggemar atau jamaah. Suatu saat dapat kita lihat seberapa kebermanfaatannya dengan seberapa banyak yang mendoakannya. Dan yang baru-baru ini adalah berita meninggalnya Dr OZ atau dokter Riyan Thamrin, dokter muda yang mengampu program televisi Dr OZ. Ketika ada kabar tersiar bahwa dia telah tutup usia di usia yang masih muda, yakni 39 tahu, lantunan doa mengalir di berbagai media social, di Twitter, Facebook, Instagram, dan lainnya. Fenomena ini memang tidak bisa dijadikan acuan tunggal, tapi setidaknya menjadi parameter sederhana untuk melihat seberapa bermanfaat kita bagi orang lain. Tentunya dengan apa yang kita punyai.

Setiap yang kita pikirkan, ucapkan, dan lakukan haruslah memiliki orientasi terhadap keikhlasan. Dengan berharap hanya kepada Allah SWT. Dengan begitu, kita bisa menjadi manusia yang terbaik. Manusia yang selalu berusaha menebar manfaat kepada makhluk lain di sekelilingnya.Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (QS Al Bayinah : 7). Wallau alam.

  • view 31