PARADIGMA ISLAM KENABIAN

Ahmad Sholeh
Karya Ahmad Sholeh Kategori Project
dipublikasikan 06 November 2017
Renungan-Renungan Perihal Keislaman Kita

Renungan-Renungan Perihal Keislaman Kita


Project ini merupakan pengumpulan naskah-naskah yang pernah dipublikasi sejak kurun waktu 2015-2017. Sebelumnya naskah-naskah tulisan ini tersebar di blog, fcebook, dan media massa online.

Kategori Spiritual

156 Hak Cipta Terlindungi
PARADIGMA ISLAM KENABIAN

: Ahmad Sholeh

Fenomena keislaman memang selalu menarik untuk menjadi bahan diskusi –atau setidaknya obrolan. Tak hanya mengenai konsepsi Islam dalam lingkup tauhid dan keimanan. Melainkan juga perihal Islam dalam sudut pandang ilmu, baik di lingkup sosial, politik, maupun budaya. Dalam kajian pekanan Ulul al-Bab Institute (kelompok kajian berbasis kontrakan), Senin (29/11), membahas mengenai “Paradigma Profetik Islam Pengantar ke Pemikiran Profetik Kuntowijoyo”. Diskusi ini setidaknya mencoba mengenal pemikiran Kuntowijoyo tentang Islam.

Istilah kenabian atau profetik dalam ilmu sosial pertama dicetuskan oleh Kuntowijoyo; sastrawan, sejarawan, juga cendekiawan Muslim. Sekitar tahun 90-an percik-percik ilmu sosial profetik telah dia tuangkan dalam buku Paradigma Islam; Interpretasi untuk Aksi yang diterbitkan Mizan. Lalu pada tahun 2000-an Kuntowijoyo dengan tegas menyebut dan menjabarkan gagasannya ihwal ilmu sosial profetik yang kemudian disingkat ISP. Itu terdapat dalam buku bertajuk Islam Sebagai Ilmu; Epistemologi, Metodologi, dan Etika terbitan Tiara Wacana.

Dari karyanya tersebut setidaknya ada beberapa hal yang bisa membawa kita memahami intisari pemikiran dan gagasan Kuntowijoyo untuk dunia keislaman dan ilmu sosial secara umum.

Defisi dan Paradigma Profetik

Kkata profetik secara harfiah berasal dari bahasa Inggris prophet yang berarti nabi, dan prophetic yang berarti kenabian. Dalam beberapa literatur dijelaskan pula definisi profetik yaitu tugas atau peran kenabian, memiliki sifat seperti nabi, dan mencontoh nabi (Ahimsa, 2015). Sedangkan Roqib dalam bukunya Prophetic Education menyebutkan adanya perbedaan antara nabi dan rasul. Menurut dia, peran nabi sebenarnya tak sama dengan rasul yang diberi wahyu dan dituntut untuk menyampaikan ajarannya kepada umat manusia (Roqib, 2011). Menurut Roqib, nabi hanya menerima ajaran dan mengamalkannya, tidak menyebarkan kepada umatnya selayaknya seorang rasul.

Meskipun begitu, tugas nabi juga tak kalah berat dari rasul. Nabi pun bertanggung jawab terhadap umat. Bentuk tanggung jawab tersebut yakni dengan mengamalkan nilai-nilai agama atau wahyu yang diturunkan Tuhan kepadanya. Hilmy (2008) menyebutkan bahwa nabi memiliki tanggung jawab sosial. Tanggung jawab sosial tersebut yang menuntut kita untuk membawa perubahan sosial. Hal itu pun mencakup berbagai aspek kehidupan. Maka, seorang nabi mengemban dua tanggung jawab, yaitu membawa misi menghadirkan Tuhan di tengah-tengah ruang publik.

Akar Pemikiran ISP

Kemunculan gagasan ISP berawal dari adanya perdebatan antara kelompok Islam konservatif dengan Islam transformatif. Kelompok konservatif cenderung memaknai wahyu secara letterlijk (tekstual), dari konteks ke teks. Artinya, setiap peristiwa ataupun fenomena yang terjadi disesuaikan dengan teks-teks wahyu. Kelompok ini kerap dianggap kolot, sukar menerima kemajuan dan perbedaan.

Sementara kelompok transformatif, sebaliknya, yaitu mencoba menerjemahkan wahyu ke dalam konteks-konteks realitas, dari teks ke konteks. Menjadikan teks-teks wahyu sebagai landasan untuk mencapai perubahan sosial dan penyemai kesadaran. Kelompok konservatif bersifat lebih lentur, tidak kaku, progresif melakukan perubahan, dan berpikir maju.

Selain perdebatan kedua kelompok tersebut, pada 2000-an, ada Kongres Psikologi Islam di Solo. Saat itu, muncul istilah Islamisasi pengetahuan yang kemudian membuat Kuntowijoyo merasa tidak sreg dengan istilah itu. Kemudian Kuntowijoyo menawarkan konsep Pengilmuan Islam, yang lebih berorientasi keilmuan. Menurut dia, hal itu merupakan upaya mendorong umat Islam untuk bergerak lebih maju, dari reaktif ke proaktif. Kemudian Kuntowijoyo menerbitkan bukunya yang diberi judul Islam sebagai Ilmu; Epistemologi, Metodologi, dan Etika.

Menurut dia, upaya pengembangan paradigma Islam ini adalah dasar untuk mencapai tujuan utamanya. Yakni, ke arah pembangunan Islam sebagai sistem, gerakan sosial-budaya ke sistem Islam yang kafah, modern, dan berkeadaban (Ahimsa, 2016). Menurut Kuntowijoyo, hal itu bisa menjadikan Islam lebih kredibel bagi Muslim, bahkan non-Muslim. Upaya pengembangan Islam sebagai ilmu juga merupakan antitesis terhadap ilmu pengetahuan yang selama ini lebih berkiblat kepada khazanah Barat.

Selain latar lokal tersebut, pemikiran Kuntowijoyo juga dipengaruhi dan terinspirasi oleh dua tokoh cendekiawan Muslim. Di antaranya, Muhammad Iqbal seorang filsuf yang juga penyair asal India, dan Roger Garaudy filsuf Islam asal Prancis, yang mencetuskan filsafat kenabian Islam dalam kajiannya.

Kuntowijoyo terlihat sepakat dengan pemikiran Garaudy, terutama mengenai sumber ilmu pengetahuan. Menurut dia, sumber atau dasar ilmu pengetahuan bukan hanya akal, melainkan juga wahyu. Bahkan Kuntowijoyo mengatakan bahwa “wahyu” itu sangat penting, karena itulah yang membedakan epistemologi Islam dengan cabang-cabang epistemologi Barat. Bagi dia, epistemologi Barat (rasionalisme dan empirisme) tampak terlalu sederhana jika dilihat dalam perspektif Islam.

Landasan ISP

ISP secara konseptual merupakan tafsir kritis Pak Kunto terhadap surah Ali Imran ayat 110, yang artinya, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” Dalam ayat tersebut, menurut Pak Kunto, setidaknya ada empat hal yang secara mendasar merupakan konsep khairuu ummah (umat terbaik).

Empat hal yang dikatakan Pak Kunto terdapat dalam ayat tersebut, yaitu (1) konsep umat terbaik/khairuu ummah, (2) aktivisme atau keterlibatan manusia dalam sejarah, (3) pentingnya kesadaran, dan (4) etika profetik.

Umat terbaik dalam ayat tersebut, menurut dia, tidak dimaknai hanya sebagai satu kaum atau golongan pada waktu tertentu. Melainkan lebih kepada harapan dan tujuan yang bisa juga dicapai hari ini ataupun esok. Hal itu (khairuu ummah) akan tercapai hanya jika umat manusia melaksanakan tiga hal yang disebut etika profetik. Yaitu, humanisasi (ta’muruuna bil makruf), liberasi (tanhauna anil mungkar), dan transendensi (tu’minuuna bilah).

Selanjutnya, aktivisme atau keterlibatan manusia dalam roda kehidupan –sejarah. Aktivisme manusia dalam melakukan transformasi sosial dalam masyarakat merupakan hal yang penting. Sebab, dalam pandangan Pak Kunto, manusia harus terlibat aktif dalam perubahan, bukan hanya mengamati dan memahami gejala-gejala sosial. Hal ini pula berkaitan dengan pentingnya kesadaran (consciousness) individu terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan. Bahwa setiap perbuatan atau perilaku tak terlepas dari kesadaran kemanusiaan dan ketuhanan.

Keempat etika itulah yang menjadi ciri umat terbaik –masyarakat madani. Akhir kalam, untuk mencapai cita-cita umat terbaik itu, proses keterlibatan manusia dalam masyarakat harus dilakukan sebagai proses ibadah yang dilandasi dan ditujukan hanya kepada Sang Pencipta –Allah Ta’ala. Wallahu a’lam.[]

 

  • view 24