GOOGELING KAWULA GUSTI

Ahmad Sholeh
Karya Ahmad Sholeh Kategori Project
dipublikasikan 06 November 2017
Renungan-Renungan Perihal Keislaman Kita

Renungan-Renungan Perihal Keislaman Kita


Project ini merupakan pengumpulan naskah-naskah yang pernah dipublikasi sejak kurun waktu 2015-2017. Sebelumnya naskah-naskah tulisan ini tersebar di blog, fcebook, dan media massa online.

Kategori Spiritual

155 Hak Cipta Terlindungi
GOOGELING KAWULA GUSTI

:Ahmad Sholeh

Dalam tulisan ini, saya masih akan membahas soal Kang Muslimin dalam buku Saleh Ritual Saleh Sosial karya Gus Mus. Tapi, mungkin kali ini lebih santai, bisa sambil ngopi dan nonton berita. (Dan sepertinya tulisan ini tak nyambung dengan tulisan sebelumnya, tak apa lah).

Tadi saya sempat membaca salah satu statement Gus Mus dalam tasyakuran khataman Kitab Tafsir Al-Ibriz karangan KH Bisri Mustofa di halaman Pondok Pesantren Al-Itqon, Bugen, Tlogosari, Semarang. Gus Mus mengatakan, “Sekarang banyak orang yang belajar Alquran tidak kepada guru atau kiai. Mereka bertanya kepada ‘Mbah Google’ atau media sosial (medsos)…” Wah, ini menarik! Bagaimana caranya mengaji dengan Mbah Google? Apa Mbah Google pernah berguru di pesantren? Tentu tidak!

Mbah Google atau mesin pencari internet itu memang kerap dijadikan rujukan untuk mencari informasi. Apa pun bisa kita temukan di sana, yang positif, yang negatif, yang hoax, yang benar, yang ilmiah, dari yang sekadar ngawur sampai yang paling ngawur. Generasi digital dewasa ini, kerap bercengkrama dengan Mbah serbatahu itu. Untuk sekadar mencari info, iseng, mencari alamat, mengecek jadwal bioskop, atau juga untuk mencari ilmu.

Pasalnya, belajar melalui Google atau internet memang sudah menjadi kebiasaan di era serbainstan ini. Yah, bukan hanya anak-anak muda, tapi juga orang tua, bahkan mungkin ada di antara ustaz-ustaz yang mengutip hadis atau dalil yang tanpa dia baca kitabnya. Alias hanya hasil nguntit alias Googeling di internet, yakni tanya Mbah Google.

Saya senang sekali menyebutnya Googeling kawula gusti, jadi agaknya seperti gaya tarekat berbasis teknologi gitu yah (ini guyon yah) –mungkin kalau dinamani jadinya tarekat Googeliyah. Bukan bermaksud membuat istilah baru yang nyeleneh. Tapi, memang seseorang yang belajar dari internet, ya tujuan untuk belajar. Bahkan bisa jadi untuk mengenal Tuhannya, atau setidaknya untuk tahu apa-apa yang belum dia pelajari tentang agama dengan cara instan. Meskipun mungkin caranya memang kurang tepat. Atau membutuhkan filter lebih ketat, karena kita tak tahu sumber yang kita “klik” itu tepat atau tidak, terjamin atau tidak, pas atau tidak kebenarannya.

Tentu untuk belajar kita butuh guru, butuh pembimbing, butuh pengarahan. Setidaknya ada ruang berdialog dalam proses memahami sesuatu. Tidak hanya dengan mengutip dan percaya begitu saja sumber-sumber dari Mbah Google. Sebisa mungkin kita konfirmasikan dengan orang yang ahli atau banyak tahu tentang ilmu yang kita cari tersebut. jangan jadi tarekat Googeliyah.

Ah, entah ini memang merupakan dampak kemajuan teknologi yang sudah terlampau jauh atau memang kita (umat Islam) yang sudah enggan lagi berguru kepada orang yang ahli di bidangnya. Hmm, Kang Muslimin kah kita? Wallau a’lam bissawab. []

 

  • view 19