KANG MUSLIMIN KAH KITA?

KANG MUSLIMIN KAH KITA?

Ahmad Sholeh
Karya Ahmad Sholeh Kategori Project
dipublikasikan 06 November 2017
Renungan-Renungan Perihal Keislaman Kita

Renungan-Renungan Perihal Keislaman Kita


Project ini merupakan pengumpulan naskah-naskah yang pernah dipublikasi sejak kurun waktu 2015-2017. Sebelumnya naskah-naskah tulisan ini tersebar di blog, fcebook, dan media massa online.

Kategori Spiritual

1.2 K Hak Cipta Terlindungi
KANG MUSLIMIN KAH KITA?

: Ahmad Sholeh

Gus Mus atau KH Mustofa Bisri dalam bukunya yang bertajuk Saleh Ritual Saleh Sosial menceritakan satu kisah tentang Kang Muslimin dalam salah satu judul tulisannya yang dujuduli “Muslimin”.

Dalam tulisan yang mungkin bisa disebut anekdot atau mungkin cerita karangan itu, Gus Mus menggambarkan seorang lelaki bernama Muslimin yang memiliki istri yang luar biasa, cantik, dan sosok idaman semua lelaki. Atau bisa juga kita sebut dia (istrinya Kang Muslimin) itu adalah kembang kampung, yang diidam-idamkan dan digilai banyak lelaki. Maka, sangat wajar jika Kang Muslimin sangat membangga-banggakan istrinya kapan pun dan di mana pun, bahkan dia “rela mati berkeping-keping” untuk pujaan hatinya itu.

Jika ditanya soal kecemburuannya, dengan keistimewaan istrinya itu sudah pasti Kang Muslimin sangat pencemburu. Bahkan jika ada yang sekadar melihat saja kepada istrinya, katanya dia sangat ingin menendang dan menerjang orang yang memandangnya itu.

Sayangnya, Kang Muslimin tak mengenal istrinya secara mendalam, selain apa yang dia bangga-banggakan. Jadi, ia tak tahu apa yang membuat istrinya senang dan apa yang sebenarnya dimaui oleh istrinya. Semua karena ia terlalu sibuk mengagumi, menyanjung, membanggakan, dan mencemburui istrinya. Dan dia terlalu sibuk dengan pekerjaan, yang menurutnya juga demi istrinya itu, sehingga tak sempat mengobrol atau sekadar tahu apa yang diinginkan istrinya.

Dari cerita yang saya persingkat itu, apakah kita berpikir sama? Mungkin ada yang berpikir ini soal hubungan suami istri, hubungan kekasih, atau hubungan lelaki dengan perempuan. Tidak! Saya sepertinya bukan membahas soal itu.

Yang saya pikirkan adalah soal Kang Muslimin yang punya kecemburuan, punya rasa cinta yang amat besar, tapi tak mengenal yang dicintai dan dicemburuinya secara mendalam. Cerita Kang Muslimin itu seolah mengandung pesan sekaligus kritik bagi kaum Muslimin –dalam makna umat Islam. Ya, kaum Muslimin yang gemar berteriak keras-keras membela kecintaannya terhadap agama, tapi sebenarnya pemahamannya tak sebegitu dalam, tak sebegitu sangar, tak sesangar rasa cemburunya ketika agamanya disentuh (dihina, dicaci, disudutkan, dan lain-lain). Mungkin saja.

Mungkin, kali ini saya mencoba menerka, maksud Gus Mus dalam tulisan itu adalah mengkritik atau secara halusnya mengajak kita (Muslimin) bermuhasabah dan berefleksi. Bahwa tak bisa dimungkiri, kita kerap merasa jadi orang yang paling mencintai dan memiliki agama kita, padahal pemahaman kita tak sedalam itu. Kadang kita menjadikan agama sebagai tameng untuk membenarkan perilaku tak beradab. Dalihnya melakukan nahi mungkar, tapi dilakukan dengan kemungkaran. Termasuk ketika saya menulis ini, batin saya terus bergolak, “Apakah sudah benar pemahaman saya selama ini?”

Sungguh, apakah kita termasuk Kang Muslimin yang meninggikan rasa bangga terhadap agama yang kita cintai, yang memiliki api cemburu yang apabila disentuh akan membakar siapa saja yang menyentuhnya?

Ini bukan soal apakah sikap seperti itu adalah salah atau benar. Tapi ini soal kualitas Kang Muslimin, ehh kaum Muslimin, termasuk saya sendiri, masih dangkal pemahamannya soal Islam (agama). Sehingga kita tak tahu pasti, apakah sebenarnya yang dikehendaki Islam, apakah sebenarnya yang membuat Tuhan kita merasa senang? Atau setidaknya kita berpikir sudahkah kita (termasuk saya lho ya) dengan gigih menimba ilmu agama dan mengamalkan agama, sebagaimana gigihnya kita (Kang Muslimin) mencemburui dan mengagumi keistimewaan agama yang kita anut sepenuh hati ini.

Ah, rasanya rugi sekali kalau kita menjadi (bersikap seperti) Kang Muslimin. Kita tahu apa yang kita cintai hanya dari luarnya, lalu menjaganya setengah mati dengan kecemburuan yang dalam, tapi tak punya tensi yang sama untuk tahu lebih dalam, untuk berdialog dengannya, untuk mendalami apa yang dimau oleh yang kita cintai itu. Bukankah lebih baik jika kita tahu dan mengenal secara mendalam tentang apa-apa yang kita cintai, terlebih itu agama kita sendiri. Wallahu a’lam. []

 

 

  • view 125