BERKACA: MOMENTUM EVALUASI DIRI

Ahmad Sholeh
Karya Ahmad Sholeh Kategori Project
dipublikasikan 06 November 2017
Renungan-Renungan Perihal Keislaman Kita

Renungan-Renungan Perihal Keislaman Kita


Project ini merupakan pengumpulan naskah-naskah yang pernah dipublikasi sejak kurun waktu 2015-2017. Sebelumnya naskah-naskah tulisan ini tersebar di blog, fcebook, dan media massa online.

Kategori Spiritual

234 Hak Cipta Terlindungi
BERKACA: MOMENTUM EVALUASI DIRI

: Ahmad Sholeh

Bakda Zuhur tadi, Pak Edy menyampaikan tausiyahnya di masjid Darul Ulum, kampus FKIP UHAMKA. Tausiyah atau kultum di masjid Darul Ulum memang sudah tradisi dilakukan setelah shalat Zuhur berjamaah. Dalam taisuyahnya, dia menyampaikan nasihat dan refleksi tentang bencana banjir yang sering melanda sebagian kota di negeri kita –wabilkhusus Ibu Kota.

Pak Edy membuka kultumnya dengan bercerita tentang kisah Nabi Nuh dan bahteranya. Alkisah, kata dia, Nabi Nuh tengah membuat kapal besar di atas bukit karena beliau tahu akan datang banjir besar yang akan menenggelamkan kaumnya. Cemooh dan hinaan selalu menghampirinya, Orang-orang di sekitarnya saat itu sampai membuang kotoran di atas kapalnya. Sampai-sampai kapalnya dipenuhi oleh kotoran.

Suatu ketika, seorang lelaki pincang hendak membuang kotoran ke dalam kapal. Kata dia, tapi tak diduga tak dinyana, lelaki pincang itu terpeleset hingga jatuh ke dalam kapal buatan Nabi Nuh tersebut. Lelaki itu pun kaget karena akibat terjatuh di kapal itu, kakinya yang pincang sembuh dalam seketika. Merasakan keajaiban itu, si lelaki pincang mengurungkan niatnya untuk membuang kotoran di dalam kapal itu. Lalu lelaki itu –yang sudah tidak pincang lagi- membersihkan kotorannya. Dia pun mengabarkan kepada orang-orang tentang kejadian yang dialaminya. Alhasil, orang-orang yang membenci Nabi Nuh mengambil kembali kotoran yang mereka lemparkan ke dalam kapal. Sampai bersih tak bersisa.

Itulah sekelumit kisah keajaiban bahtera Nabi Nuh. Dalam kisah lain disampaikan bahwa ada orang-orang yang menentang Nabi Nuh. Jika tadi hanya melempar kotoran ke dalam kapal, yang ini justru malah menantang Nabi Nuh untuk mendatangkan azab sebagai tanda kebenaran Nabi Nuh.

Mereka berkata, hai Nuh sesungguhnya engkau telah berbantah dengan kami maka engkau telah memeperpanjang perbantahan terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami apa yang engkau ancamkan kepada kami, jika engkau termasuk orang-orang yang benar. Dia menjawab. “hanya Allah yang mendatangkannya kepada kamu jika kamu jika Dia menghendaki dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri. Dan tidaklah bermanfaat bagi kamu nasihatku jika aku hendak memberi nasihat bagi kamu, sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu. Dia adalah Tuhan kamu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS. Hud: 32-34).

Seperti kisah yang sudah familiar bahwa umat Nabi Nuh diberi azab banjir besar. Suatu ketika, Tuhan murka dan mendatangkan azab yang besar, berupa banjir sampai menenggelamkan bukit dan dengan kapal buatan Nuh-lah makhluk hidup bisa selamat. Pada waktu itu, Nabi Nuh membawa manusia yang meyakini dan mempercayainya sebagai utusan Tuhan. Nuh juga membawa makhluk hidup lainnya masing-masing sepasang. Sepasang domba, jerapah, ular, buaya, burung, tumbuhan, dan makhluk hidup lainnya.

Kisah Nuh tersebut adalah suatu bentuk azab yang diberikan kepada kaum Nabi Nuh yang tidak mau diberi pencerahan akan kebenaran tentang Tuhan. Banjir terseut juga merupakan bukti kebesaran Allah, yang Maha berkuasa atas segala yang terjadi di dunia ini.

Kisah tersebut tentunya menjadi renungan bagi kita untuk berkaca dan mengoreksi diri. Mengapa banjir datang setiap musim penghujan tiba? Sudah banyak penyuluhan dan iklan-iklan yang menyampaikan pesan moral tentang indahnya menjaga kebersihan lingkungan, penghijauan, dan pencegahan berbagai macam bencana yang diakibatkan oleh kerusakan yang manusia perbuat. Dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 30, disebutkan:

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Pada dasarnya manusia memang memiliki sifat perusak, demikianlah mengapa iblis menentang diciptakannya manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. Namun, Allah mengamanahkan dengan tegas bahwa peran manusia di muka bumi adalah sebagai khalifah, yang mampu mengatur, menjaga, merawat, dan melestarikan bumi dan seisinya.

Jika kita tarik pada konteks kekinian, bencana banjir yang melanda sebagian negeri kita bukanlah semata-mata takdir yang harus kita terima begitu saja. Namun, perlulah kita berkaca bahwa segala perilaku manusia hari ini telah melunturkan perannya sebagai khalifah di muka bumi. Bukankah bencana yang demikian merupakan dampak dari eksploitasi alam yang dilakukan manusia? Di negeri Indonesia nan makmur ini, mayoritas penduduknya adalah umat Islam. Banyak ulama dan kiai yang tak henti mendengungkan ayat-ayat Tuhan dan berdoa, lalu mengapa masih sering terjadi bencana.

Tentulah sebagai khalifah di muka bumi kita harus melakukan tindakan yang membumi, memaknai substansi doa dan puji-pujian. Dalam hal ini tentunya peran seluruh elemen masyarakat, pemerintahan, kiai, kaum muda, dan lain sebagainya untuk turut andil menjadi solusi dalam pelbagai problematika kita hari ini.

Bahwasannya teguran, azab atau ujian yang Allah turunkan kepada negeri kita hari ini adalah akibat kelalaian manusia dalam mengemban amanahnya sebagai khalifah fil ardh. Maka ketabahan hati, keihklasan, keimanan akan kebesaran Allah harus kita tingkatkan. Bukan hanya itu, hasrat untuk mencapai perubahan hendaknya diwujudkan dalam tindakan-tindakan sederhana yang ‘menyelamatkan’ dan ramah lingkungan.

Semoga segala bencana atau musibah yang terjadi mampu menjadi momentum peringatan bagi kita untuk mengevaluasi diri dan menimbulkan kesadaran untuk mencapai perubahan kea rah yang lebih baik. Wallahu a’lam. []

 

 

  • view 34