MEMBUMIKAN ISLAM AUTENTIK

MEMBUMIKAN ISLAM AUTENTIK

Ahmad Sholeh
Karya Ahmad Sholeh Kategori Project
dipublikasikan 06 November 2017
Renungan-Renungan Perihal Keislaman Kita

Renungan-Renungan Perihal Keislaman Kita


Project ini merupakan pengumpulan naskah-naskah yang pernah dipublikasi sejak kurun waktu 2015-2017. Sebelumnya naskah-naskah tulisan ini tersebar di blog, fcebook, dan media massa online.

Kategori Spiritual

1.2 K Hak Cipta Terlindungi
MEMBUMIKAN ISLAM AUTENTIK

:Ahmad Sholeh

Bakda Zuhur tadi, penulis mengikuti rutinitas kultum yang sudah menjadi budaya setiap bakda Zuhur berjamaah di Masjid Darul Ulum, kampus UHAMKA. Tema yang disampaikan khatib saat itu sangat menarik. Khatib, yang pada saat itu disampaikan oleh Pak Majid, membahas tema menarik tentang realitas umat Islam saat ini.

Saat ini, kata khatib, umat Islam sudah terbagi menjadi tiga bagian. Yaitu Islam asli, Islam seremoni, dan Islam-Islaman. Umat Islam asli atau Islam autentik, menurut khatib, adalah Muslim yang memiliki akar tauhid yang baik dan memiliki pola interaksi yang baik dengan masyarakat –sesama manusia. Ada pula umat Islam yang menjadi Islam hanya pada saat waktu shalat tiba, inilah yang disebut Islam seremoni. Umat Islam seremoni, memaknai Islam hanya sebagai ritual seremonial belaka. Dengan kata lain, memahami Islam hanya sebagai sarana penghubung dirinya dengan Sang Pencipta. Sementara hubungannya dengan manusia lainnya tidak sebaik dan serutin ibadahnya (baca: shalatnya).

Khatib juga menyampaikan, ada pula di antara itu orang-orang yang memiliki kepedulian tinggi terhadap kemanusiaan, tapi tidak dibarengi dengan keimanan yang baik, jarang terlihat di masjid. Atau terlihat di masjid hanya ketika musim shalat Idul fitri dan Idul adha saja. Muslim yang seperti inilah yang disebut Islam-Islaman, atau kita lebih mengenal istilah yang berkembang di masyarakat yaitu Islam KTP. “Tidak aneh jika sekarang muncul istilah Islam KTP”, kata khatib.

Merespons kenyataan seperti itu, tentu ada beberapa hal yang perlu kita sikapi dan perhatikan. Di antaranya yaitu munculnya paradigma simbolik yang berkembang di kalangan masyarakat, yang menilai keislaman seorang Muslim hanya dari cangkangnya. Hanya dari kegiatan-kegiatan seremonial atau ritual keagamaan yang dilakukan saja. Sambil lupa memaknaisubstansi Islam itu sendiri. Yakni sebagai rahmat bagi semesta alam –rahmatan lil alamin.

Hal ini seharusnya menjadi kegelisahan bagi umat Islam. Karena keislaman seorang Muslim sesungguhnya tercermin melalui perilakunya. Substansi keberagamaannya mampu termanifestasi dalam memandang kehidupan, bagaimana sikapnya terhadap kemajuan zaman, bagaimana pola interaksinya dengan sesame makhluk hidup dan manusia lainnya, dan senantiasa berpegang teguh pada Al-Quran dan sunah.

Dalam ilmu sosial profetik yang digagas Kuntowijoyo dikatakan bahwa umat terbaik adalah umat yang senantiasa melakukan ta’muruuna bil makruf (humanisasi), tanhauna anil munkar (liberasi) dan tu’minu billah (transendensi) (Ali Imran: 110). Maka, umat Islam sebenarnya harus memiliki dan menyadari dua dimensi hubungan yang menjadi pilar keislamannya. Yaitu habluminallah (hubungan manusia dengan tuhan) dan habluminannas (hubungan manusia dengan manusia).

Mengingat, berbagai macam problematika umat saat ini, kontroversi pemikiran tentang Islam memang tak ada habis-habisnya. Dalam hal akidah, ibadah, dan beberapa perkembangan lain yang semakin hari semakin membingungkan bagi umat Islam yang awam. Pemikiran apa pun tentang Islam harus kembali kepada sumber autentiknya, Al-Quran dan sunah, untuk menjaga keautentikan Islam dan menghindarkannya dari kesesatan dan penyimpangan.

Akhir kalam, paradigma Islam profetik sebagai corak keberislaman yang autentik dan transformative memang harus bisa terealisasi. Karena Tuhan tidak bisa selamanya ada di ‘langit’ maka manusia sebagai khalifah fil ardh atau wakil Tuhan harus membawa nilai-nilai ketuhanan itu ke muka bumi. Bukan malah memistikkannya. Sebagai umat Islam yang terbaik (khairu ummah), kita juga harus memiliki kesalehan hati, iman, akal, dan juga sosial. Baik itu bersifat ritual maupun substansial. Inilah beberapa hal yang perlu kita renungkan bersama sebagai umat Islam yang harus mampu dan siap menjawab tantangan zaman yang semakin tak karuan ini. []

 

  • view 173