Berhentilah Berpikir, Tulislah!

Ahmad Sholeh
Karya Ahmad Sholeh Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 06 November 2017
Berhentilah Berpikir, Tulislah!

Oleh: :Ahmad Sholeh

Bahasa merupakan medium untuk berkomunikasi. Dengan berbahasa kita bisa menangkap dan menebar informasi atau pesan, baik itu melalui lisan maupun tulisan. Bahasa juga dapat menentukan apakah maksud dan tujuan apa yang kita ujarkan atau tuliskan akan sampai atau tidak kepada lawan komunikasi kita (komunikan). Maka dari itu bahasa menjadi salah satu unsur penting dalam menuangkan ide-ide kita. Begitu pun dalam tulisan ini, saya mencoba menuangkan pesan dan informasi kepada pembaca melalui medium bahasa atau rangkaian kata-kata.

Secara mendasar, menulis adalah proses menuangkan ide, pikiran, ataupun informasi yang penting, bahkan tidak penting sekalipun melalui kata-kata atau bahasa tulis. Menulis bukanlah teori. Menulis adalah kata kerja aktif dari kata dasar ‘tulis’ yang diberi imbuhan (prefiks) me-. Maka dari itu menulis adalah praktik, bukan teori. Meskipun ada teori-teori tertentu mengenai kepenulisan. Bagi pemula yang sedang belajar menulis seperti saya, praktik menulis menjadi sangat penting untuk melatih, membiasakan, maupun menjadikannya suatu kebutuhan.

Contohnya, untuk menghasilkan tulisan yang bagus tidak bisa sekali jadi. Membutuhkan proses yang panjang. Mulai dari menuangkan ide, membangun kerangka, menulis, sampai mengoreksi atau membaca kembali tulisan kita yang sudah selesai. Dan itu pun terkadang masih terdapat kekurangan di sana-sini. Tentu saja, untuk menghasilkan tulisan yang baik, benar dan bisa dinikmati kita perlu menjadikan aktivitas menulis sebagai suatu rutinitas. Rutinitas di sini jelas dalam rangka latihan –bagi pemula- dan menguatkan karakter –bagi profesional atau penulis aktif.

Bagi penulis pemula –apalagi yang masih belajar seperti saya- tentu saja menulis membutuhkan ruang tersendiri. Namun, tak pelak merasakan ada sedikit kendala yang menghambat. Baik itu dari segi mood yang angot-angotan maupun waktu menulis yang masih minim yang terkadang menjadi alasan tidak jadi-jadinya suatu tulisan. Padahal katanya, menulis itu tinggal kita mau atau tidaknya saja. Tapi ternyata untuka menumbuhkan motivasi awal saja terkadang kita merasa kesulitan.

Beberapa waktu lalu saya sempat membaca artikel menarik dalam sebauh blog yang mentranslate artikel Juliana Bagot tentang motivasi menulis. Dalam artikelnya, Bagot mencoba membongkar motivasi atau orientasi seseorang dalam menulis. Menurut dia, ketika kita menulis kita harus menentukan orientasi apakah ingin menulis atau ingin menjadi penulis. Saya harap jawabannya adalah ingin menulis, kata Bagot dalam artikelnya (baca di sini). Ya, saya pikir bagi pemula memang orientasi menulis itu amat penting.

Secara umum orientasi menulis bisa kita bagi menjadi tiga. Pertama, orientasi idealisme: yaitu menulis untuk menuangkan gagasan-gagasan, ide-ide, pikiran-pikiran, kegelisahan, solusi, dan lain sebagainya pada seseorang. Dan dengan tulisan itu dia ingin mewujudkan idealismenya sebagai manusia berpikir. Orientasi idealisme ini juga berkaitan dengan keyakinan dan pandangan hidup atau ideologi yang dibawa oleh si penulis. Sehingga terkadang tulisan yang didominasi oleh orientasi ini bisa jadi bersifat kampanye, ajakan, pembangunan citra, maupun propaganda. Bisa saja idealisme nya dilandasi oleh nilai-nilai agama. Sehingga dalam menulis misalnya selalu menampilkan dalil-dalil sebagai argumentasi. Atau berdasarkan ideologi tertentu yang hendak menentang ideologi lainnya.

Orisentasi kedua yaitu orientasi popularitas atau narsistik. Dalam menulis juga tak bisa kita mungkiri bahwa kita ingin dilihat atau stidaknya dianggap ‘ada’ sebagai manusia. Tentu saja, lebih jauh bisa kita artkan mencari nama, kehormatan, atau citra diri dalam masyarakat. Secara praktis kita bisa mengambil contohnya ketika menulis di suatu blog atau caption medsos. Yang kita lihat adalah jumlah viewer atau like dalam kiriman kita. Secara psikologis itu suatu hal yang wajar selama kita tidak melanggar aturan etis dalam kepenulisan. Pelanggaran etis misalnya melakukan plagiat demi menuai pujian, like, atau memperbanyak viewear di blog. Dan menurut saya kalau sudah begitu, orientasi menulis akan menjadi rusak. Tapi, selama kenarsisan itu dalam kadar yang proporsional tentu saja tidak menjadi masalah.

Orientasi ketiga yaitu orientasi finansial. Yaitu menulis untuk mencari keuntungan finansial, uang, dan lain-lain. Yang saya pahami orientasi ini adalah untuk orang yang menjadikan menulis sebagai profesi. Jelas di sana akan ada tuntutan, kontrak secara profesional, dan permintaan. Sehingga tulisan yang dihasilkan pun mengikuti kebutuhan pasar pembaca, kebutuhan si yang menggajinya atau perusahaan, sehingga tulisannya tidak murni dari idealisme pribadinya.

Dari orientasi yang seperti apa sedianya kita beranjak menulis? Tentu memulai dari kemauan kita. Menurut beberapa penulis bahkan untuk memulai aktivitas menulis kita harus nekat. Tak semua penulis di dunia menghasilkan tulisan yang baik dan diterima pembaca saat awal-awal menulis. Apalagi di Indonesia, yang minat baca masyarakatnya 1 berbanding 1.000, bahkan minat berkomentar jauh lebih tinggi daripada minat membaca. Itulah mirisnya, ketika berkarya tapi tidak diberi apresiasi atau sambutan yang baik. Tentu saja dalam kondisi yang demikian, menjadi penulis di Indonesia membutuhkan mental dan motivasi yang kuat.

Tak ayal dengan apresiasi yang minim, penulis akan urung untuk kembali menulis. Merasa tak dihargai atau merasa nyalinya ciut untuk menulis kembali. Padahal itulah fase untuk menumbuhkan mental dan karakter tulisan seseorang. Perkara diterima atau tidaknya suatu tulisan menjadi nomor sekian. Ingat, jika seseorang sudah berani mengomentari tulisan kita berarti dia sudah membacanya. Dan apresiasi tertinggi dari suatu karya itu adalah kritik! Jadi jangan anti terhadap kritik.

Lalu, bagaimana untuk memulai tulisan? Karena kita terkadang bingung harus mulai menulis dari mana. Katanya tulisan yang baik adalah tulisan yang dimulai. Sedangkan tulisan yang bagus adalah tulisan yang selesai ditulis. Ya, intinya jika tak ada alasan kuat kenapa kita harus menulis selain karena kita harus menulis maka kita tidak akan menemukan apa yang bakal kita tulis. Sebaliknya jika kita tahu alasan kenapa kita harus menulis, kita pasti tahu apa yang harus kita tulis.

Mulailah menulis dengan menulis adalah jargon populer bagi penulis pemula. Karena memang untuk memulai menulis bukanlah kita harus menjadi seorang penulis terlebih dahulu, tapi menulislah karena begitu cara memulainya. Tak bisa dimungkiri, ketika hendak mulai menulis kita dihadapkan dengan pertanyaan ‘apa yang harus aku tulis?’, ‘harus mulai dari mana?’, dan pertanyaan serupa yang sebetulnya tidaklah perlu dipertanyakan. Karena jawabannya pun hanya akan terjawab ketika kita sudah mulai menulisnya. Pertanyaan itu menjadi hambatan tersendiri, yang membuat urungnya seseorang mulai menulis. Terkadang ide yang sudah menumpuk di otak justru membuat kita bingung yang mana lebih dahulu harus kita tulis.

Selain itu, merasa tulisan tidak bagus kadang membuat kita sering keliru saat menjalankan proses menulis. Kita sering kali melakukan pekerjaan menulis sambil mengedit sekaligus. Padahal menulis dan mengedit adalah dua pekerjaan yang berbeda. Menulis adalah proses awal yang melibatkan pikiran serta refleksi kita terhadap suatu pembahasan. Sedangkan mengedit adalah fase setelah itu. Sebagian penulis mengharamkan kita melakukan proses mengedit ketika menulis –tulisan belum selesai. Setelah tulisan selesai kita tulis barulah kita bisa mengedit, yaitu membaca ulang, mengoreksi, memperkaya tulisan maupun menghilangkan bagian-bagian tidak penting pada tulisan kita. Dengan begitu, tentu saja kita bisa mengolah sendiri tulisan kita menjadi lebih baik, lebih runut, lebih logis, dan lebih berkarakter.

Terakhir, menulis haruslah kita jadikan sebagai kebiasaan agar kita tidak masuk ke jurang kebinasaan. Katanya menulis itu pekerjaan untuk keabadian. Ya, siapa yang tahu ketika kita mati ide-ide kita yang masih hidup dalam tulisan bisa terus lestasi dan dikembangkan oleh pembaca. Sudah banyak contohnya pemikiran-pemikiran orang terdahulu yang sampai saat ini masih diperbincangkan. Bahkan dikutip dalam tulisan-tulisan.

Maka dari itu, kita harus berhenti memandang menulis itu sebagai beban, tapi jadikanlah menulis itu sebagai tantangan. Jadikan diri kita tertantang untuk menciptakan tulisan-tulisan yang bermanfaat bagi pembaca. Setidaknya, berusaha untuk mencatat agar saat suatu hari kita lupa, kita bisa kembali mengingat lewat tulisan kita sendiri.

Berhentilah berpikir harus mulai dari mana, tapi tulislah!


baca juga: artikel MENULIS: MENGURAIKAN KATA SEBAGAI SENJATA
 dan Aku Abadi Karena Aku Menulis

  • view 180