Menjaga Anak-Anak Bermain di Taman

Ahmad Sholeh
Karya Ahmad Sholeh Kategori Inspiratif
dipublikasikan 06 Agustus 2017
Menjaga Anak-Anak Bermain di Taman

oleh: Ahmad Sholeh

 
“Gozaru.. Gozaru itulah asalnya... Pembela kebenaran dan keadilan, hey ninja Gozaru..”

Bagi anak generasi 1998-2000-an, pasti tahu potongan lirik lagu tersebut. Ya, itu adalah sountrack film kartun Ninja Hattori. Film tentang seorang ninja kecil yang hidup bersama keluarganya Kenichi. Dari segi perwatakan dan jalan ceritanya, mungkin mirip-mirip dengan film Doraemon. Ninja Hattori kerap menjadi penolong bagi Kenichi ketika dia mendapat masalah. Ada juga kartun lainnya yang mirip-mirip ceritanya, seperti Kiteretsu, Kurochan, dan lain-lainnya.

“Ninja Hato Ha dia mulai beraksi menjaga anak-anak bermain di taman...

bunga-bunga indah terbang ke awan, membawa hati kita jadi gembira..”

Ya, itulah kerjanya Hattori, menjadi penjaga anak-anak ketika sedang bermain, termasuk Kenichi. Dia melindungi anak-anak dari berbagai masalah dan bahaya yang bisa saja muncul. Namanya juga anak-anak ya. Kadang ada-ada saja perilakunya.

Lah, terus apa hubungannya dengan tulisan saya ini? Kira-kira tugas menjaga anak-anak itu apakah tugas seorang ninja, superhero, Doraemon, atau babysitter? Anak-anak memang suka sekali bermain. Karena dunia anak-anak adalah dunianya bermain. Bermain di taman, di jalanan, di dalam rumah, di rumah tetangga, di sekolah, bagi anak-anak semua tempat adalah tempat bermain yang menyenangkan (seharusnya begitu).

Nah, ngomong-ngomong soal bermain. Beberapa hari lalu, ada kejadian yang saya alami sendiri di jalanan. Iya, di jalanan. Pasti menyangkut anak kecil dan bermain. Kala itu saya sedang dalam perjalanan menuju ‘sawah’, tempat saya biasa mencangkul. Saya mengendarai motor dengan enjoy dan hepi. Dari kejauhan memang saya lihat ada sekitar lima orang anak sedang bermain di jalan. Lari-larian, kejar-kejaran dengan riang gembiranya. Sekilas memang itu bukan hal yang aneh. Tidak juga menyebalkan.

Mereka berlari-larian di jalanan dengan tawa riangnya. Yang membuat aneh dan tanda tanya bagi saya adalah tidak adanya orang tua yang mengawasi mereka. Memang mereka bukan anak balita lagi. Tak perlu diawasi ketika sedang bermain. Yah, kira-kira anak-anak itu kelas satu atau dua SD. Ketika saya melintas mereka berkejaran dari satu sisi jalan ke sisi jalan lainnya.

Kondisi jalan waktu itu memang tak begitu ramai. Hanya satu-dua motor melintas, dan terkadang tukang perabot dan mobil tahu bulat juga lewat memanggil-manggil pembeli. Oleh sebab jalanan sepi, mungkin mereka (anak-anak itu) merasa senang berlarian di jalanan.

Nah, ketika saya melintas itulah ada seorang anak tiba-tiba menyeberang. Beruntung saya sempat mengerem, meski mendadak. Sepersekian detik saja saya telat menginjak rem, saya yakin anak itu akan tertabrak. Atau minimal terserempet oleh motor saya. Untungnya saya bukan orang yang suka ugal-ugalan bawa kendaraan. Dan kami masih diberikan perlindungan oleh Allah.

Saya menahan rasa mau marah pada anak-anak itu. Meski sebenarnya rada kesal juga. Kesal bukan pada anak-anaknya. Melainkan kepada orang tuanya. Seharusnya orang tua biarpun tidak bisa mengawasi sang anak yang sedang bermain. Setidaknya bisa memberikan pemahaman kepada anak tentang bagaimana bermain di jalanan, dan bahaya-bahayanya.

Hmm, mungkin memang tak semudah itu dan tak sesederhana itu. Namanya juga anak-anak, kadang kalau dia sendiri belum mengalami ya belum mau percaya, belum mau berhati-hati. Apalagi orang tua zaman sekarang, yang oleh para ahli psikologi dilarang berkata “jangan...” kepada anak-anaknya heee.

Sedikit berbagi saja, saya sewaktu kecil pernah tertabrak sepeda motor, tepat di jalanan depan rumah saya. Ketika itu saya hendak menyeberang, karena menyusul kakak saya yang hendak pergi ke warung. Karena tak sabar, saya paksakan menyeberang walaupun ada motor yang sedang melintas tenang. Alhasil, saya tertabrak atau tersenggol, saya tak ingat. Karena rasanya ketika kejadian itu saya langseung terbang entah ke mana. Mungkin pengalaman itu yang membuat saya tak mau ugal-ugalan atau ngebut ketika mengendarai sepeda motor. Mungkin ya.

Jadi, sebenarnya maksud saya tulis ini bukan apa-apa. Bukan hendak menggurui. Bukan pula hendak menggerutu kepada para orang tua. Apalagi menggerutu kepada para pengendara sepeda motor, mobil penjual perabot, atau mobil tahu bulat. Karena, siapa sih yang mau kecelakaan itu terjadi. Heee, tapi ya wajib lah kita mewawas diri. Berhati-hati dalam berkendara. Begitu juga orang tua agar tahu anak-anaknya bermain di mana, sedang apa, dengan siapa, duh kayak lagu kangenben. Karena anak adalah amanah dari Yang Mahakuasa.

  • view 53