Ketakutan, Harapan, dan Penantian

Ahmad Sholeh
Karya Ahmad Sholeh Kategori Inspiratif
dipublikasikan 04 Agustus 2017
Ketakutan, Harapan, dan Penantian

 : Ahmad Sholeh

Ketakutan mungkin sering dialami oleh siapa pun. Setiap manusia pasti punya rasa takut. Dan ketakutan adalah bentuk dari rasa takut. Tapi apakah berarti setiap orang yang punya rasa takut itu bukanlah orang yang berani? Atau kadang kita merasa karena rasa takutlah kita jadi lebih berhati-hati. Misalnya ketika berkendara sepeda motor. Oleh sebab takut terjatuh atau celaka, kita menjadi lebih berhati-hati, mematuhi aturan lalu-lintas, bahkan menggunakan perlengkapan berkendara yang lengkap.

Kemampuan manusia merasakan takut atau ketakutan juga tak pelak menimbulkan ekspresi yang berlebihan. Rasa takut itu bisa menjelama menjadi sesuatu yang bersemayam dalam pikiran dan khayalan. Sehingga kadang ketakutan-ketakutan yang dirasakan akan berakibat pada lemahnya seseorang dalam menjalankan suatu hal.

Misalnya, kita ambil contoh yang tadi. Orang yang memiliki rasa takut berlebihan terhadap kondisi jalanan, kecelakaan, atau terjatuh dari sepeda motor bisa jadi dia tidak mau sama sekali mengendarai motor. Karena dia tak bisa mengendalikan ketakutan di dalam dirinya. Tapi ada pula yang mau berusaha dengan tetap belajar mengendarai seped motor sampai bisa. Sampai benar-benar mengalahka rasa takutnya. Tinggal bagaimana nanti berhati-hati ketika berkendara.

Atau contoh lainnya. Ini penulis ambil dari pengalaman ketika belajar mengendarai kendaraan roda empat. Saat itu orang tua membelikan mobil pikap tua sengaja memang untuk belajar. Hampir setiap hari penulis belajar di tengah lapangan luas. Tak ada rasa takut sama sekali. Karena tantangan di lapangan hanyalah belajar menghapal pedal rem, gas, kopling, dan perseneling. Di sini bisa kita pahami bahwa kita harus tahu dulu role of the game-nya sebelum bisa menjalankan suatu hal. Tak bisa sembarangan atau asal-asalan.

Setelah beberapa pecan dan bosan berkendara mobil di tengah lapangan, penulis mulai dipaksa mengendarai mobil di jalan. Di jalanan banyak ketakutan yang datang. Pertama, takut menabrak pengguna lain. Kedua, takut ketika berbelok menghantam yang ada di kanan dan kiri mobil. Ketiga, takut mobil yang kita bawa rusak, tiba-tiba mogok, dan sebagainya. Keempat, takut mengerem mendadak da mengganggu pengguna jalan lain. Dan masih banyak ketakutan yang bisa kita rasakan.

Tapi, dengan bekal memahami dan membiasakan diri dengan role of the game di awal tadi, penulis akhirnya bisa mengendarai mobil di jalanan. Hal itu semakin sering dilakukan. Tapi, tetap saja hadir ketakutan-ketakutan baru. Nah, itulah yang membuat kita harus mampu belajar dan cepat beradaptasi. Kondisi di luar diri kita selalu berubah. Tatangan pun begitu selalu ada saja. Dan kadang tak bisa kita duga-duga seperti apa dan bagaimana bentuknya.

Kita tak perlu terlalu larut dalam ketakutan. Karena sesungguhnya ketakutan merupaka tangga bagi kita untuk mencapai sebuah keberanian dalam hidup. Bagaimana kita bisa kemudian mengendarai sepeda motor bahkan mobil jika kita tidak bisa menemukan keberanian dalam diri kita. Setiap manusia seperti halnya ketakutan juga memiliki keberanian. Dan keberanian itu bersemayam dalam diri manusia. Ada keberanian yang perlu digali. Ada pula keberanian yang muncul sendiri. Meskipu begitu, sebagai manusia kita haruslah menajamkan keberanian itu. Keberanian dan ketakutan bisa datang beriringan.

Nah, sekarang kita membahas tentang harapan dan penantian. Harapan dan penantian bisa pupus karena rasa takut atau ketakutan, apakah betul begitu? Tentu bisa saja. Harapan dan penantian adalah kumpulan angan, ingin, dan keyakinan pada masa yang akan datang. Bukan dalam artian ramalan atau tebak-tebakan. Melainkan sebuah keyakinan hati pada cita-cita atau apa yang ingin digapai pada masa depan.

Setiap manusia, seburuk-buruknya manusia, masih layak dan pasti memiliki kesempatan merancang masa depan. Tak peduli bagaimanapun masa lalunya. Baik itu kelam, hitam, maupun buruk. Semuanya punya kesempatan pada masa depan yang lebih baik.

Hal ini secara sederhana dapat kita resapi dari perkataan Rasulullah SAW bahwa, “Orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin adalah orang yang beruntung. Orang yang hari ini sama dengan hari kemarin adalah orang yang merugi. Dan orang yang hari ini lebih buruk dari kemarin adalah orang yag bangkrut.”

Perkataan itu menegaskan bahwa sebenarnya kita tengah berada dalam kompetisi atau bahkan pertaruhan kehidupan. Dengan tiga pilihan itu, “untung, rugi, atau bangkrut.” Tentu dari semua pilihan itu, siapa pun pasti ingin menjadi orang yang beruntung. Tak ingin merugi, apalagi bangkrut.

Tapi, bagaimana caranya agar kita selalu menjadi lebih baik dari hari kemarin? Proses. Semua butuh proses. Begitupun untuk mewujudkan harapan dan penantian. Bahkan mengalahkan ketakutan-ketakutan. Yang perlu kita ingat adalah waktu tak pernah menunggu kita untuk mengerti. Waktu terus berputar. Melaju. Karena itu sudah menjadi kodratnya. Dan kita? Kita harus berusaha. Mengumpulkan semua keyakinan, keberanian, dan keteguhan untuk bisa mencapai kata ‘beruntung’.

Teringat perkataan Imam Al-Ghazali dalam bukunya Takut dan Harapan:

“Bila yang ada di hati adalah apa yang telah terjadi, maka dikatakan kenangan. Bila yang di hati adalah apa yang terjadi seketika itu, maka dikatakan perasaan. Bila yang ada di hati adalah apa yang terjadi pada masa yang akan datag da menggema dalam hati, maka dikatakan penantian dan harapan.”

Maka, sejauh kita memiliki penantian dan harapan. Haruslah kita berupaya mencapainya dengan sungguh-sungguh. Tak perlu kalah oleh ketakutan. Kecuali takut kepada Sang Pecipta saja. Karena denga begitu kita telah berusaha, sebagai kewajiban kita, dan menyerahkan hasilnya kepada-Nya. Dan Dia sebaik-baik pemberi pertolongan. Wallahu alam.


gambar dari: http://img05.deviantart.net/b8c4/i/2009/282/e/a/foggy_night_by_varunthottathil.jpg

  • view 63