Warisan Intelektual Ki Bagus[1]

Ahmad Sholeh
Karya Ahmad Sholeh Kategori Tokoh
dipublikasikan 02 Februari 2016
Warisan Intelektual Ki Bagus[1]

?

?

KI BAGUS HADIKUSUMA dikenal sebagai seorang tokoh Islam, selain berjuang demi agama beliau juga berperan aktif dalam perjuangan merealisasikan kemerdekaan bangsa ini. Tokoh yang juga pemimpin Muhammadiyah ini terkenal dengan julukan ?arsitek pancasila?, karena kontribusinya dalam perumusan pancasila terutama pada sila pertama, ?keTuhanan yang maha Esa?. Sebagaimana HS Prodjokusumo menyatakan bahwa, ?kunci pancasila ada di tangan Ki Bagus hadikusuma. Ki bagus adalah sosok penting bagi Indonesia dan bagi Muhammadiyah?. Ki Bagus juga merupakan seorang pemikir yang sampai saat ini kejernihan pikirannya selalu dapat dijadikan referensi bagi kaum intelektual muslim.

Sebagai seorang pemikir dan tokoh besar bangsa, yang juga aktif dalam organisasi Muhammadiyah beliau mampu menempatkan dirinya sebagai teladan bagi orang-orang setelahnya. Dari berbagai warisan keintelektualannya ada tiga hal yang patut kita teladani dari beliau yaitu tradisi membaca, tradisi menulis, dan tradisi dokumentasi.

Tradisi membaca. Ki Bagus adalah seorang penjelajah dunia baca membaca, kemampuannya menguasai bahasa dari mulai bahasa Indonesia, Arab, Inggris, dan Belanda menjadikannya mampu menjelajahi luasnya dunia Ilmu. Ki Bagus banyak membaca buku, sampai-sampai beliau mengalami sakit mata karena banyak membaca. Buku-buku karya ulama klasik yang menjadi bahan kajiannya seperti tasawuf dan fikih. Sebagai santri yang mengaji pada Kyai Dahlan, Ki Bagus juga mempelajari karya-karya ulama modern seperti Muhammad Abduh, Ibnu Taimiyah, Rasyid Ridha dan lain-lain.

Tradisi menulis. Menuangkan ide dan gagasan dalam tulisan merupakan hal yang langka bagi ulama pada waktu itu. Ki Bagus merupakan salah satu ulama yang selain gemar membaca dan mengkaji, beliau juga produktif dalam menuliskan gagasan dan ilmu keIslamannya. Jika disandingkan dengan kakaknya AR. Fachrudin, beliau jauh lebih produktif. Karena karya tulis yang berisi gagasannya lebih banyak dibanding karya-karya yang dituliskan kakaknya itu.

Tradisi dokumentasi. Walaupun jumlahnya terbatas, buku-buku karya Ki Bagus masih bisa didapati sampai saat ini. Buku-bukunya dicetak oleh penerbit ?persatuan? milik Muhammadiyah yang didirikan oleh AR. Fachrudin. Beberapa karyanya yang pernah diterbitkan yaitu, ?Poestaka Iman? (1925), ?tafsir Juz?ama?, ?Ruhul Bayan?, ?Risalah Katresnan Djati?, ?Pustaka Ihsan? (1941), ?Poestaka Iman? (1954), dan ?Islam sebagai Dasar Negara dan Akhlak Pemimpin?.

Ki Bagus Hadikusuma merupakan sosok pemimpin yang amat baik, beliau patut kita jadikan teladan bagi hidup kita. Tiga warisan intelektualnya, merupakan upaya yang ia lakukan selama ia hidup. Maka budaya intelektual, seperti membaca, menulis, dan dokumentasi pemikiran harus bisa kita jadikan acuan dalam berperan sebagai akademisi muslim yang berkemajuan. Semoga bermanfaat.

?

Biodata singkat Ki Bagus

Nama?????????????????????????????????? : Ki Bagus Hadikusuma

Lahir???????????????????????????????????? : Yogayakarta, Senin 24 November 1890

Wafat?????????????????????????????????? : Jumat, 3 September 1954

Sejarah kepemimpinan??????? : (1922) Ketua bagian Majelis Tabligh, Majelis Pimpinan dan pengajaran Muhammadiyah (MPM) Hoofdbestuur Muhammadiyah (1926), Ketua PP Muhammadiyah (periode 1942-1953)

?

?Ki Bagus adalah seorang pemimpin umat islam yang memiliki visi kenegarawan. Visi kenegarawanan Ki Bagus terlihat jelas saat ia menyetujui usulan formulasi sila pertama, ?Ketuhanan yang Maha Esa? yang tadinya berbunyi, ?Ketuhanan dengan kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya?. Tidak mudah bagi Ki Bagus untuk meloloskan kalimat ini. Namun situasi saat itu sungguh genting, sehingga Ki Bagus berbesar hati demi menjaga kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia saat itu?.

_AM. Fatwa

?

[1] Disarikan dari Majalah Islam, The Way of Life. Edisi: 11, 2013.

[2] Penulis buku ?Untuk? Mak Eha? dan ?Menunaikan ibadah puisi? yang terbit di tahun 2015, Sekbid keilmuan PC IMM JakTim 2015.

  • view 217