Apresiasi Sastra dengan Pendekatan Humanistik

Ahmad Sholeh
Karya Ahmad Sholeh Kategori Lainnya
dipublikasikan 08 April 2016
Apresiasi Sastra dengan Pendekatan Humanistik

: Ahmad Sholeh

Konsep Pembelajaran

Pembelajaran adalah suatu proses yang penting dalam dunia pendidikan formal. Tidak hanya bersifat administratif, pembelajaran juga meliputi hal-hal yang berkaitan dengan metode pendekatan dan model belajar di dalam kelas.

Berkaca pada realitas sosial yang terjadi dalam masyarakat, ada kondisi-kondisi yang perlu diperhatikan secara reflektif dan kritis. Pendidikan pada hakikatnya diupayakan agar dapat menghasilkan manusia seutuhnya, yang memahami potensi dalam dirinya, bukan robot bernyawa yang hanya bertindak berdasarkan kemampuan mekanistiknya saja.

Seandainya sikap yang pantas dari individu adalah terus-menerus mengingkari diri sendiri demi kelompok, dan seandainya setiap anggota kelompok diajarkan untuk memulai kehidupan dengan semangat yang sama, siapa yang akhirnya, secara khusus, diuntungkan?

-Donald Walter-

Asumsi Walter tersebut dapat dijadikan bahan untuk mengidentifikasi masalahpsikologi individu yang terikat dalam suatu kelompok. Solidaritas kelompok yang selama ini diajarkan, dapat berpotensi membentuk mental peserta didik yang ketergantungan kepada teman kelompoknya, dan hal ini sedikit demi sedikit akan mengikis inisiatif dan kreativitas dalam diri individu tersebut.

Berdasarkan analisis masalah tersebut, maka konsep pembelajaran yang dapat diupayakan adalah pembelajaran dengan pendekatan humanis. Dalam pembelajaran berbasis humanis, guru dan siswa adalah subjek yang berpikir dan berdialog, ini merupakan praktik dari tujuan pendidikan itu sendiri, yakni humanisasi (memanusiakan manusia).

Dalam pembelajaran humanis Danim dan Khairil menjelaskan, guru dan siswa berada pada koridor humanisasi. Usahanya harus dijiwai dengan kepercayaan yang mendalam dari masyarakat dan daya kreatif mereka. Maka komunikasi antara guru dengan murid haruslah terbangun bagai simpul yang saling mengikat dan bertemu pada satu titik, yakni dialog. Dengan proses ini, pikiran-pikiran autentik peserta didik sedikit-sedikit akan muncul dan tergali.

Pembelajaran Sastra Profetik

Pembelajaran sastra di sekolah merupakan suatu proses memahami, mengapresiasi dan menanamkan kecintaan terhadap karya cipta manusia di luar pemahaman peserta didik tentang teori-teori sastra. Jabrohim menyatakan bahwa,

Pengajaran sastra haruslah diorientasikan kepada pemahaman pembaca karya sastra, bukan pada keterampilan menghafal teori sastra.

Pada intinya pembelajaran sastra di kelas haruslah mengkaji sastra itu sendiri, bukan menghafal teori dan mengesampingkan apresiasi terhadap karya. Maka dengan demikian yang harus diperhatikan adalah bahan ajar pembelajaran sastra di sekolah. Bahan ajar untuk pembelajaran sastra di kelas idealnya adalah karya sastra. Sebagaimana Jabrohim menyatakan bahwa,

Pengajaran sastra haruslah berangkat dari bahan ajar karya sastra bukan teori konvensi sastra.

Seperti dinyatakan Aminuddin bahwa apresiasi sastra secara langsung adalah kegiatan membaca atau menikmati cipta sastra berupa teks maupun performansi secara langsung. Maka dengan demikian pemenuhan kebutuhan bahan ajar karya sastra harus terpenuhi untuk menunjang pembelajaran sastra di Sekolah. Secara konkret, jika pembelajaran membahas tentang novel, maka bahan ajarnya adalah novel utuh, bukan sekadar sinopsis.

Metode pembelajaran yang tepat untuk pembelajaran sastra profetik berdasarkan pendekatan humanis adalah dengan adanya proses diskusi atau dialog. Selain itu, dibutuhkan model pembelajaran sebagai pedoman atau acuan dalam kegiatan pembelajaran, Ibrahim menyatakan bahwa, model pembelajaran sebagai upaya pendekatan dalam pendidikan yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatan. Maka model-model pembelajaran yang dapat digunakan adalah seperti model pembelajaran brainstorming, think pair and share, mind mapping, discovery learning, dan model pembelajaran lainnya yang dapat membuat peserta didik berperan aktif dalam proses pembelajaran.

Dalam proses pembelajaran guru juga dituntut untuk kreatif, dengan menghadirkan model-model pembelajaran yang menarik dan membuat siswa aktif, baik dalam bertanya maupun dalam menanggapi materi pembelajaran, inilah yang diinginkan oleh pembelajaran dengan pendekatan humanis, yaitu adanya komunikasi terbuka (dialog) antara guru dengan murid.

Guru tidak bisa berpikir sendiri untuk murid-muridnya atau memaksakan pikirannya pada mereka. Guru harus berpikir autentik tentang realitas. Mereka tidak hidup dalam isolasi menara gading. Mereka harus hidup dalam alam komunikasi terbuka.

-Danim dan Khairil-

 

 

Referensi:

Walter, J. Donald, Crises in Modern Thought: Menyelami Kemajuan Ilmu Pengetahuan dalam Lingkup Filsafat dan Hukum Kodrat, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2003)

Danim dan Khairil, Pedagogi, Andragogi, dan Heutagogi, (Bandung: Alfabeta, 2010)

Jabrohim (Ed), Pengajaran Sastra, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1994)

Aminuddin, Pengantar Apresiasi Satra.

  • view 173