Mengapa Karya Burukpun Berhasil Menjadi Juara?

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 05 Maret 2016
Mengapa Karya Burukpun Berhasil Menjadi Juara?

(Edisi 3 posting sebelum libur bermedia sosial beberapa hari efek dinas ke luar kota. Direpro untuk menemani Tim Juri inspirasi.co dalam melaksanakan tugas penjurian #ParadeLombaInspirasi... ^_)

***

Jauh waktu sebelum saya nge-jam session dengan Desol si cewek yang lebih dikenal sebagai Penulis Sadis? itu, saya telah lebih dulu berbalas puisi bersama DP Anggi, walaupun dalam bentuk kolaborasi yang sepihak melalui kolom komen. Langsung mangslup ke tekape yah, Kawan?^_

?

#DP Anggi

bagaimana aku tidak mencintai-mu?

sedang diriku adalah milik-mu yang utuh...



bagaimana tidak kuhambakan diriku?

sedang hadirku menjelma wujud karena cinta-mu...

?

?

#Bay

tak cukupkah hanya aku untukmu

hingga kau tak perlu lagi terus berlari

hingga kau tak perlu lagi terus mencari

hingga kau, pada putaran yang terakhir kali

tak sanggup lagi untuk kembali, menuju-ku

?

Terus, apa hubungannya sama judul artikel ini, Bay?

Saya jawab: Gak ada (Haha? :P).

?

Cuma bercanda, Sobat.

Kolaborasi sepihak yang sekilas mirip cinta muda-mudi namun sejatinya bergenre religi itu, mengingatkan saya pada teori ?Jalan Pintas Menjadi Penulis Cadas? karangan saya sendiri. #Huekss?

Tidak percaya? Mari kita masuk ke jalan pintas yang pertama, yang kebetulan terselip pada karya peserta yang berinisial ATK berikut ini.

?

Bahagia Untuk Gabriella

Jika ada pelabuhan terluas di dunia, itu adalah dadamu. Tempat aku melabuhkan segala penat. Ribuan beban berat dalam belasan tahun perjalanan hidup, pernah kurehatkan di sini. Dadamu selalu lapang, tempat aku berlari dan mendapatkan dekapan paling hangat.

Angin mendesir, anak-anak rambutmu bermain nakal di seputar bibir saat kau mengucapkan kalimat-kalimat itu. Taman kota terasa teduh. Pucuk-pucuk flamboyan mengangguk ritmis dan manis. Kanvas jingga di langit, kian menghangatkan dada, mengekalkan senja terpanjang dalam hidupku. Kau rebahkan kepala di pangkuanku, jemarimu yang lentik mengusap lembut dadaku. Dan untuk kesekian kalinya aku hanyut, tenggelam di dalam lautan bening matamu.

"Saudara Andra Prasetya, apakah saudara mengakui di hadapan Tuhan Yesus dan Jemaat-Nya bahwa saudara bersedia dan mau menerima Saudari Gabriella Kinanti sebagai istri satu-satunya dan hidup bersamanya dalam pernikahan suci seumur hidup saudara?"

Suara itu menggetarkan dadaku. Kusaputkan pandangan ke wajah semringah Ella. Ada senyum bahagia terlukis dari balik cadar pengantin di sana. Untuk sesaat, mataku terasa hangat. Dengan kekuatan penuh, kutahan air bening agar tak mengalir dari pelupuk mataku.

"Ya, saya bersedia..." ucap Andra. Dan aku pun beringsut dari duduk, meninggalkan gereja dengan gemuruh paling riuh di dada. Di kebisingan jalan, kulambaikan tangan dan masuk ke dalam taksi. "Bandara..." ucapku hampir tak terdengar. {}

***

Jika dilihat secara materi lomba, karya ATK termasuk kategori karya buruk, namun anehnya justru keluar sebagai pemenang even fiksi ?Aku Punya Impian? yang diselenggarakan oleh sebuah komunitas.

Ada beberapa point kekurangan dari karya ini, meliputi:

?

Point pertama.

Apa tema besar even tersebut? Aku Punya Impian.

Lantas, impian apa yang ditawarkan ATK melalui tokoh ?aku?nya di cerita tersebut?

Tidak ada. Bahkan jika dipaksakan membela lewat judulnya, yaitu: Bahagia Untuk Gabriella, tetap saja mentah. Karena dalam karya tersebut, tokoh aku ?sekedar? menghadiri perkawinan orang yang dicintainya, tanpa pernah melakukan tindakan apapun yang menunjukkan bahwa sang tokoh aku tengah ?memperjuangkan? sesuatu yang menjadi bukti bahwa si tokoh aku melakukannya demi membuat Gabriella bahagia.

?

Point kedua.

Apa genre yang diusung pada even tersebut? FF alias fiksi mini.

Apakah karya ATK telah termasuk dalam kategori genre tersebut? Tidak. Karena dari bentuknya, karya tersebut adalah sekedar ?outlines?, atau dalam bahasa bebasnya adalah penggalan dari kisah utuh pada sebuah karya, dan bukannya bentuk jadi dari keseluruhan karya itu sendiri.

Dan mengenai ulasan tentang FF telah saya posting pada sebuah artikel beberapa waktu setelah even lomba tersebut mulai diselenggarakan. Barangkali kapan masa akan saya posting ulang di inspirasi.co demi menambah pengetahuan, atau setidaknya demi menyingkron balik tentang tentang kebenaran point kedua yang saya ajukan ini. Kan lumayan, jika salah bisa buat bahan nge-bully yang punya lapak ini, haha? :P

?

Point Ketiga.

Tanda baca dan EYD.

Tak perlu masuk ke dalam karya, karena bahkan judulnyapun telah mengandung kesalahan.

Judul yang harusnya tertulis ?Bahagia untuk Gabriella?, ditulis oleh ATK sebagai ?Bahagia Untuk Gabriella? dengan huruf U kapital pada kata ?untuk?.

Tak hanya itu, pada paragraf pertama kalimat ketiga, yaitu kalimat ?pernah kurehatkan di sini? menjadi agak janggal, karena mestinya adalah ?pernah kurehatkan di sana?. Serta beberapa kesalahan yang lainnya lagi termasuk juga salah penggunaan koma dan spasi.

Dan khawatir artikel ini menjadi terlalu panjang, saya cukupkan saja dengan tiga point di atas, yang menurut pendapat saya pribadi, menegaskan bahwa karya ATK melanggar setidaknya dua point ?berat? (jika memang point ketiga tak perlu disertakan).

Lantas, mengapa karya ATK berhasil menjadi juara? Apakah karena dewan juri even tersebut tak paham soal sastra? Atau memiliki selera berfiksi yang kurang menggairahkan?

Oopssttt?!!!

Ada baiknya kita tak berburuk sangka sejauh itu, Sobat?^_

Setelah puas jelek-jelekin karya ATK sampai muntah, sekarang giliran saya mengangkatnya tinggi-tinggi. Tentu saja dengan beberapa data yang mendukung, sebab memuji tanpa data yang dapat dipertanggung jawabkan ?jika menurut pendapat saya pribadi- adalah perbuatan para penjilat! Dan saya jelas bukan seorang penjilat handal, kecuali jika misalnya terhadap istri yang sah secara hukum dan norma agama, hahay? :P

Dalam tulisan yang saya posting kemarin di inspirasi.co, saya sisipkan tentang apa yang lebih penting dari teknik, dalam postingan berbaur kisah cinta kelam pada link yang ini.

Yah. Apa yang lebih penting dari teknik penulisan fiksi?

Jawabannya hanya dua, yaitu: Ide, dan jiwa.

Seburuk apapun karya yang dihasilkan, jika kita memiliki dua modal paling penting di atas, maka lewatlah segala macam aturan main dan sebagainya yang menyebalkan tersebut.

Dua hal penting itu saya peroleh dengan amat berdarah-darah, melalui petualangan pengalaman pribadi yang kelam, yang banyak tahun setelahnya baru saya dapati bahwa dua hal penting itu pula yang ternyata menjadi patokan bagi penerbit-penerbit mayor negeri ini. Jadi klop, deh?^_

Kembali ke ATK. Saya menduga peserta even yang kabarnya tinggal di Kuala Lumpur ini TIDAK mengetahui ?keajaiban? akan dua hal penting tersebut, sama seperti pengakuan Desol yang katanya tak paham sedikitpun tentang sastra, namun dengan beberapa keadaan yang agak anomali, nyatanya tetap mampu membuat karya yang gurih-gurih asoy tapi ngehek itu.

?

Apa ide yang digadang ATK?

Cuma ide yang amat biasa, yaitu tentang cinta yang normal-normal saja. Hanya saja cinta versi ATK memang memiliki beberapa keistimewaan.

Pertama, cinta tersebut mengandung konflik kesedihan yang mendalam namun tak terjebak melow guslaw alay lebay juga melambai, yang jika boleh saya sarankan, ATK sepertinya cocok jika menjadi motivator bagi grup ababil alias ABG labil yang susah move on dari putus cintanya? :P

Kedua, pilihan paragraf pembuka ATK top cihuy, langsung menjambak pembaca untuk berkecipak di ruang imajinasi penuh rasa, mengingatkan saya pada paragraf pembuka yang dipakai Ayu Utami pada novel ?Saman?. Walau kadang saya berpikir, alangkah baiknya jika dua paragraf pembuka tersebut dirombak lalu digabung menjadi satu paragraf cantik penuh warna dan rasa. Tapi biarlah itu menjadi urusan ATK ?sebagai pengarangnya.

Siapa Ayu Utami? Kalo tak salah ingat, beliau sastrawan muda yang pasca memenangkan lomba Dewan Kesenian Jakarta, namanya langsung dempet dengan Helvy Tiana Rosa, yang mesti berlelah-lelah menapaki jalur sastra melalui media islami yang penuh gejolak.

Yang satu penulis Kristiani, yang lainnya penulis Islami, dan keduanya super terampil menggunakan sudut agama mereka dalam karya tanpa perlu menjadi sok agamis atau justru amat monoton. Juga super berani mendobrak hal-hal tabu yang ada pada keyakinan semasingnya. Keren?^_

Ketiga, ATK? amat berbakat menjadi ?penipu ulung?, yang lincah melompat dari paragraf bersudut pandang ?aku? ke paragraf tokoh Andra Prasetya. Dan itu adalah sebuah pilihan yang amat berani mengingat tak semua juri di even fiksi tersebut memiliki kemampuan bersastra yang mumpuni.

Jika saja ATK sial, maka karyanya saya pastikan akan langsung dilempar ke tong sampah karena juri menganggapnya kurang konsisten dalam menerapkan ?Point of View?. Oh, ya. Dalam hal ini sayapun sempat tertipu dan agak heran juga menyayangkan waktu membaca untuk yang pertama kali.

?Kenapa karya sebagus ini memiliki cacat yang amat parah? Alangkah sayangnya!? demikian pikir saya waktu itu, yang setelah membaca ulang sambil ngopi, barulah saya sadar, bahwa saya telah kena tipu. Jadi pesan moral pada paragraf ini adalah: ?Mengopilah, jika memang kamu tak ingin menjadi korban penipuan, haha? :P?.

?

Bagaimana dengan jiwa yang ada pada karya ATK?

Wainii?!!!

Saya cuma bisa angkat topi tinggi-tinggi bagi karya ini. Jiwa dalam karya ini kuat sekali, menjadikan pembaca yang memang penikmat fiksi langsung mendapat sedihnya, harunya, dan entah akhiran ?nya? apalagi yang lainnya.

Besar dugaan saya, ATK membuat karya ini dengan sekali jadi tanpa editan. Dan setelah setelah karya tersebut selesai, barulah ia fokus bin serius mengeditnya. Coba bandingkan dengan orang yang baru belajar menulis fiksi. Bagaimana tidak akan macet idenya, lha wong baru juga nulis satu kalimat udah langsung diedit ratusan kali, hihihi?^_

Kenapa saya menduga seperti itu? Karena saya teringat ucapan Affandi, salah satu pelukis besar negeri ini. Beliau mengatakan selalu menyelesaikan lukisannya sekali jadi sampai selesai, dan tidak ingin menundanya.

Alasannya tak lain dan tak bukan hanya demi mencurahkan semua emosi yang dimiliki saat menggarap sebuah tema lukisan, yang jika ditunda maka emosi yang ada menjadi berubah dari yang semula.

Akhirnya saya pribadi paham, tentang mengapa karya burukpun berhasil menjadi juara. Dan ini tidak hanya berlaku di even besutan komunitas tersebut saja, melainkan merata pada belahan fiksi serta dunia sastra yang lainnya.

Dari studi kasus even fiksi itulah kemudian saya mendapat cukup banyak amunisi untuk menggarap kasus-kasus yang lainnya, yang tentu saja masih berkaitan dengan dunia perfiksian. Berikut bocorannya, Kawan?^_

?

  • Ingin Mahir Berfiksi? Jangan Pernah Menggunakan Teori Sastra Selain Membuangnya.

Studi kasus berfiksi otodidak ala anak jalanan non sekolahan. Mempreteli segala kelebihan dan kekurangan cara model ini, yang biasanya tidak pernah disadari oleh pelakunya.

?

  • Mengeplak Admin, Merebut Kanal ?Terkomentari?.

Studi kasus even puisi pada komunitas yang berbeda, pembicaraan singkat melalui kolom komen dengan beberapa member. Clue dari artikel ini adalah menormalisasi kekuasaan admin agar tak sehebat ?tuhan? dalam menentukan karya baik dan buruk, tanpa harus melakukan ?canglimen? alias jualan asongan ?kacang-link-permen? pada kolom komen postingan member lain. Efek negatif dari tindakan ini adalah berkurangnya ?ikatan hati? di sesama member, karena hanya mengejar target menebar like sebanyak mungkin ke lapak member lainnya secara kejar setoran, dengan harapan member yang telah dikunjungi tersebut akan balas me-like postingan buatannya, walau hanya sekedar basa-basi kesopanan tanpa sedikitpun membaca isi postingan.

?

Dengan memodifikasi cara ini, diharapkan ke depannya akan muncul gairah sastra melalui pengujian karya di sesama member, yang kelak akan berimbas dengan lahirnya kembali sosok-sosok sastrawan muda dari blog bersama seperti era yang sebelumnya.

?

  • Jangan Bangga Gila Menjadi Admin, Sebelum Paham Apa Fungsi Utama Admin yang Sebenarnya.

Studi kasus terhadap beberapa oknum yang gembelengan petantang-petenteng menyunggi jabatan admin, tanpa mau pa-ham ?(atau ham-pa, seperti kata Inspirator Vera yang suka membolak-balik kata sebagai tesa dan antitesa? :P) apa tugas admin yang paling mendasar.

?

  • Mengkloning Sekar Mayang, Mencetak Stok Editor Komunitas.

Tips n trik memperbanyak jumlah stok editor komunitas tanpa perlu berlelah-lelah makan bangku sekolahan dan belajar materi fiksi hingga sakit gigi. Singkat, padat, muncrat.

?

  • Mengembalikan Keangkeran Komunitas di Era Individual.

Berapa nilai komunitas yang kita ikuti, baik secara moral maupun material??

Alih-alih sekedar menjadi bebek yang selalu mengikuti giringan dari para petinggi, ada baiknya jika kita paham berapa nilai mereka, yang dengannya semoga kitapun menjadi lebih paham akan nilai diri sendiri, dengan paham yang tak sekedar asal paham.

?

  • Perlukah Belajar Sastra demi Menjadi Fiksianer Terbaik di Media Sosial Bersama?

Studi kasus kolaborasi jadul Hilman ?Lupus? Hariwijaya dan Zarra Zattira Zr, teknik pembukaan cerpen ciamik ala Jihad Rajbi, berliris-liris bersama cerpen Presiden Penyair Sutardji Chalzoem Bahri, belajar dari cerpen pilihan Kompas ?D?j? vu, Khatmandu?, dan lain-lain.

?

  • Gagalnya Program Bedah Sastra di Komunitas Fiksi.

Studi kasus program bedah sastra online di panpage Gola Gong dan ?Komunitas Rumah Dunia?nya, hingga akhirnya bergeser untuk fokus kepada pelatihan TeWe berbiaya relatif tinggi, yang belum lama ini kembali dilakukan ulang oleh sebuah komunitas hebat tempat berkumpulnya para sastrawan kawakan, yang saya duga kelak akan berakhir dengan kegagalan yang sama. T_

?

  • Apa yang Dibutuhkan Fiksianer dalam Mendongkrak Karya Fiksi?

Studi kasus Ganito Ibrahim dan Gola Gong, yang dengan sedikit modifikasi niscaya akan langsung menelurkan fiksianer handal jika mereka tak tipis telinga dan mau menerima masukan. Karena yang dibutuhkan fiksianer bukannya pujian kosong semata, melainkan apresiasi tulus pada setiap karyanya.

?

  • Menggugat Guru Besar Kehidupan Sekaligus Penulis Banyak Buku Best Seller Tjiptadinata Effendi, Menghapus Stigma Tentang Tak Bisa Berfiksi.

Tulisan ini rencana awalnya akan dibuat sebagai cersil usil menyentil. Tapi karena saya ijin di kolom komen beliau dan tak ditanggapi, akhirnya batal, dan dirubah menjadi artikel fiksi demi berbagi kepada mereka-mereka yang mengaku tak pandai berfiksi.

?

By the way, jika ada yang berminat memilih artikel mana yang baiknya diposting terlebih dahulu, silakan menitip pesan lewat komentar, yah? #Awas! Paragraf ini mengandung modus! Haha? :P

Kembali ke tema utama. Tak perlu karya ATK jika memang ingin mencari hikmah, karena bahkan hanya dari sempaknya Arke Juragan Sempak yang merupakan anggota Komunitas Planet Kenthir saja akan bisa dicuri beberapa kebaikan.

Penyebabnya sepele saja, yaitu karena sempak Arke, mengingatkan bahwa hidup tak lebih serupa sempak: Pendek dan kotor.

Tugas kitalah yang terus berusaha melakukan yang terbaik sekuat mampu, agar kelak kenangan tentang diri kita di mata generasi penerus, jauh lebih panjang serta lebih bersih? dari sekedar sempak!

Selamat menempuh fiksi baru, Bye-bye from Bay?^_

?

Secangkir Kopi Tentang Even Kepenulisan, ThornVille, Waktu Indonesia Bagian Iseng.

*Link sebelumnya: Membersihkan Lendir-Lendir Sastra di Selangkangan Fiksi